<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ikhlas &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/ikhlas/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ikhlas"</description>
	<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 15:21:30 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Benarkah kita sudah berbuat ikhlas ? ]]></title>
<link>http://abufariq.wordpress.com/?p=14</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 09:23:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>abufariq</dc:creator>
<guid>http://abufariq.wordpress.com/?p=14</guid>
<description><![CDATA[Suatu waktu saya pernah berbincang-bincang dengan rekan-rekan yang &#8220;ceritanya&#8221; tengah me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Suatu waktu saya pernah berbincang-bincang dengan rekan-rekan yang "ceritanya" tengah mengembangkan sebuah bisnis/wirausaha di kota bandung.  Bisnis  yang mereka kembangkan bisa dinilai cukup unik, dari segi namanya saja telah menyisipkan kata "ikhlas" sebagai slogan perusahaan yang mereka jalankan. Sebuah kata yang menurut saya memiliki nilai bobot yang "tidak ringan" dan - menurut saya - sangat sulit untuk di realisasikan. Terutama oleh orang-orang zaman sekarang dengan kualitas keilmuan dan akhlak yang pas-pasan ( contohnya seperti saya tentunya :D )</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sendiri merasa aneh, ketika ditengah cerita justru orang-orang yang menjalankan bisnis "ikhlas" ini ternyata memiliki segudang masalah yang menurut saya bersebrangan dengan hakikat "ikhlas" itu sendiri. Dari alur cerita yang mereka tuturkan seolah - dan mungkin memang benar - ada di antara mereka yang merasa tidak diberikan haknya, ada yang merasa orang lain tidak menjalankan kewajibannya sehingga semua menjadi blunder, rancu, dan acak-acakan. Keluhan-keluhan yang menurut pendapat saya <strong>sangat lucu sekali </strong>jika harus timbul pada sebuah perusahaan yang memiliki slogan "<strong>ikhlas</strong>".</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sendiri ketika ditanya mengenai "saran" saya yang terbaik untuk perusahaan tersebut, secara naluriah dan tanpa pikir panjang dengan entengnya bilang : "Lebih baik ganti saja slogan perusahaannya, jangan pake kata "ikhlas". Karena ikhlas adalah amalan hati. Sangat sulit dicapai dengan kondisi keimanan yang dimiliki oleh orang-orang sekarang. Apalagi - mohon maaf - dipakai pada dunia bisnis zaman <em>ayeuna </em>yang penuh dengan nilai glamour dan materialist."</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih gamblang saya katakan kepada mereka " Ketika kita berbicara pada manusia - saya ikhlas melakukan ini semua - justru  pada saat itu keikhlasan kita patut dipertanyakan"</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini sendiri dibuat bukan dengan tujuan untuk menghakimi siapa yang salah dan siapa yang benar pada perusahaan "ikhlas" tersebut. Melainkan hanya mencoba untuk mengajak kita merenungkan kembali sebuah pertanyaan yang mungkin kadang-kadang terlintas dalam benak kita. " Benarkah kita sudah ikhlas"?</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita renungkan......</p>
<p style="text-align:justify;">Ikhlas kepada Allah Ta’ala maknanya seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan keridhaan-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama.<br />
Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu ; barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan-Ku dengan sesuatu selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya berserta kesyirikan yang diperbuatnya” [1]</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua<br />
Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duaniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah ; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuai neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Hud : 15-16]</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama ; Bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya di puji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadapn dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga<br />
Dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya ; dia berhaji –disamping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji ; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala mengenai para jama’ah haji.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb-mu” [Al-Baqarah : 198]</p>
<p style="text-align:justify;">Jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu. Saya khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina. Maka tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firmanNya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat ; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah” [At-Taubah : 58]</p>
<p>Di dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata : ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana bila ,-penj) seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala” [2]</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula hadits yang terdapat di dalam kitab Ash-Shahihain dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin meraih kehidupan duniawi atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya mendapatkan tujuan dari hijrahnya tersebut” [3]</p>
<p style="text-align:justify;">Jika persentasenya sama saja, tidak ada yang lebih dominan antara niat beribadah dan non ibadah ; maka hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, pendapat yang lebih persis untuk kasus seperti ini adalah sama juga ; tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal karena Allah dan karena selain-Nya juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan antara jenis ini dan jenis sebelumnya (jenis kedua), bahwa tujuan yang bukan untuk beribadah pada jenis sebelumnya terjadi secara otomatis. Jadi, keinginannya tercapai malalui perbuatannya tersebut secara otomatis seakan-akan yang dia inginkan adalah konsekuensi logis dari pekerjaan yang bersifat duniawi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang mengatakan, “Apa standarisasi pada jenis ini sehingga bisa dikatakan bahwa tujuannya yang lebih dominan adalah beribadah atau bukan beribadah?”</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya, standarisasinya bahwa dia tidak memperhatikan hal selain ibadah, maka hal itu tercapai atau tidak tercapai, telah mengindikasikan bahwa yang lebih dominan padanya adalah niat untuk beribadah, demikian pula sebaliknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang jelas perkara yang merupakan ucapan hati amatlah serius dan begitu urgen sekali. Indikasinya, bisa hadi hal itu dapat membuat seorang hamba mencapai tangga ash-Shiddiqin, dan sebaliknya bisa pula mengembalikannya ke derajat yang paling bawah sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian ulama Salaf berkata, “Tidak pernah diriku berjuang melawan sesuatu melebihi perjuangannya melawan (perbuatan) ikhlas”</p>
<p style="text-align:justify;">Kita memohon kepada Allah untuk kami dan anda semua agar dianugrahi niat yang ikhlas dan lurus di dalam beramal.</p>
<p style="text-align:justify;">[Kumpulan Fatwa dan Risalah dari Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 1, hal. 98-100]</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Albalad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]<br />
__________<br />
Foote Note.<br />
[1]. Shahih Muslim, kitab Az-Zuhd (2985)<br />
[2]. Sunan Abu Daud kitab Al-Jihad (2516), Musnad Ahmad, Juz II, hal. 290, 366 tetapi di dalam sanadnya terdapat Yazid bin Mukriz, seorang yang tidak diketahui identitasnya (majhul) ; lihat juga anotasi dari Syaikh Ahmad Syakir terhadap Musnad Ahmad no. 7887<br />
[3]. Shahih Al-Bukhari, kitab Bad’u Al-Wahyi (1), Shahih Muslim, kitab Al-Imarah (1907)</p>
<p style="text-align:justify;"><span class="sociable_tagline"> <strong></strong></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Teladan - 4]]></title>
<link>http://milkyway27.wordpress.com/?p=228</link>
<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 11:30:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>milkyway27</dc:creator>
<guid>http://milkyway27.wordpress.com/?p=228</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Beberapa hari yang lalu, penulis bersolat Zuhr di Masjid UKM. Selepas solat Zuhr, pihak masj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://milkyway27.wordpress.com/files/2008/07/kl-putrajaya_highway.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-232" src="http://milkyway27.wordpress.com/files/2008/07/kl-putrajaya_highway.jpg?w=300" alt="Perjalanan yg jauh memerlukan bekalan yg cukup" width="230" height="170" /></a>"Beberapa hari yang lalu, penulis bersolat Zuhr di Masjid UKM. Selepas solat Zuhr, pihak masjid mengadakan tazkirah Zuhr sementara menunggu ahli jemaah masuk semula ke pejabat. Walaupun tazkirah Zuhr itu hanya berlangsung selama lebih kurang 20 minit tapi ianya memberi kesan sebagai satu peringatan lebih-lebih lagi sebagai pencetus semangat di dalam mengharungi ibadah puasa.<br />
 <br />
Ustaz yang menyampaikan tazkirah pada hari itu memberitahu yang puasa ini ibarat satu 'station' atau tempat perhentian, yang mana kita perlu mengambil seberapa banyak bekalan kerana kita tidak mengetahui sejauh manakah lagi perjalanan yang akan kita tempuh untuk menuju akhirat.<br />
 <a href="http://milkyway27.wordpress.com/files/2008/07/tph-rsa-nb-16.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-234" src="http://milkyway27.wordpress.com/files/2008/07/tph-rsa-nb-16.jpg?w=132" alt="Berhenti makan, minum, rehat, tunai hajat sekejap...lepas tu sambung perjalanan ke destinasi yg nak di tuju." width="132" height="99" /></a><br />
Walaupun kata-kata itu sudah berlalu beberapa hari tetapi ianya masih segar dalam ingatan, begitulah fitrah bila kata-kata yang lahir dari hati yang ikhlas ia akan menusuk masuk ke dalam jiwa pendengarnya.<br />
 <br />
Hari ini sudah hari ke-7 kita berpuasa, ada 22 atau 23 hari lagi yang tinggal untuk kita mengaut bekalan.....bukan bekalan berupa wang berjuta-juta ringgit, harta benda yang banyak, kesenangan hidup di dunia, pangkat yang tinggi, kedudukan yang disanjung orang.....tetapi bekalan untuk kita menempuh perjalanan kita menuju akhirat, tempat tinggal kita yang kekal abadi." Wallahu'alam.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Teladan - 3]]></title>
<link>http://milkyway27.wordpress.com/?p=225</link>
<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 11:17:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>milkyway27</dc:creator>
<guid>http://milkyway27.wordpress.com/?p=225</guid>
<description><![CDATA[Penulis ada membaca sebuah buku terbitan pustaka Al-Mizan (Malaysia) bertajuk POLIGAMI (Mengapa Rasu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis ada membaca sebuah buku terbitan pustaka Al-Mizan (Malaysia) bertajuk POLIGAMI (Mengapa Rasulullah Berbilang Isteri) keluaran tahun 1988. Penulisnya ialah seorang ustazah, pensyarah di PPP-ITM, Shah Alam iaitu Ustazah Norain Ishak. Penulis cukup baik menghuraikan perihal poligami dari sudut sejarah, syarat-syarat, hikmah-hikmah, perkahwinan Rasulullah s.a.w. dan tujuan Rasulullah s.a.w. berpoligami. Pada prinsipnya, beliau menerangkan poligami dari segi kebaikan-kebaikan dan keindahan syari'at islamiah ini. Pada pendapat penulis Inilah contoh seorang Muslimah yang memahami ajaran Islam yang sebenarnya dan mempertahankannya serta sanggup berdepan dengan masyarakat yang selalu melabelkan poligami sebagai sesuatu yang menimbulkan masalah.</p>
<p> <br />
Soalan, berapa ramaikah wanita-wanita Islam yang berpendirian seperti ustazah ini? Wallahu a'lam.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Teladan]]></title>
<link>http://milkyway27.wordpress.com/?p=222</link>
<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 11:09:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>milkyway27</dc:creator>
<guid>http://milkyway27.wordpress.com/?p=222</guid>
<description><![CDATA[Kes 1
Fendy dan Zul ingin mengikuti satu kursus yang dianjurkan oleh
masyarakat setempatnya. Malangn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Calibri;"><a href="http://milkyway27.files.wordpress.com/2008/07/cr15456059.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-244" src="http://milkyway27.wordpress.com/files/2008/07/cr15456059.jpg?w=168" alt="Memang payah sebenarnya nak keluarkan duit poket sendiri kerana nak tolong kawan. Kerja dahlah penat sebab tu pahalanya besar " width="168" height="111" /></a>Kes 1</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Calibri;">Fendy dan Zul ingin mengikuti satu kursus yang dianjurkan oleh<br />
masyarakat setempatnya. Malangnya disebabkan masalah kewangan hasrat<br />
mereka berkubur begitu sahaja. Ahmad mendapat tahu dari rakannya yang<br />
Fendy dan Zul sangat berminat untuk menghadiri kursus tersebut tetapi<br />
tidak kesampaian. Ahmad memberitahu Fendy dan Zul yang beliau sanggup<br />
meminjamkan wang tabungnya bagi membiayai kos kursus mereka.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Calibri;">Kes 2<a href="http://milkyway27.files.wordpress.com/2008/07/perkahwinan1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-247" src="http://milkyway27.wordpress.com/files/2008/07/perkahwinan1.jpg?w=300" alt="Gambar hiasan - pasangan suami-isteri bahagia. &#34;Wahai orang-orang muda! Cepat-cepat lah kahwin kalau mampu - pesanan ringkas dari orang lama bukan tua." width="236" height="143" /></a></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Calibri;">Razuki berhasrat untuk menamatkan zaman bujangnya namun begitu<br />
disebabkan kos perkahwinan agak tinggi beliau terpaksa menangguhkan<br />
hajatnya seketika. Lagipun dia baru saja mendapat pekerjaan selepas<br />
mengikuti kursus ijazah selama 4 tahun lebih. Dia juga risau yang<br />
usianya sudah hampir mencecah 30'an dan juga desakan dari keluarga<br />
untuk melihatnya mendirikan rumahtangga. Tambahan pula Razuki sudah<br />
bersedia untuk menjalani kehidupan sebagai suami-isteri bersama teman<br />
wanita pilihannya. Osman, teman rapat Razuki memberitahu Razuki yang<br />
rakannya, Nasir, boleh memberi pinjaman bagi menampung sebahagian<br />
kos perkahwinannya. Berita itu disambut baik oleh Razuki walaupun<br />
dia tidak mengenali Nasir.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Calibri;">Kes 3</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Calibri;">Zubair dikurniakan Allah Taala kekayaan hasil dari perniagaannya.<br />
Zubair ialah seorang kaya yang dermawan. Ustaz Rashid pergi berjumpa<br />
dengan Zubair untuk meminta sedikit derma bagi pembinaan Masjid di<br />
tempatnya. Zubair memberitahu Ustaz Rashid yang dermanya dikhaskan untuk<br />
orang-orang susah dan kepada pemuda yang belum berkahwin dan<br />
ingin berkahwin tetapi mempunyai masalah kewangan utk menampung kos<br />
perkahwinan yang semakin meningkat. Ustaz Rashid sudah berumahtangga<br />
dan beliau pulang dengan hampa tanpa mendapat satu sen pun dari<br />
Zubair.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Calibri;">Kisah-kisah yang dipaparkan adalah kisah benar walaupun nama-nama yang<br />
digunakan adalah nama samaran. Penulis merasakan nama tidak begitu penting yang penting isinya supaya menjadi teladan kepada kita semua. Dalam kehidupan serba moden ini, ramai yang hanya mementingkan dari aspek materialistik sahaja tanpa mengambil kira aspek pahala. Contoh-contoh yang ditunjukkan oleh<br />
Ahmad, Nasir dan Zubair benar-benar dagang (strange) dalam zaman sekarang yang mana mereka mengenepikan kepentingan diri sendiri dengan membantu rakan-rakan mereka yang sangat-sangat memerlukan.<br />
 <br />
Masih adakah orang-orang seperti Ahmad, Nasir dan Zubair wujud dalam masyarakat sekarang ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Calibri;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencari sisi lain IKHLAS]]></title>
<link>http://limpo50.wordpress.com/?p=190</link>
<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 00:03:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>limpo50</dc:creator>
<guid>http://limpo50.wordpress.com/?p=190</guid>
<description><![CDATA[Ikhlas adalah perbuatan baik yang paling banyak dianjurkan. Mungkin diantara kita memiliki definisi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--more-->Ikhlas adalah perbuatan baik yang paling banyak dianjurkan. Mungkin diantara kita memiliki definisi sendiri yang lebih pragmatik ? bagi saya, Ikhlas juga berarti :</p>
<ul>
<li>Bahagia, melihat orang lain menjadi baik,sukses,senang dari apa yang dapat kita berikan.</li>
</ul>
<p>Apalagi ya???</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Riya' lebih halus daripada rambatan semut]]></title>
<link>http://bapakehasna.wordpress.com/?p=35</link>
<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 06:24:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>bapakehasna</dc:creator>
<guid>http://bapakehasna.wordpress.com/?p=35</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Ibnu Qudamah (Al-Imam Ahmad bin Abdurrahman)
.:  :.
Ketahuilah bahwa kata riya&#8217; itu b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="article-index-title">Penulis: Ibnu Qudamah (Al-Imam Ahmad bin Abdurrahman)</div>
<div>.: <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=228" target="_blank"><img src="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" alt="" /></a> :.</div>
<p>Ketahuilah bahwa kata riya' itu berasal dari kata ru'yah (melihat), sedangkan sum'ah (reputasi) berasal dari kata sami'a (mendengar). Orang yang riya' menginginkan agar orang-orang bisa melihat apa yang dilakukannya.</p>
<p>Riya' itu ada yang tampak dan ada pula yang tersembunyi. Riya' yang tampak ialah yang dibangkitkan amal dan yang dibawanya. Yang sedikit tersembunyi dari itu adalah riya' yang tidak dibangkitkan amal, tetapi amal yang sebenarnya ditujukan bagi Allah menjadi ringan, seperti orang yang biasa tahajud setiap malam dan merasa berat melakukannya, namun kemudian dia menjadi ringan mengerjakannya tatkala ada tamu di rumahnya.</p>
<p>Yang lebih tersembunyi lagi ialah yang tidak berpengaruh terhadap amal dan tidak membuat pelaksanaannya mudah, tetapi sekalipun begitu riya' itu tetap ada di dalam hati. Hal ini tidak bisa diketahui secara pasti kecuali lewat tanda-tanda.</p>
<p>Tanda yang paling jelas adalah, dia merasa senang jika ada orang yang melihat ketaatannya.</p>
<p>Berapa banyak orang yang ikhlas mengerjakan amal secara ikhlas dan tidak bermaksud riya' dan bahkan membencinya. Dengan begitu amalnya menjadi sempurna. Tapi jika ada orang-orang yang melihat dia merasa senang dan bahkan mendorong semangatnya, maka kesenangan ini dinamakan riya' yang tersembunyi. Andaikan orang-orang tidak melihatnya, maka dia tidak merasa senang. Dari sini bisa diketahui bahwa riya' itu tersembunyi di dalam hati, seperti api yang tersembunyi di dalam batu.</p>
<p>Jika orang-orang melihatnya, maka bisa menimbulkan kesenangannya. Kesenangan ini tidak membawanya kepada hal-hal yang dimakruhkan, tapi ia bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untuk menampakkan amalnya, secara tidak langsung maupun secara langsung.</p>
<p>Kesenangan atau riya' ini sangat tersembunyi, hampir tidak mendorongnya untuk mengatakannya, tapi cukup dengan sifat-sifat tertentu, seperti muka pucat, badan kurus, suara parau, bibir kuyu, bekas lelehan air mata dan kurang tidur, yang menunjukkan bahwa dia banyak shalat malam.</p>
<p>Yang lebih tersembunyi lagi ialah menyembunyikan sesuatu tanpa menginginkan untuk diketahui orang lain, tetapi jika bertemu dengan orang-orang, maka dia merasa suka merekalah yang lebih dahulu mengucapkan salam, menerima kedatangannya dengan muka berseri dan rasa hormat, langsung memenuhi segala kebutuhannya, menyuruhnya duduk dan memberinya tempat. Jika mereka tidak berbuat seperti itu, maka ada yang terasa mengganjal di dalam hati.</p>
<p>Orang-orang yang ikhlas senantiasa merasa takut terhadap riya' yang tersembunyi, yaitu yang berusaha mengecoh orang-orang dengan amalnya yang shalih, menjaga apa yang disembunyikannya dengan cara yang lebih ketat daripada orang-orang yang menyembunyikan perbuatan kejinya. Semua itu mereka lakukan karena mengharap agar diberi pahala oleh Allah pada Hari Kiamat.</p>
<p>Noda-noda riya' yang tersembunyi banyak sekali ragamnya, hampir tidak terhitung jumlahnya. Selagi seseorang menyadari darinya yang terbagi antara memperlihatkan ibadahnya kepada orang-orang dan antara tidak memperlihatkannya, maka di sini sudah ada benih-benih riya'. Tapi tidak setiap noda itu menggugurkan pahala dan merusak amal. Masalah ini harus dirinci lagi secara detail.</p>
<p>Telah disebutkan dalam riwayat Muslim, dari hadits Abu Dzarr Radliyallahu Anhu, dia berkata, "Ada orang yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?" Beliau menjawab, "Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia."</p>
<p>Namun jika dia ta'ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya'.</p>
<p>salafy.or.id</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akankah Amalku Di Terima ?]]></title>
<link>http://bapakehasna.wordpress.com/?p=34</link>
<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 06:18:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>bapakehasna</dc:creator>
<guid>http://bapakehasna.wordpress.com/?p=34</guid>
<description><![CDATA[ 
Penulis: Ustadz Abdurrahman Lombok

 Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span class="content"> </span><br />
<span class="tiny">Penulis: Ustadz Abdurrahman Lombok<br />
</span><br />
<span class="content"> Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.</span></p>
<p>Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata'ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?</p>
<p>Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata'ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata'ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:<br />
<em>“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (Al ’Ashr: 1-3)</p>
<p>Sumpah Allah Subhanahuwata'ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata'ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata'ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.</p>
<p>Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan</p>
<p>Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.</p>
<p>Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.</p>
<p>Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.</p>
<p>Allah berfirman di dalam Al Qur’an:<br />
<em> “Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.”</em> (Al Ankabut: 1-3)</p>
<p>Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”</p>
<p>Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:<br />
<em>“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka</em>” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)</p>
<p>Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.</p>
<p>Amal<br />
Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata'ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:<br />
<em> “Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.”</em> (Ali Imran:133)</p>
<p>Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata'ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”</p>
<p>Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata'ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169</p>
<p>Allah berfirman:<br />
<em>“Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan”</em> (Al Baqarah: 148)</p>
<p>Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:<br />
<em>“Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.”</em> (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)</p>
<p>Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170<br />
Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.”</em> (Al Baqarah:153)</p>
<p>Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?</p>
<p>Syarat Diterima Amal<br />
Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata'ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:<br />
Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah Subhanahuwata'ala.<br />
Allah Subhanahuwata'ala berfirman;<br />
Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)</p>
<p>Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:<br />
“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)</p>
<p>Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata'ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala.</p>
<p>Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Beliau bersabda:<br />
“Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)</p>
<p>Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata'ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah r ) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.<br />
Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata'ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.<br />
Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.<br />
Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata'ala berfirman:<br />
“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)</p>
<p>Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata'ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396<br />
Allah Subhanahuwata'ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.<br />
Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah – Muhammadarrasulullah.<br />
Wallahu a’lam.</p>
<p><span class="content"> Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini<br />
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : <strong>www.asysyariah.com</strong></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ARTI SEBUAH NIAT]]></title>
<link>http://bapakehasna.wordpress.com/?p=33</link>
<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 06:16:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>bapakehasna</dc:creator>
<guid>http://bapakehasna.wordpress.com/?p=33</guid>
<description><![CDATA[ 
Penulis: Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari

 Fungsi niat dalam ibadah sangatlah penting. Karena]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span class="content"> </span><br />
<span class="tiny">Penulis: Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari<br />
</span></p>
<p><span class="content"> Fungsi niat dalam ibadah sangatlah penting. Karena itu setiap muslim harus senantiasa memperbaiki niat dalam ibadahnya, yaitu ikhlas untuk Allah semata.</span></p>
<p>Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :<br />
<em>"Amalan-amalan itu hanyalah tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang amalan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tujukan/niatkan".</em></p>
<p>Hadits yang agung di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam beberapa tempat dari kitab shahihnya (hadits no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953) dan Imam Muslim rahimahullah dalam shahihnya (no. 1908).</p>
<p>Berkata Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali tentang hadits ini : "Yahya bin Said Al Anshari bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dari `Alqamah bin Waqqash Al Laitsi, dari Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu. Dan tidak ada jalan lain yang shahih dari hadits ini kecuali jalan ini. Demikian yang dikatakan oleh Ali ibnul Madini dan selainnya”. Berkata Al Khaththabi : "Aku tidak mengetahui adanya perselisihan di kalangan ahli hadits dalam hal ini sementara hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat Abu Said Al Khudri dan selainnya”. Dan dikatakan: Hadits ini diriwayatkan dari jalan yang banyak akan tetapi tidak ada satupun yang shahih dari jalan-jalan tersebut di sisi para huffadz (para penghafal hadits).</p>
<p>Kemudian setelah Yahya bin Said Al Anshari banyak sekali perawi yang meriwayatkan darinya, sampai dikatakan : Telah meriwayatkan dari Yahya Al Anshari lebih dari 200 perawi. Bahkan ada yang mengatakan jumlahnya mencapai 700 rawi, yang terkenal dari mereka di antaranya Malik, Ats Tsauri, Al Auza`i , Ibnul Mubarak, Al Laits bin Sa`ad, Hammad bin Zaid, Syu`bah, Ibnu `Uyainah dan selainnya. .</p>
<p>Ulama bersepakat menshahihkan hadits ini dan menerimanya dengan penerimaan yang baik dan mantap. Imam Bukhari membuka kitab Shahihnya dengan hadits ini dan menempatkannya seperti khutbah/mukaddimah bagi kitab beliau, sebagai isyarat bahwasanya setiap amalan yang tidak ditujukan untuk mendapatkan wajah Allah maka amalan itu batil, tidak akan diperoleh buah/hasilnya di dunia terlebih lagi di akhirat. Karena itulah berkata Abdurrahman bin Mahdi: "Seandainya aku membuat bab-bab dalam sebuah kitab niscaya aku tempatkan pada setiap bab hadits Umar tentang amalan itu dengan niatnya”. Beliau juga mengatakan: "Siapa yang ingin menulis sebuah kitab maka hendaknya ia memulai dengan hadits <em>innamal a'malu binniyah</em>. (Jam`iul `Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 59-60. Muassasah Ar Risalah, cet. Ke-4, th. 1413 H/1993 M)</p>
<p>Hadits ini selain diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan oleh para imam yang lain. Dan komentar tentang hadits ini kami cukupkan dari menukil ucapan Ibnu Rajab Al Hambali di atas karena padanya ada kifayah (kecukupan).</p>
<p>Penjelasan Hadits</p>
<p>Dari hadits di atas kita pahami bahwasanya setiap orang akan memperoleh balasan amalan yang dia lakukan sesuai dengan niatnya. Dalam hal ini telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Setiap amalan yang dilakukan seseorang apakah berupa kebaikan ataupun kejelekan tergantung dengan niatnya. Apabila ia tujukan dengan perbuatan tersebut niatan/maksud yang baik maka ia mendapatkan kebaikan, sebaliknya bila maksudnya jelek maka ia mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan". Beliau juga mengatakan: "Hadits ini mencakup di dalamnya seluruh amalan, yakni setiap amalan harus disertai niat. Dan niat ini yang membedakan antara orang yang beramal karena ingin mendapatkan ridla Allah dan pahala di negeri akhirat dengan orang yang beramal karena ingin dunia apakah berupa harta, kemuliaan, pujian, sanjungan, pengagungan dan selainnya". (Makarimul Akhlaq, hal 26 dan 27)</p>
<p>Di sini kita bisa melihat arti pentingnya niat sebagai ruh amal, inti dan sendinya. Amal menjadi benar karena niat yang benar dan sebaliknya amal jadi rusak karena niat yang rusak.</p>
<p>Dinukilkan dari sebagian salaf ucapan mereka yang bermakna: "Siapa yang senang untuk disempurnakan amalan yang dilakukannya maka hendaklah ia membaikkan niatnya. Karena Allah ta`ala memberi pahala bagi seorang hamba apabila baik niatnya sampaipun satu suapan yang dia berikan (akan diberi pahala)".</p>
<p>Berkata Ibnul Mubarak rahimahullah: "Berapa banyak amalan yang sedikit bisa menjadi besar karena niat dan berapa banyak amalan yang besar bisa bernilai kecil karena niatnya". (Jamiul Ulum wal Hikam, hal. 71)</p>
<p>Perlu diketahui bahwasanya suatu perkara yang sifatnya mubah bisa diberi pahala bagi pelakunya karena niat yang baik. Seperti orang yang makan dan minum dan ia niatkan perbuatan tersebut dalam rangka membantunya untuk taat kepada Allah dan bisa menegakkan ibadah kepada-Nya. Maka dia akan diberi pahala karena niatnya yang baik tersebut. Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan : "Perkara mubah pada diri orang-orang yang khusus dari kalangan muqarrabin (mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah) bisa berubah menjadi ketaatan dan qurubat (perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah) karena niat". (Madarijus Salikin 1/107)</p>
<p>Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim (7/92) ketika menjelaskan hadits:<br />
Dan pada kemaluan salah seorang dari kalian (menggauli istri)  ada sedekah.<br />
Beliau menyatakan: "Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwasanya perkara-perkara mubah bisa menjadi amalan ketaatan dengan niat yang baik. Jima’ (bersetubuh) dengan istri bisa bernilai ibadah apabila seseorang meniatkan untuk menunaikan hak istri dan bergaul dengan cara yang baik terhadapnya sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, atau ia bertujuan untuk mendapatkan anak yang shalih, atau untuk menjaga kehormatan dirinya atau kehormatan istrinya dan untuk mencegah keduanya dari melihat perkara yang haram, atau berfikir kepada perkara haram atau berkeinginan melakukannya dan selainnya dari tujuan-tujuan yang tidak baik".(Syarh Muslim 3/44)</p>
<p>Meluruskan Niat<br />
Seorang hamba harus terus berupaya memperbaiki niatnya dan meluruskannya agar apa yang dia lakukan dapat berbuah kebaikan. Dan perbaikan niat ini perlu mujahadah (kesungguh-sungguhan dengan mencurahkan segala daya upaya). Karena sulitnya meluruskan niat ini sampai-sampai Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata : "Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku". (Hilyatul Auliya 7/5 dan 62)</p>
<p>Dan niat itu harus ditujukan semata untuk Allah, ikhlas karena mengharapkan wajah-Nya yang Mulia. Ibadah tanpa keikhlasan niat maka tertolak sebagaimana bila ibadah itu tidak mencocoki tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Allah ta`ala berfirman tentang ikhlas dalam ibadah ini :</p>
<p><em>Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama bagi-Nya. (Al Bayyinah : 5)</em></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu` Fatawa (10/49) : "Mengikhlaskan agama untuk Allah adalah pokok ajaran agama ini yang Allah tidak menerima selainnya. Dengan ajaran agama inilah Allah mengutus rasul yang pertama sampai rasul yang akhir, yang karenanya Allah menurunkan seluruh kitab. Ikhlas dalam agama merupakan perkara yang disepakati oleh para imam ahlul iman. Dan ia merupakan inti dari dakwah para nabi dan poros Al Qur'an".</p>
<p>Yang perlu diingat bahwasanya niat itu tempatnya di hati sehingga tidak boleh dilafazkan dengan lisan. Bahkan termasuk perbuatan bid``ah bila niat itu dilafazkan.</p>
<p>Pelajaran Yang Dipetik dari Hadits Ini<br />
1. Niat itu termasuk bagian dari iman karena niat termasuk amalan hati.<br />
2. Wajib bagi seorang muslim mengetahui hukum suatu amalan sebelum ia melakukan amalan tersebut, apakah amalan itu disyariatkan atau tidak, apakah hukumnya wajib atau sunnah. Karena di dalam hadits ditunjukkan bahwasanya amalan itu bisa tertolak apabila luput darinya niatan yang disyariatkan.<br />
3. Disyaratkannya niat dalam amalan-amalan ketaatan dan harus dita`yin (ditentukan) yakni bila seseorang ingin shalat maka ia harus menentukan dalam niatnya shalat apa yang akan ia kerjakan apakah shalat sunnah atau shalat wajib, dhuhur, atau ashar, dst. Bila ingin puasa maka ia harus menentukan apakah puasanya itu puasa sunnah, puasa qadha atau yang lainnya.<br />
4. Amal tergantung dari niat, tentang sah tidaknya, sempurna atau kurangnya, taat atau maksiat.<br />
5. Seseorang mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan namun perlu diingat niat yang baik tidaklah merubah perkara mungkar (kejelekan) itu menjadi ma'ruf (kebaikan), dan tidak menjadikan yang bid`ah menjadi sunnah.<br />
6. Wajibnya berhati-hati dari riya, sum`ah (beramal karena ingin didengar orang lain) dan tujuan dunia yang lainnya karena perkara tersebut merusakkan ibadah kepada Allah ta`ala.<br />
7. Hijrah (berpindah) dari negeri kafir ke negeri Islam memiliki keutamaan yang besar dan merupakan ibadah bila diniatkan karena Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Wallahu ta`ala a`lam bishawwab.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sehatnya Qalbu, Lurusnya Amal]]></title>
<link>http://bapakehasna.wordpress.com/?p=32</link>
<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 06:14:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>bapakehasna</dc:creator>
<guid>http://bapakehasna.wordpress.com/?p=32</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar
.:  :.
Kebagusan amalan anggota badan seorang hamba ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="article-index-meta">Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar</div>
<div>.: <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=1179" target="_blank"><img src="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" alt="" /></a> :.</div>
<p>Kebagusan amalan anggota badan seorang hamba tergantung pada kebagusan qalbunya. Apabila qalbunya salim (sehat), tidak ada di dalamnya melainkan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kecintaan kepada apa yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala, takut kepada-Nya, takut terjatuh pada apa yang dibenci oleh-Nya, akan baguslah seluruh amalan anggota badannya. Akan tumbuh pula pada dirinya perasaan untuk menghindarkan diri dari segala perkara yang haram dan syubhat.</p>
<p>Namun apabila qalbunya rusak, dikuasai oleh hawa nafsunya, mencari apa yang diinginkan hawa nafsunya meski dalam perkara yang Allah Subhanahu wa Ta'ala benci, akan rusaklah seluruh amalan anggota badannya. Selain itu, akan menyeret pula kepada segala bentuk kemaksiatan dan syubhat, sesuai dengan kadar penguasaan hawa nafsu terhadap qalbunya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:</p>
<p>أَلاَ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ</p>
<p>“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik, seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52, dan Muslim no. 4070)</p>
<p>Apabila seorang hamba memiliki qalbu yang salim akan muncul darinya amalan-amalan yang shalih dan kesungguhan dalam beramal guna mencapai kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:</p>
<p>وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوْرًا</p>
<p>“Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra`: 19)</p>
<p>Dengan demikian, untuk mendorong dan menumbuhkan amalan-amalan shalih, setiap hamba wajib menjaga qalbunya agar tetap salim (sehat) dan terhindar dari penyakit-penyakit yang merusaknya.</p>
<p>Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yang menentang tauhid, bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang menyelisihi perintah, kelalaian yang menyelisihi dzikir, dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 138)</p>
<p>Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, yang mana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mempersiapkan tempatnya di surga. Berbeda dengan orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang akan membawanya kepada neraka Al-Jahim.</p>
<p>فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى. يَوْمَ يَتَذَكَّرُ اْلإِنْسَانُ مَا سَعَى. وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَرَى. فَأَمَّا مَنْ طَغَى. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوَى. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى</p>
<p>“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 34-41)</p>
<p>Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<p>Dicopy dari:<br />
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#38;id_online=520</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[mengejar cemerlang]]></title>
<link>http://drzeze.wordpress.com/?p=655</link>
<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 01:05:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>drzeze</dc:creator>
<guid>http://drzeze.wordpress.com/?p=655</guid>
<description><![CDATA[11tahun lalu&#8230;&#8230;di bilik Pegawai Kesihatan Daerah.
&#8220;Doktor! bagi tahu saya kenapa sa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>11tahun lalu......di bilik Pegawai Kesihatan Daerah.</p>
<p>"<em>Doktor! bagi tahu saya kenapa saya tak boleh dapat melintang atau menegak kali ini?!!!!!</em>"bentak seorang staff, merinyu kesihatan berwajah garang sambil tangannya menggenggam  menghentak meja mama suatu hari.Wajahnya yang macam watak antagonist filem Tamil tu berpeluh peluh dalam bilik mama yang beraircond tu.Marah benar nampaknya dia.Staff lain yang cuba meninjau dari jauh mama bagi isyarat supaya menjauh..biarkan saja mama berdepan dengannya...</p>
<p>Mama yang taktahu hujung pangkal diterjah staff yang marah marah gitu terpinga pinga heran.</p>
<p>"<em>Kamu duduk dulu. Cerita apa masaalah kamu sebenarnya.Nampaknya ada benda yang membuat kamu marah benar ni"</em> mama cuba mengawal debaran berdepan dengan dia ni yang terkenal dengan sifatnya yang agressif ...mama selalu mendapat aduan dari kawan sejawat tentang salahlakunya dan komplen dari superiornya kerana selalu bertentang pendapat dan melawan arahan.Enggan bertugas bila ada tugas tugas segera seperti mengawal wabak denggi yang memerlukan tindakkan kawalan cepat...tapi mama tahu sebabnya.... dia ada melakukan kerja part-time..menjadi  pemandu kereta tarik dilebuhraya.</p>
<p>Mama biarkan dia bercerita..biarkan dia luahkan apa yang terbuku dihatinya selama ini..biarkan dia dia bercerita tentang rasa takpuashati dan rasa tertindas dari persepsinya.</p>
<p>Rumusannya.... dia ni memang tertekan kerana masaalah kewangan dan dia rasakan dengan mendapat anugerah yang diharapkannya itu dapat menambahkan pendapatannya..ditambah dengan cabaran /sindiran kengkawan yang menambah bara dihatinya hingga dia nekad untuk berdepan dengan mama kali ini...Laporan dan markah SKT yang dinilai oleh Chief IK nya (IK=Inspektor Kesihatan) sebagai penilai pertamanya cukup tidak memuaskan hatinya...Dan dia mengamuk sakan bila namanya tak muncul dalam senarai cemerlang...Puhhhh!...</p>
<p>" S<em>aya dah tak boleh sabar kali ni.Kawan kawan sebaya saya yang lain semua dah dapat.Saya ingat tahun ini saya bleh dapat sebab dah dekat nak pencen tapi IK saya tu memang cari pasal!Saya tau dia tak suka saya..tu pasallah dia bagi markah SKT saya rendah camtu!"</em> nampak benar dia berharap untuk pencen dengan paras gaji yang lebeh baik berbanding dulu....Harapan yang menjadi idaman semua  penjawat awam bila menghantar SKT tahunannya....untuk sekurang kurangnya tersenarai sebagai penerima gaji melintang atau menegak...Cuma ramai yang menyimpan angan angan itu dalam hati tak seagreesif dia untuk mendapatkannya..tapi layakkah dia itu perkara yang berbeza..Dia peduli apa...</p>
<p>Dalam keadaan gini tak guna kita membangkang pendapatnya..yang hanya akan menambah berangnya..nanti takpasal pasal mama yang yang jadi mangsa geramnya.Jadi mama guna kaedah lain..takguna memberi janji palsu..janji nak bagi anugerah tu untuk tahun depan dan tahun berikutnya..</p>
<p>"<em>F...kamu tahun lepas raSanya tak pernah ambik MC kan?Kamu jarang bercuti nampaknya..memang kamu rajin bekerja.</em>" puji mama ikhlas.Mukanya yang marah tadi mula kendur tegangnya.Manusia mana yang tak suka dipuji.Tapi memang betulpun.... dia ni memang begitu cuma tingkahlakunya yang agak agresif dan suka bergaduh fizikal dengan kengkawan itu kurang menyenangkan...ganaznya seperti selalu kita tengok macamana pemandu kereta tarik yang memandu zupp! zappp! melintas ganas atas jalanraya.</p>
<p>"<em>Anak isteri kamu sihat?</em>" angguk dia.Mukanya nampak kembali relaks bersandar dikerusi..Mama puji dia kerana bertanggungjawab jaga keluarga..komited dengan kerja..dan bl..bla..bla...pastu..baru start ...</p>
<p>"<em>Kamu tahu F..  sayapun macam kamu....kalau boleh tiap tiap tahun nak anugerah tu tapi itu anugerah untuk yang terbaik diantara yang cemerlang..toksah kita berharap sangat.Kadang kadang Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita...dia tak bagi dalam bentuk cash tunai macam kita hendak..yang kita nampak.Tapi dia bagi anugerah tu dalam cara lain..Dia sihatkan badan kamu, Dia sihatkan keluarga kamu..dia bahagiakan perasaan kamu..Dia pelihara keselamatan kamu semasa bertugas termasuk semasa kamu memandu laju diatas jalanraya...Itu ANUGERAH yang kita tak perasan...yang tidak kita iktiraf sebagai anugerah.Takguna kalau kamu dapat duit ektra tapi terpaksa bayar itu ini ..bayar kos berubat sebab sakit sentiasa..kereta rosak sentiasa..lagi kamu berkeluh kesah kan?.</em></p>
<p><em>Kerja kamu ni banyak pahalanya jika kamu ikhlas(</em>jangan dok cebik ok=ni realiti<em>)"...tugas kamu sebagai merinyu kesihatan tu menjaga masyarakat supaya sihat.... supaya mereka dapat bekerja untuk menyara keluarga mereka..supaya mereka dapat mengerjakan ibadat ..yang kamu pun dapat tempiasnya juga.Bla..bla..bla..</em>." F terdiam dan kemudian akur dengan kata kata mama.</p>
<p>Harap dia faham dengan apa yang mama nak sampaikan...harap dia tak marah marahkan IKnya dan mama yang tak dapat baginya anugerah tu..Dan mama yakin itu kerana pernah selepas kejadian itu dia laju memintas mama di lebuhraya hingga ke R &#38; R  suatu hari hanya semata mata ingin berterima kasih atas nasihat mama yang membuatkannya lebih tenang dengan kerjanya sekarang.</p>
<p>Ya la kita yang bekerja ni bukannya boleh menunggu surau atau masjid untuk beramal beribadat macam orang lain yang dah pencen tu tapi semasa bekerja ni kita mengutip pahala jika ikhlas kan?????...Tu yang kerja sebagai ibadat..tak yah jenuh kerajaan dok kempem macam macam supaya staff nya komited bila bekerja..supaya menilai setiap waktu yang dibayar gaji tu berbaloi ke dengan tugas/titikpeluh yang kita berikan bukan sebaliknya.Jangan dok demand gaji je tapi banyak habis dengan minum pagi, minum selepas pagi=10pagi, minum petang  dsbnya....</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengejar Surga Menghindari Neraka]]></title>
<link>http://ratnaisnasari.wordpress.com/?p=33</link>
<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 14:21:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ratna Isnasari</dc:creator>
<guid>http://ratnaisnasari.wordpress.com/?p=33</guid>
<description><![CDATA[


Gambaran neraka begitu berbekas dibenakku, apalagi waktu aku masih duduk di SD komik tentang ceri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="entry-content">
<p class="entry-body">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;">Gambaran neraka begitu berbekas dibenakku, apalagi waktu aku masih duduk di SD komik tentang cerita neraka sempat marak beredar dilingkungan rumah dan akupun membacanya.. Wuiihhh.. serem banget dan sanggup membuat aku bergidik. Biarpun itu cuma sebuah komik, dengan coretan gambar sang pengarang yang pas2an (masih kebayang gambarnya nih :)), tapi mempan juga tuh buat nakutin anak-anak seumur aku waktu itu</span><span style="font-size:9pt;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-size:9pt;">Sedangkan gambaran surga kayaknya ngga se-berbekas neraka, sebab gambarnya asik-asik aja, ngga ada sesuatu yang baru dan ngga ada sesuatu yang membuat ‘shock’ juga<em>. </em>Yang jelas, alamaaaak.. sedapnyaa.. Apapun yang kita inginkan langsung tersedia. Terbayang suasana yang damai-tenteram, makanan berlimpah, buah beraneka, air gemercik mengalir menambah rasa sejuk nyaman tiada tara</span><span style="font-size:9pt;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"><span style="font-size:9pt;">Lain lagi dengan gambaran tentang Tuhan, samasekali sukar untuk dibayangkan. Daya pikir ataupun imaginasi manusia tak pernah sanggup untuk menggambarkannya. Waktu kecil, begitu aku ‘diperkenalkan’ dengan Tuhan, bayangan yang muncul di benak adalah bapak-bapak pada tiduran dibalik langit sana sambil ngintip perilaku manusia di bumi.. hehe… tapi itu dulu… Sekarang jelas lah aku mulai paham bahwa kita hanya dapat menumbuhkan rasa akan keberadaan Tuhan lewat pengamatan dan perenungan terhadap berbagai karya besarnya di alam jagad raya ini, dan (umunya) terhadap pengalaman hidup pahit yang kita jalani.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"><span style="font-size:9pt;">Jadi sementara cukup mudah untuk mebayangkan situasi surga dan neraka, Tuhan begitu sulit untuk dibayangkan, apalagi kalau kita terpaku pada harapan dapat membayangkan wujudnya, merasakan kehadirannya secara langsung dan nyata. Maka jelas semua itu sia-sia. Mungkin, itu lah sebabnya akhirnya ada juga orang yang tidak meyakini keberadaan Tuhan. Padahal kalau sampai Tuhan mewujudkan dirinya, apakah manusia akan serta merta mempercayainya bahwa itu ada lah Tuhan?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"><span style="font-size:9pt;">Orang-orang yang percaya lalu berlomba untuk berbuat kebajikan dan menghindar dari keburukan. "Mengejar surga menghindari neraka" jadi pedoman dalam menjalani hidup. Saking fokusnya pada perintah dan larangan maka makna dibalik ketentuan itu pun luput dari pemikiran.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"><span style="font-size:9pt;">Bukan lagi karena rindu akan hati yang damai sehingga ingin selalu dekat denganNya, bukan lagi rasa ikhlas saat bersimpuh dan berserah diri padaNya, tidak lagi menghayati nikmat dan syukur saat kebajikan dilakukan, bahkan 'demi mencapai surga dan terhindar dari neraka' akhirnya sanggup menghilangkan rasa kasih saat melakukan tindak kekerasan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"><span style="font-size:9pt;">Jika demikian ngga usah heran kalau ada orang pergi beribadah haji dengan uang hasil korupsi, lalu ada sekelompok orang yang tak ragu merusak, melakukan kekerasan, bahkan membunuh atas nama jihad, atau ada juga yang memilih berjilbab tapi tak ragu berpegangan tangan dan berpelukan dengan bukan muhrim. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-size:9pt;" lang="SV">Akal dan hati tidak lagi berfungsi selaras. Padahal bukankah Tuhan menganugerahkan semua itu agar manusia berpikir, lalu berusaha menjadi makhluk yang berarti, yang bernilai tinggi, bukan sekedar mengejar surga menghindari neraka. </span></span></p>
<p class="entry-footer"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-size:9pt;">Nana</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="entry-body">
</div>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KETIKA KEINGINAN TIDAK TERPENUHI]]></title>
<link>http://uripsantoso.wordpress.com/?p=178</link>
<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 09:02:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
<guid>http://uripsantoso.wordpress.com/?p=178</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Urip Santoso
	Di  hari minggu yang cerah kami satu RT bersama-sama bersantai ria ke Taman Huta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Urip Santoso<br />
	Di  hari minggu yang cerah kami satu RT bersama-sama bersantai ria ke Taman Hutan Raya (Tahura) Raja Lelo (Bengkulu). Tempatnya tidak terlalu jauh. Tidak seperti piknik yang lain yang biasanya  makanan dan minuman disiapkan oleh panitia, kami menyiapkan makanan masing-masing. Tentu saja beranekalah jenis makanan dan minuman yang kami bawa. Yah, hitung-hitung menerapkan kebinakaan kita sebagai orang Indonesia. Memang RT dimana kami hidup beraneka  terutama dalam suku dan pandangan politik.<!--more--><br />
	Kami tiba di Tahura di pagi yang cerah. Udara disana sejuk karena banyak pepohonan. Tempat dimana kami berpiknik cukup nyaman. Ada beberapa rumah panggung yang merupakan rumah khas orang Bengkulu dan sekitaranya. Rumah panggung itu tidak mempunyai kamar dan juga tidak ada dapur. Hanya ada WC. Maklumlah, rumah panggung itu tidak untuk tempat tinggal, tetapi hanya untuk pertemuan atau rapat. Di sekitar rumah panggung berderet-deret berbagai macam pepohonan. Disini, ditanam berbagai tumbuhan langka dan dilindungi. Di beberapa pohon, dipasang tangga dan beberapa peralatan lain. Memang, tempat ini kadang juga dipakai untuk outbound. Sebenarnya cantik Tahura ini, sayangnya tidak dirawat dengan baik.<br />
	Tibalah saat makan bersama. Kami saling memberi dan menerima. Suatu simbol kebersamaan yang jika dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari alangkah manisnya. Disela-sela makan, kami ngobrol.<br />
	”Wah si A bloon banget, meskipun ia menjabat tapi ia tidak bisa memutuskan siapa yang kan menjadi para pembantunya”, kata temanku.<br />
	”Lho, kok bisa”, aku menyela.<br />
	”Ya, ia takut sama B”, lanjutnya.<br />
	”Ya, wajarlah  B kan tim suksesnya”, kata yang lain<br />
	”Ya harusnya jangan gitu. Itu namanya bloon alias bodoh”, sela temanku.<br />
	”Lha kalau Bapak  menilai bl;oon, mengapa Bapak memilih dia”, omel yang lain.<br />
	”Ya, itu kan politis”, kilah teman saya.<br />
	”Karena  waktu itu Bapak mengharapkan sesuatu kan? Dan sekarang keinginan Bapak tidak terpenuhi. Ya kan?<br />
	Merah padamlah temanku itu dan diam seribu basa.<br />
	Fenomena di atas sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang menjadi tim sukses tentu dengan suatu harapan, jika kelak yang diusung memang ia boleh mengharap sesuatu, apakah itu jabatan, proyek atau yang lainnya. Jika anda seorang anggota senat universitas, ketika anda memilih seseorang mungkin pula anda mempunyai keinginan atau harapan. Keinginan pribadi tentu saja. Mungkin anda juga pernah memuji seseorang, mengagumi seseorang, atau mendambakan seseorang. Anda mungkin mengharapkan seseorang itu melakukan sesuatu sesuai dengan harapan anda.<br />
	Semua harapan itu, ketika tidak terpenuhi anda menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Anda kecewa. Anda benci. Anda mencaci. Anda mengumpat. Dan berbagai  perkataan negatif keluar begitu saja. Bagai air terjun. Mengapa bisa terjadi? Karena anda mempunyai pamrih pribadi. Karena anda mempunyai keinginan. Dalam percaturan kehidupan sehari-hari hal ini sering terjadi. Misalnya, ketika anda jatuh cinta anda begitu kagum padanya, tetapi ketika cinta anda ditolak mungkin saja anda menjadi benci. Keinginan yang tidak tercapai ini akan menimbulkan petaka baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Banyak yang tidak dapat menahan diri. Mereka yang tidak terpenuhi keinginannya menghujat kemana-mana sampai ke media massa. Anehnya, mereka tidak malu. Apa dikiranya masyarakat umum itu bodoh? Apa mereka menganggap masyarakat itu tidak mampu menilai?<br />
	Lalu bagaimana seharusnya kita berperilaku agar kita terhindari dari lingkaran setan itu? Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menanamkan dalam diri kita bahwa perbuatan baik yang kita lakukan itu akan berbuah manis bagi diri kita. Bahwa Allah akan melipatgandakan pahala bagi kita. Jadi, kita harus berusaha ikhlas dalam setiap tindakan kita. Ikhlas bukan berarti tanpa perhitungan. Justru ikhlas harus penuh perhitungan. Contoh, dalam kita memilih seorang pemimpin kita harus berhitung siapa diantara mereka calon yang paling baik. Calon yang akan mampu memimpin. Calon yang akan mampu berdiri tegak di atas semua kepentingan. Calon yang mampu mensejahterakan yang dipimpinnya tanpa membeda-bedakan. Kita pilih yang terbaik diantara yang baik. Jika calon yang dipilihnya menang, ia tidak mengharapkan pamrih pribadi.Pamrih ia adalah pamrih untuk kemajuan bersama, dan untuk menegakkan kebenaran serta menekan kebatilan. Itulah salah satu bentuk keikhlasan.<br />
	Ikhlas mudah diucapkan, mudah ditulis tetapi tidak mudah untuk dikerjakan. Untuk bisa berbuat ikhlas memerlukan latihan. Allah telah melatih kita paling sedikit lima kali dalam sehari melalui sholat yang khusyu. Allah juga selalu melatih kita melalui puasa, zakat dan haji. Semuanya merupakan latihan bagi kita semua untuk menuju ke taqwa. Ya, hanya orang yang bertaqwalah yang mampu ikhlas dalam setiap tindakan, karena mengharap ridlo Allah semata. Bukankah sholat merupakan alat untuk mencegah perbuatan mungkar dan keji. Nah, jika kita sudah sholat tetapi masih berbuat mungkar dan keji maka kita harus bercermin diri, sudahkah sholat kita itu benar? Puasa adalah alat untuk menuju taqwa. Nah, jika setelah puasa kita kembali ke perilaku yang tidak baik, maka kita harus bercermin diri. Jika kita setelah haji, kembali ke perilaku yang tidak baik, saatnya pula bagi kita untuk bercermin diri. </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Senyummu]]></title>
<link>http://ukhtinhez.wordpress.com/?p=5</link>
<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 05:44:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>ukhtinhez</dc:creator>
<guid>http://ukhtinhez.wordpress.com/?p=5</guid>
<description><![CDATA[
Rabu, 11 Juni 2008 
Pukul 23.00 WIB berita itu tiba di telingaku setengah tak sadar aku masih sulit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="bodytext" style="text-align:left;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Rabu, 11 Juni 2008 </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Pukul 23.00 WIB berita itu tiba di telingaku setengah tak sadar aku masih sulit untuk mempercayainya. Saat itu aku berusaha untuk menenangkan diriku dengan terus mengingatNya. Detik demi detik, menit demi menit dan tanpa terasa jam pun telah berlalu tanpa ada kepastianNya. Hatiku semakin kacau....</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Hal itu terus terjadi hingga malam,,,sepanjang hari ini aku kosong,,,pikiranku telah pergi jauh dari ragaku...Sungguh aku tidak sanggup melihatnya,,,</span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;"> aku terus memohon padaNya agar ia memberikan yang terbaik bagi kami semua. Aku berusaha untuk tegar di depan semua orang. Aku menutupi apa yang sedang aku rasakan sendiri. Tapi ternyata bukan aku saja yang melakukan hal itu. Semua...yah,,,mereka semua pun seperti itu. Menutupi kegelisahan, kekacauan dengan tawa renyah yang selalu di pasangkan di wajahnya. Namun pancaran mata itu tidak dapat berdusta. Entah berapa banyak air mata yang tanpa sadar aku keluarkan saat aku menatapnya,, saat aku membisikkan kalimat syahadat padanya,,,saat aku berbicara padanya yang entah apakah ia masih dapat mendengar di sekelilingnya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Kamis, 12 Juni 2008</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Sehari kami menunggu suatu ketidakpastian,,,hingga maghrib pun tiba,,,suasana semakin sepi dan makinlah sepi,,,Masya Allah aku semakin tidak kuat untuk menatapnya. Firasatku semakin kuat,,berulang kali aku mencoba untuk menolak firasat itu,,namun semakin aku tersiksa karena membohongi nurani kusendiri,,Kali ini aku benar-benar tidak dapat membendung air mata yang sudah sekuat tenaga ku tahan agar ia tidak jatuh. Namun ternyata usaha ku itu tidak berhasil,,,airmata ini semakin mengucur deras,,,dan aku tidak bisa mengontrolnya,,,</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Pukul 19.15 WIB. Sakratul maut itu tiba,,,</span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;"> seiring adzan Isya berkumandang. Kami sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalimat-kalimat yang mengagungkanMu pun kami panjatkan tiada henti,,,tuntunan syahadat pun kami ucapkan untuk membantunya melepaskan nafas terakhirnya. Dan,,,saat itu pun telah tiba,,,,</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Saat yang akan dilalui oleh setiap yang bernyawa,,,,,Ia telah menghembuskan nafas terakhirnya,,,Aku tidak dapat menahan ledakan tangisku. Saat itu aku benar-benar rapuh,,,Namun,,,saat kembali kulihat Ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyum penuh kebahagiaan,,akupun tersadar,,,tak seharusnya aku menolak kuasaNya,,,itulah yang memang seharusnya terjadi,,,</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Kakekku telah meninggal dunia pada usianya yang ke 57. Aku akan melewati ramadhan tahun ini tanpa tawa cerianya, tanpa nasehat-nasehat yang selalu ia berikan padaku hingga aku seperti ini,,,Tidak seharusnya aku menyesali kepergiannya,,,Sungguh aku ikhlas menerima ini Ya Rabb,,,karena pasti Kau akan memberikan segala yang terbaik bagi HambaMu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Senyummulah yang dapat menguatkan aku,,,,Senyummu yang dapat meredam tangis yang sudah memuncak,,,Ya Rabb,,,Jadikanlah ini semua sebagai pertanda baik bagi Ia dan juga bagi Kami,,,</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#66cccc;">Ya Rabb, terimalah Ia disisiMu,,,terimalah segala amal baiknya dan ampunilah segala dosa-dosa yang telah Ia perbuat secara sengaja ataupun tidak sengaja.</span></span></p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[masalah]]></title>
<link>http://nengzieee.wordpress.com/?p=19</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 13:19:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>nengzieee</dc:creator>
<guid>http://nengzieee.wordpress.com/?p=19</guid>
<description><![CDATA[mengapa sangat sulit sekali memutuskan sesuatu hal??Qt menginginkan seperti ini, tetapi kenyataan be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>mengapa sangat sulit sekali memutuskan sesuatu hal??Qt menginginkan seperti ini, tetapi kenyataan bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan. tapi walaupun tidak bisa seperti yg Qt harapkan, minimal kenyataan itu merupakan sesuatu hal yg dapat menyelesaikan masalah untuk sekarang, walaupun Qt ketahui bahwa masalah pasti akan selalu datang silih berganti, tetapi Qt harus yakin bahwa Alloh tidak akan mencoba hambanya di luar kemampuannya. itulah yang menjadi pengobat bagi Q, jika Q mengalami banyak masalah yg sulit sekali Q selesaikan. </p>
<p>kadang terpikir Q ingin bukan seperti Q yg sekarang, tetapi Q adalah Q dan Q harus menjalani hidup ini dengan penuh keceriaan dan ketabahan, dan Qt juga harus mensyukuri apa yang diberikan Alloh kepada Qt dengan penuh keikhlasan. y mudah2an hari demi hari ini akan kulalui seperti yang Q tulis dalam tulisan ini. tetap semangat !!!!!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Law of Attraction VS Quantum Ikhlas VS Tebak Skor ]]></title>
<link>http://bayuhebat.wordpress.com/?p=79</link>
<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 00:37:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>BayuHebat</dc:creator>
<guid>http://bayuhebat.wordpress.com/?p=79</guid>
<description><![CDATA[Judulnya seperti menarik hehhe.  Maklum musim bola.
Mari kita mula saja  :D. Perbedaan antara Law of]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Judulnya seperti menarik hehhe.  Maklum musim bola.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita mula saja  :D. Perbedaan antara Law of Attraction ,dipopulerkan oleh Rhonda Byrne dengan <a href="http://thesecret.tv/">the secret</a>, dengan <a href="http://www.quantumikhlas.com/">Quantum Ikhlas</a>, dipopulerkan oleh Erbe  Sentanu, terletak dari fokus penggunaan positive things (gak salah tulis).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada Law of  Attraction berfokus pada kekuatan pikiran, untuk lebih jelas lagi yaitu pada  pikiran alam bawah sadar. 80 % dari apa yang kita lakukan sebenarnya dilakukan  dengan secara tidak sadar. Hal ini terbentuk dari pikiran kita yang konon  katanya terdapat 80.000 pikiran setiap harinya. LoA lebih berfokus pada  reprograming pemikiran. Semakin diulang - ulang suatu pemikiran maka akan  berubah menjadi kebiasaan hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan pada  Quantum Ikhlas lebih difokuskan pada kekuatan hati. Hal ini dikarenakan otak  mempunyai fungsi berpikir sedangkan hati lah yang menentukan. Quantum Ikhlas  sendiri sebenarnya memperbaiki dari LoA the secret. Hal ini sejalan seperti  yang diucapkan oleh <a href="http://www.dahsyat.com/">Tung Desem Waringin</a> dan sedikit diubah oleh saya :D bahwa sebenarnya pikiran itu tidak mempunyai  makna (positive ataupun negative) sampai kita memberikan makna. Hanya saja  pikiran selalu menangkap semua hal melalui kalimat positive (walaupun itu  kalimat negative). Nah makna yang dimaksudkan hanya bisa dirasakan oleh hati  (heart not liver) dari masing - masing orang saja. Suatu kalimat positive  belum tentu positive untuk yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi menurut saya  akan ada perubahan dalam proses penggunaannya:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Buat diri anda menjadi ZMP      (Zero Mind Process). Buat semua pikiran pembatas anda yang memungkinkan      anda untuk tidak bisa maju</li>
<li>Tuliskan permintaan anda atau      cukup anda minta lalu yakini dengan hati anda. Proses ini lumayan rumit      karena anda diharuskan untuk merasakan hati anda apakah permintaan ketika      diucapkan, dipikirkan, dan dirasakan membuat anda lebih baik. Jika      permintaan tersebut membuat anda lebih buruk maka tinggalkan</li>
<li>Percaya bahwa permintaan anda      akan terkabul kalo masih gak percaya ulang langkah dua atau baca <a href="../../../../../2008/02/02/how-bet-you-want-it">ini</a> dan <a href="../../../../../2008/01/18/minta-aja-susahminta-aja-susah/">ini</a></li>
<li>Jika ada tanda atau sinyal      anda harus melakukan sesuatu maka lakukan lah. Semesta menyenangi      kecepatan</li>
<li>Ikhlaskan diri anda terhadap      segala kemungkinan dan hasil. Karena hal ini merupakan wilayah tuhan</li>
<li>Gratitude is everything.      Jangan lupa untuk bersyukur karena mungkin saja permintaan anda sudah      terkabul tapi anda tidak menyadarinya (cerita orang yang meminta aset 200      Juta tidak terkabul padahal rumahnya seharga 200 Juta).</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Hubungan dengan  tebak skor. Sampe saat ini saya menggunakan metode diatas untuk sesuatu hal  yang kecil -kecil cukup manjur untuk dipraktekkan mulai dari TA, Ketemu Temen,  Bahkan menebak marker mobil NFSU yang 10/10 benar semua. Untuk urusan tebak  skor ternyata cukup rumit cuman bisa sekali nebak yang lain salah total.:D.  Ternyata kalo hati sudah tidak ikhlas hasil langsung goyang. Pesan saya untuk  orang - orang diujung sana yang mempergunakan metode yang sama untuk hal - hal  aneh kaya tebak skor dll. Segera tobat ini bukan wilayah manusia (hasil punya  tuhan) plus ketika anda menebak pasti menginginkan untuk terjadi sehingga  ikhlasnya jadi ilang.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diingatkan  kalo kata <a href="http://www.wealthdynamics.org/">Roger Hamilton</a> "kalo perjalanan anda begitu sulit maka anda  berada dijalan yang salah "</p>
<p style="text-align:justify;">Harap diperbaiki  jika ada yang salah. Artikel ini buatan manusia lho :mrgreen:</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikhlasku butuh waktu dan biaya]]></title>
<link>http://ratnaisnasari.wordpress.com/?p=28</link>
<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 11:56:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ratna Isnasari</dc:creator>
<guid>http://ratnaisnasari.wordpress.com/?p=28</guid>
<description><![CDATA[
Berapa tahun lalu aku kehilangan mobil. Kebayang dong rasanya.. Yang sudah pasti adalah marraahh.. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a name="8175587123983015211"></a></p>
<div><span style="font-family:trebuchet ms;">Berapa tahun lalu aku kehilangan mobil. Kebayang dong rasanya.. Yang sudah pasti adalah marraahh.. gerraamm.. sama si maling2 itu. Lalu menyusul rasa-rasa lainnya. Mulai deh.. panik, bingung, nyesel dan makin maarraahh.. Kedepan akan seperti apa? Gimana caranya nganter 3 anak sekolah dan mengurus berbagai hal lainnya... Pikiran jadi kusut banget dan lagi-lagi pengen marraahhh... </span></div>
<div><span style="font-family:trebuchet ms;"><br />
Saking marahnya dan juga berharap mobil bisa kembali, maka diambil deh jalan pintas, ajakan bu RT untuk pergi ke mbah dukun aku ikuti.. hehe.. Suruhan si mbah pun dengan senang hati aku jalanin. Panasin botol berisi cairan cabe sehari 3x dengan niat-niat yang penuh amarah tea.. terbayang di pelupuk mata mereka akan merasakan panasss.. :) terus tahap kedua disuruh bakar semacam kemenyan yang disimpan di botol kecil bergambar tengkorak.., serem sih sebetulnya, banget banget. Tapi berhubung otak lagi ga beres dan dipenuhi rasa marah kesel nyesel.. maka niat penuh amarahpun teteeepp diucapkan sebelum membakar itu sejenis kemenyan :)</span></div>
<div><span style="font-family:trebuchet ms;"><br />
Tiga bulan berlalu.. biaya untuk mbah dukun habis sejuta rupiah, tapi batanghidung mobil tetep tak nampak.. Lama-lama pegel dan capek juga marah terus.. maka amarah pun mulai reda, ditambah mungkin aku sudah mulai bisa menyesuaikan diri dan mengatur waktu dan tata cara bepergian tanpa mobil. Maka akhirnya baru deh aku nyadar kalau kelakuanku itu dodol banget.. haha.. Betapa ekspresi dodol bin kejam keluar lewat niat-niat semoga ini dan itu..terhadap si maling supaya mobil gw balik. Gile dah.. pokoknya..</span></div>
<div><span style="font-family:trebuchet ms;"><br />
Akhirnya kubuang semua tuh peralatan sihir dari mbah dukun. Biarpun katanya doi punya pesantren dan mengurus sejumlah anak yatim, dan paket sejuta itu untuk biaya itu semua serta untuk yang menjalankan doa kepada Yang Maha Kuasa, baru belakangan aku bisa mikir secara waras dan penuh kesadaran kalau itu semua gak sinkron banget sama keyakinan sekalipun doanya itu ditujukan kepadaNya.</span></div>
<div><span style="font-family:trebuchet ms;"><br />
Hati udah ikhlas. Mungkin itu sebabnya. Sungguh aku sudah rela dan ikhlas terhadap mobilku yang hilang. Mau diapain kek sama para maling. Ikhlaass.. no hard feeling okay? hehe.. dan akupun memohon ampunanNya atas kemusrikanku selama ini.</span></div>
<div><span style="font-family:trebuchet ms;"> Enam bulan berlalu. Tiba-tiba seorang polisi datang dan mengabari bahwa mobilku ditemukan.. horee.. Alhamdulillaaahhh... Aku langsung merenung.. betapa nikmatnya rasa ikhlas itu, luar biasa.. Selain no hard feeling, ngga ada beban dan rasa sesak di dada, semua rasanya plong.. eh ada bonusnya pula.. Hmm.. Pasti lah Tuhan tahu kalau aku ikhlas beneran bukan cuma pura-pura ikhlas..</span></div>
<div><span style="font-family:trebuchet ms;"><br />
Dan tidak lama kemudian bu RT yang ngajak aku ke mbah dukun itu datang seraya berkata : "Tuh kaann ketemu juga akhirnya.." Hehe.. bu RT ketinggalan jaman nih... Memang sih aku gak pernah cerita kalau sebetulnya sudah sejak 3 bulan lalu peralatan sihir mbah dukunnya itu aku buang semua karena aku sudah ikhlas se ikhlas-ikhlasnya :)</span></div>
<div>Nana</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IKHLAS &amp; MEMPERBAHARUI NIAT]]></title>
<link>http://pipiew.wordpress.com/?p=215</link>
<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 14:16:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>pipiew</dc:creator>
<guid>http://pipiew.wordpress.com/?p=215</guid>
<description><![CDATA[I. Pengertian Niat
Niat (secara umum) berarti suara / getaran terhadap sesuatu yang dihadapi sesuai ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>I.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>Pengertian Niat</strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0.75in;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Niat</span> </strong>(<em>secara umum</em>) berarti suara / getaran terhadap sesuatu yang dihadapi sesuai dengan keinginan untuk mendapatkan keuntungan atau menghindarkan kerugian.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0.75in;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Niat</span> </strong>(pengertian <em>secara syar’i</em>) adalah keinginan untuk melakukan amal perbuatan karena mengharapka ridho Allah.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>II.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>Dalil – dalil tentang ikhlas</strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Surah Al-Bayyinah ayat 5 (QS. 95 : 5)<a href="http://pipiew.files.wordpress.com/2008/06/bayyinah-98-5.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-217" style="float:right;" src="http://pipiew.wordpress.com/files/2008/06/bayyinah-98-5.jpg" alt="" width="400" height="70" /></a></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right"><!--[if gte vml 1]&#38;gt;                    &#38;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"><em>Artinya</em> :</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gen">Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus<strong><sup>[1595]</sup></strong>, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"><strong><sup>[1595]</sup></strong></span><span class="gensmall"><em>Lurus</em> berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Surah Az-Zumar ayat 11 (QS. 39 : 11)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right"><a href="http://pipiew.files.wordpress.com/2008/06/zumar-39-11.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-218" style="float:right;" src="http://pipiew.wordpress.com/files/2008/06/zumar-39-11.jpg" alt="" width="373" height="39" /></a></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"><em>Artinya</em> :</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen">Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.</span><!--more--></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>III.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>Kedudukan</strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Niat menentukan diterima atau tidaknya amal seseorang.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Niat akan menentukan balasan yang Allah berikan kepada seseorang.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Untuk membedakan antara ibadah dengan bukan bukan ibadah.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Untuk membedakan satu ibadah dengan ibadah lainnya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>IV.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong>Urgensi memperbaharui niat</strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0.75in;">Yang dapat menyebabkan niat bergeser antara lain :</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Keinginan berhenti dari suatu amal perbuatan</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Bergeser dari keinginan semula karena pengaruh bermacam – macam kebutuhan</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Munculnya keragu – raguan terhadap suatu amal perbuatan</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>V.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>Cara untuk mencapai keikhlasan</strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Memahami bahwa keikhlasan itu penting.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">Surah Al-Mulk ayat 12 (QS. 67 : 12)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right"><a href="http://pipiew.files.wordpress.com/2008/06/al-mulk-67-12.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-219" style="float:right;" src="http://pipiew.wordpress.com/files/2008/06/al-mulk-67-12.jpg" alt="" width="400" height="36" /></a></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"><em>Artinya</em> :</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gen">Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">Surah Ar-Rad ayat 21 (QS. 13 : 21)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right"><a href="http://pipiew.files.wordpress.com/2008/06/ar-rad-21.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-220" style="float:right;" src="http://pipiew.wordpress.com/files/2008/06/ar-rad-21.jpg" alt="" width="400" height="67" /></a></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"><em>Artinya</em> :</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gen">Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Tidak takut kepada siapapun kecuali Allah.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">Surah Al-Baqarah ayat 150 (QS. 2 : 5)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right"><a href="http://pipiew.files.wordpress.com/2008/06/al-baqarah-150.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-221" style="float:right;" src="http://pipiew.wordpress.com/files/2008/06/al-baqarah-150.jpg" alt="" width="400" height="142" /></a></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"><em>Artinya</em> :</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gen">Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Berjuang sekuat – kuatnya demi ridho Allah</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">Surah Al-Maaidah ayat 48 ( QS. 5 : 48 )</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right"><a href="http://pipiew.files.wordpress.com/2008/06/al-maidah-48.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-222" style="float:right;" src="http://pipiew.wordpress.com/files/2008/06/al-maidah-48.jpg" alt="" width="400" height="214" /></a></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"><em>Artinya</em> :</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gen">Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian<strong><sup>[421]</sup></strong> terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu<strong><sup>[422]</sup></strong>, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gensmall"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;">[421]</span>. Maksudnya: Al Quran adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gensmall"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[422]</span>. Maksudnya: umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>5.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Mengharapkan balasan hanya dari Allah</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">Surah An-Nahl ayat 97 (QS. 16 : 97)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><a href="http://pipiew.files.wordpress.com/2008/06/an-nahl-97.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-223" style="float:right;" src="http://pipiew.wordpress.com/files/2008/06/an-nahl-97.jpg" alt="" width="400" height="75" /></a></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"><em>Artinya</em> :</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen">Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik<strong><sup>[839]</sup></strong> dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gen"><strong><sup>[839]</sup></strong></span><span class="gensmall">. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>6.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Menguatkan hati nurani</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>7.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Memahami bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">Surah Al-Anbiyaa’ ayat 34-35 (QS. 21 : 34-35)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><a href="http://pipiew.files.wordpress.com/2008/06/al-anbiyaa-34.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-224" style="float:right;" src="http://pipiew.wordpress.com/files/2008/06/al-anbiyaa-34.jpg" alt="" width="400" height="39" /></a><a href="http://pipiew.files.wordpress.com/2008/06/al-anbiyaa-35.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-225" style="float:right;" src="http://pipiew.wordpress.com/files/2008/06/al-anbiyaa-35.jpg" alt="" width="400" height="74" /></a></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right"><!--[if gte vml 1]&#38;gt;  &#38;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:right;" align="right">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;"><span class="gen"><em>Artinya</em> :</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gen">Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span class="gen">Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.</span></p>
<pre style="text-align:right;"><em>from de 6th Liqo</em></pre>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menghargai Sebuah Proses]]></title>
<link>http://isnaweblog.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 14:38:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>isnaweblog</dc:creator>
<guid>http://isnaweblog.wordpress.com/?p=3</guid>
<description><![CDATA[Ingatan itu seakan menghentakkanku. Kembali sebuah kesadaran muncul.
Ibaratnya seorang ibu, yang ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ingatan itu seakan menghentakkanku. Kembali sebuah kesadaran muncul.</p>
<p>Ibaratnya seorang ibu, yang berlari ke sana kemari, menggendong anaknya yang sudah terkulai lemas.  Anaknya yang sakit telah dibawa ke tabib, ke puskesmas, bahkan ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Sudah tak kurang upaya yang dilakukan oleh si ibu itu. Dan bibir pun tak pernah henti komat kamit berdoa. Setiap detik setiap waktu, dalam hening sujud panjang di keheningan malam sekali pun. Memohon sebuah kesembuhan.</p>
<p>Dan kini, sang buah hati baru saja masuk ruang operasi. Ditangan para dokter bedah dan tim, sebuah upaya telah dilakukan untuk mempertahankan kebidupan sang buah hati.</p>
<p>Demikianlah.... sekali lagi manusia hanya bisa berupaya. Sekuat apa pun daya upaya yang dilakukan, semua itu tak akan mengubah ketentuan-Nya. Anak adalah amanah, adalah titipan, tidak pernah benar-benar kita miliki. Semua yang ada pada kita adalah amanah, sedang bagaimana kita memperlakukan amanah itu adalah proses.</p>
<p>Kadagkala kita ingin buah hati kita sesuai harapan kita, tetap bersama kita, namun siapa yang akan tau apa yang kan terjadi begitu dokter bedah keluar dari ruang operasi? Wallohu`alam bishowab.  Ketika sang buah hati kembali ke pelukan, barangkali rasa syukur kita yang akan membuncah, namun, bila sang buah hati diminta oleh sang pemilik jgad raya, bisakah kita menyambutnya sebagai anugerah? Semua adalah milik Alloh, dan akan kembali kepada Alloh.</p>
<p>Setidaknya ada satu hal yang tidak perlu kita sesali, bahwa kita telah berupaya semaksimal mungkin, berupaya dengan sepenuh hati kita, melakukan hal terbaik yang bisa kita berikan, di sini yang terpeting bagaimana kita menghargai setiap proses yang kita lalui. sedangkan hasil dari upaya kita adalah urusan Alloh. Sebuah nilai ihtiar, doa, tawakal dan ikhlas akan selalu beriring d setiap langkah seorang muslim, dengan mendapatkan bimbingan dari Alloh. Alangkah indahnya menjadi seorang muslim, semua diniatkan untuk Alloh, di jalan Alloh, dan semua akan dikembalikan kepada Alloh....</p>
<p>Rabbi.... seandainya inginku atas amanah dari-MU layak dalam genggamanku, perkenankanlah hamba menjadikan semua ini sebagai ladang ibadah bagi hamba. Namun bila semua ini telah menjadi kehendak-Mu, perkenankanlah hamba untuk menjadi orang yang ihklas, mulia di sisi-Mu. Amin.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[postinganyangpenuhmetafora]]></title>
<link>http://thegreatamanda.wordpress.com/?p=42</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 11:35:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>thegreatamanda</dc:creator>
<guid>http://thegreatamanda.wordpress.com/?p=42</guid>
<description><![CDATA[&gt;.&lt;
satu kali lagi makhluk ini melakukan kesalahan bodoh.  
Ya, kesalahan bodoh yang bikin sy ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>&#62;.&#60;</p>
<p>satu kali lagi makhluk ini melakukan kesalahan bodoh. ;-)</p>
<p>Ya, kesalahan bodoh yang bikin sy bergumam 'begini ini kalo anak kecil dikasih amanah yang aneh-aneh..'</p>
<p>Sebuah gumaman yang akhirnya terketik pas lagi chat sama seorang teman, dan beliaupun berkata:</p>
<p>'ya ngga apa-apa, kalo ngga belajar nanti ngga gede-gede, hehehe'</p>
<p>dan saya menjawabnya dengan jawaban standar:</p>
<p>'yayaya...'</p>
<p>begitulah.. :D</p>
<p>setelah kejadian ini, jadi ingat salah satu postingan seorang teman. Ini semua merupakan qadarallah.</p>
<p>Insya Allah ada hikmahnya. Lagi di-private kayanya sama Allah &#62;.&#60;"</p>
<p>ikhlas.. ikhlas.. ikhlas..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[anger management...]]></title>
<link>http://dh33pra.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 01:26:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>dhika</dc:creator>
<guid>http://dh33pra.wordpress.com/?p=3</guid>
<description><![CDATA[mmm,,,,anger management ya?&#8230;terdengar kya judul film..hehehehe&#8230;the truth is, sebenernya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>mmm,,,,anger management ya?...terdengar kya judul film..hehehehe...the truth is, sebenernya rada terinspirasi ko ama film itu,,,karna,akhir2 ini,aku ngerasa,bahwa rasa marah,muak,egois,dan lain-lainnya yang dibilang orang itu "gak boleh punya sifat kya gitu" tengah merasuki (cieh,,,,bahasanya,,) hidupku. Gak gampang yah, ternyata untuk me"manage" rasa marah tuh...malahan, untuk memanage rasa ikhlas aja pun susah loo...</p>
<p>Pernah liat di tv, tentang acara rohani gitu, bahwa ternyata, susah loh untuk ikhlas tuh, gak semudah yang kita pikirin...coba deh, pernah gak, misalnyaaa....kamu sedang makan dikaki lima, dan tiba2 ada seorang pengemis,ibu2 tua (nenek malahan,,,) gendong anak bayi,,,dan wajah bayinya kucel abis,,,pas,mu nyari duit buat ngasi, eeehhh ternyata gak ada duit kecil,paling kecilpun seribu,,,bisa gak yah,,kita mengikhlaskan duit seribu itu untuk mereka??...</p>
<p>mungkin,kamu bakal bilang 'ikhlas lah'...tapi...do u...really,really ikhlas??...hehehehehhe...dan tambahannya lagi,mnurut acara di tv itu bilang, 'hati2 loh dengan "rasa mampu" kamu dengan memberi duit ke yang lebih membutuhkan tuh bisa mengarah kepada rasa "tinggi hati"...dan seremnya adalah, bila rasa itu muncul dikiiit aja,dikiiiiiit bangeeeett, udah bisa merubah hasil pahala yang kamu terimaaa.,,,,,jadi guys,bener deh kata pujangga (halah,,,) "nila setitik akan merusak susu sebelangga"</p>
<p>back to my anger "life" management...</p>
<p>sbnernya, perasaanku saat ini sich lagi gak "anger" cumaaa...kmaren2 tuh,,,sumpah deh, my"anger" is difficult to control,,,ugh..susah banget,,,stelah melewati fase itulah,baru aku merasa ada yang lainnn...tapi...bukan berarti aku orangnya emosian looh...just wanna share,,,gpp kan?...hew3...mungkin aja ada yang "anger" nya perlu dimanage....hew3... :D</p>
<p>gmana yah, cara memanage nya? itu pertanyaanku,,,malahan pertanyaan ini ampe aku tanya ke banyak orang dan ampe nyari di internet,,,heheheheh..ternyata gampang aja tuh jawabannya,,,jawabannya tuh rasa ikhlas!..loh kok bisa?...emang ternyata bisa ko,,,karena dengan rasa ikhlas,,,kamu tuh bakal ngerasa gak punya beban yang terlalu banyak...</p>
<p>misalnya aja, aku pernah ngalamin hari yang dari pagi ampe malem sangat miserable,,,dari tugas berantakan, salah jadwal, kena ulat bulu (dan gatel2 gitu di beberapa tempat ampe sekarang...hiks...) ampe yang terakhir..hape ku rusak,,,haduh...ini yang terparah...jujur, pengennya marah2, tapi...dipikir2 mu gmana lagi,,,udah terjadi ko,,,gak bisa diulang...tapi..."<strong>bisa diperbaiki</strong>". Yup! aku coba mengurutkan,,,satu persatu kejadian yang terjadii...misalnya,,,tugas berantakan,,,(mmm,,,coba aku ngerjainnya lebih awal)..trus..salah jadwal,,,(hati2...ternyata jadwal bisa berubah,,,tpi kalo pas kejadian ini untung,karan jadwalku jadi lebih siang,,,heheheh...tapi yang bikin nyebelinnya tuh,aku bgn kesiangan, dan mesti cepet2 kekampus,takut telat...tapi,,ternyata...hiks,,) trus2,,,kena ulat bulu (anggap aja,,,penebus dosa yang banyak ama Yang Di Atas....amin,,,aku diingatkan bahwa,aku tuh bukan sapa2 tanpa Dia,,,) last...hape rusak...(ampe sekarang lum nyala...) mungkin,,,peringatan juga dari Yang Di Atas,,,bahwa..aku sering berbuat keburukan dengan hape ini,,,</p>
<p>daaaannnn,,,,tanpa terasaa...haduh,...legaaaa gituuuu kalo kamu ikhlasss,,,</p>
<p>jadi....let's be 'ikhlas'.. :)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perenungan Seorang Pekerja – Part 1]]></title>
<link>http://angkatanenambeacukai.wordpress.com/?p=86</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 00:51:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>angkatanenambeacukai</dc:creator>
<guid>http://angkatanenambeacukai.wordpress.com/?p=86</guid>
<description><![CDATA[
 

: By Poeg
(Cerita ini hanyalah fiksi dan bukan merupakan kejadian nyata)
 
Ini adalah perenungan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://angkatanenambeacukai.wordpress.com/files/2008/06/pray2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-90" src="http://angkatanenambeacukai.wordpress.com/files/2008/06/pray2.jpg" alt="" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">: By Poeg</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">(<em>Cerita ini hanyalah fiksi dan bukan merupakan kejadian nyata</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Ini adalah perenungan saya akhir-akhir ini.<span> </span>Bukan karena ada kaitannya dengan peristiwa jumat kelabu. Tapi perenungan ini mulai coba saya renungkan dari perjalanan pekerjaan seorang teman saya, <span> </span>ditambah pengamatan terhadap pekerja lain dan beberapa artikel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Teman saya ini adalah adik kelas saya. Saya tidak perlu menjelaskan apakah dia lulusan stan, prodip atau dari sarjana, yang penting dia lebih muda dibandingkan saya dan bekerja di Departemen Keuangan. Dulu teman saya menganggap dirinya sebagai orang bertipe pekerja (atau orang bilang si semut hitam), yang akan terus bekerja dengan keras. </span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Ketika mulai bekerja di kantor ini, saya amati teman saya tersebut bekerja sangat keras sehingga banyak sekali pekerjaan yang ditimpakan pada dia dan dapat diselesaikan dengan baik. Ketika saya tanya pada dia, jawab dia sungguh membuat saya tercengang. ”Saya anggap ini adalah <strong>”berkah”</strong>, karena saya banyak ingin berbuat sesuatu kepada institusi ini (atau kalau boleh dibilang <strong>”negara ini” </strong>walaupun sepertinya berlebihan - red)”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Bahkan ketika ada seorang atasan yang memberikan uang -yang menurut saya ala kadarnya-, teman saya tersebut merasa ...... wah ..... besar banget penghargaan yang diberikan boss. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tapi berlanjut dengan berubahnya waktu ..... makin lama teman saya mulai berpikir ..... kok yang diberikan negara kepadanya kurang banget. Dihitung dari jumlah jam kerja yang dipakai dengan penghasilan yang dia terima kok sangat mencolok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span lang="SV">Bullshit lah </span></em></strong><span lang="SV">apa yang dikatakan Presiden Amerika itu, begitu kesah teman saya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Mulailah dia berpikir tentang <strong>”kebaikan-kebaikan”</strong> yang telah dia berikan kepada negara. Berapa banyak tagihan yang disumbangkannya ke negara ...... berapa banyak tenaga dan waktu diluar jam dinasnya yang tergadaikan ....... berapa banyak waktu istri dan anak-anaknya yang terabaikan........ Bahkan ketika anaknya masuk rumah sakit dia harus terus berkutat dengan pekerjaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Seolah dia adalah seorang <strong>”Superman”</strong> yang hanya melayani untuk menolong manusia yang lain dari berbagai macam kesulitan tanpa memperhatikan si Lana - pacarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span lang="SV"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span lang="SV">Jangkrik ..... </span></em></strong><strong><span lang="SV"><span> </span></span></strong><span lang="SV"><span> </span>dia mengumpat, ”kayaknya saya udah mulai dikerjain negara nich”, keluh dia (tapi.. kadang saya juga berpikir apakah dia dikerjain atasannya ???????? – red.).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tapi ketika dia bertanya kepada saya, balik saya bertanya kepadanya .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Lho ..! terus dulu kamu kerja itu tujuannya untuk apa ????? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Apa kerja untuk cari rejeki ???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Apa kerja untuk cari sensasi ???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Apa kerja untuk cari promosi ???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Apa kerja untuk cari mutasi ???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Apalagi ketika ada remunerasi .........</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Soalnya teman saya itu yang pontang-panting ngurusin besarnya jumlah remunerasi, bagaimana bisa dapat diterima. </span><span lang="SV">Menyiapkan bahan presentasi dan <em>uba rampe</em>-nya. Saya bisa paham kerja keras dia yang harus berjuang di Departemen dan ditempat-tempat lain dengan biaya yang terkadang harus dia tanggung sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span lang="SV">Jang.............kkkk</span></em></strong><span lang="SV">. <span> </span>Kembali teman saya itu berkesah kepada saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">”Kita yang mengusulkan kenaikan remunerasi, kok nilai tunjangan saya paling rendah. </span><span lang="FI">Udah kerjaan paling banyak ..... Lihat yang lain santai-santai saja tapi dengan grade yang lebih tinggi <span> </span>plus promosi lagi ..... <strong>kepala panas nih”</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Udah gitu ada pejabat yang bilang ...... Ngapain kerja di ...... (ini saya sensor sendiri – red), tunjangannya sama aja. Padahal kita udah mati-matian ngajukan kenaikan tunjangan lebih tinggi 40 s.d. 60% untuk pelaksana dibandingkan kantor lain ...... ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Memang sih, kalau mau diamati tunjangan rekan saya yang lain di kantor ..... (kembali lagi sensor oleh red.) tersebut pada grade 10 hanya terpaut kurang lebih 500 ribu dibandingkan tunjangan saya pada grade 14. Apalagi kalo dibandingkan dengan teman saya di grade yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Ketika dia berkesah lagi (saya tidak pernah menyebut berkeluh lho – red.) Saya ulangi lagi pertanyaan saya dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Lho ..! terus dulu kamu kerja itu tujuannya untuk apa ????? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Apa kerja untuk cari rejeki ???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Apa kerja untuk cari sensasi ???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Apa kerja untuk cari promosi ???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Apa kerja untuk cari mutasi ???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Walaupun ketika untuk mengucapkan yang kedua kali, saya agak berpikir ulang karena saya pikir teman saya itu telah banyak didholimi oleh lingkungan kerjanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Akhirnya dalam perenungan seorang pekerja – <em>part 1</em> ini, saya berpikir berulang dan berulang lagi.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Terkadang sisi perenungan <strong>”kemanusiaan”</strong> saya yang muncul namun terkadang kerap kali sisi <strong>”kesetanan” </strong>yang muncul.<span> </span>Memang jarang sekali sisi <strong>”keikhlasan atau kemalaikatan” </strong>yang timbul. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Sesekali tersadar pesan Dr ’Aidh al-Qarni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Pikirkan dan syukurilah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Yang lalu biar berlalu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Jangan mengharap terima kasih dari seseorang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Berbuat baik terhadap orang lain, melapangkan dada</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Bersama kesulitan ada kemudahan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Ganti itu dari Allah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Sabar itu indah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span lang="FI"><span>-<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="FI">Dan yang paling mengena untuk saat ini adalah <strong>”terimalah setiap pemberian Allah dengan rela hati, niscaya anda menjadi manusia paling kaya”</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Semoga teman saya menjadi manusia yang paling kaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="FI"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="FI"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="FI"><span> </span>(to be continued)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IKHLAS DAN NIAT DALAM SEGALA PERILAKU KEHIDUPAN]]></title>
<link>http://riyadushshalihin.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 03:52:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Riyadushshalihin</dc:creator>
<guid>http://riyadushshalihin.wordpress.com/?p=9</guid>
<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman: ”Padalah mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Allah Ta’ala berfirman: ”Padalah mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itu agama yang yang lurus.” <span> </span><strong>(QS. Al Bayyinah: 5)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Allah Ta’ala berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaanlah yang dapat mencapainya.”(<strong>QS. Al Hajj: 37)</strong></span><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Allah Ta’ala berfirman: ”Katakanlah, jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya.” <strong>(QS. Ali Imran: 29)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:288pt;text-align:right;" align="right"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdull Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al-Qurasyiy Al-Adawiy ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda: ”Setiap amal disertai dengan niat. Setiap amal seseorang tergantung dengan apa yang diniatkanya. Karena itu, siapa saja yang hijrahnya (dari Mekkah ke Madinah) karena Allah dan Rasul-Nya (melakukan hijrah demi mengagungkan dan melaksanakan perintah Allah dan utusan-Nya), maka hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya (diterima dan diridhai Allah). Tetapi siapa saja yang melakukan hijrah demi kepentingan dunia yang akan diperolehnya, atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuanya (tidak diterima oleh Allah).” <strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Ada sekelompok pasukan yang akan menyerang Ka’bah, namun ketika mereka sampai di tanah lapang, maka mereka dibinasakan daru muka sampai yang paling belakang. Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka dibinasakan dari depan sampai yang belakang, padahal di antara mereka ada orang yang berbelanja serta ada pula orang yang bukan dari golongan mereka?” Beliau menjawab: “Mereka dibinasakan dari depan sampai yang paling akhir, kemudian mereka akan dibangkitakan sesuai niatnya masing-masing.” <strong>(HR.Bukhari dan Muslim)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari Aisyah ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Tidak ada hijrah lagi setelah dibukanya kota Makkah, tetapi yang ada adalah jihad (berjuang di jalan Allah) dan niat untuk selalu berbuat baik. Oleh karena itu, jika kalian dipanggil untuk berjuang, maka berangkatlah!”<span> </span><strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari Abu Abdillah jabir bin Abdillah Al-Anshariy ra., ia berkata<strong>: </strong>Kami bersama Nabi saw. dalam salah satu peperangan, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang, apabila kalian menempuh perjalanan atau menyeberangi lembah, mereka senantiasa mengikuti, sedangkan yang menghalangi mereka hanyalah sakit.” Dalam salah satu riwayatdisebutkan, Rasulullah bersabda: “Melainkan mereka selalu menyertai kalian di dalam mencari pahala.” <strong>(HR. Muslim)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari Anas ra. ia berkata: Kami bersama-sama dengan Nabi saw. kembali dari peperangan Tabuk, kemudian beliau menjelaska: “Sesungguhnya masih ada beberapa kaum atau orang yang kami tinggalkan di Madinah, mereka senantiasa menyertai kita, baik sewaktu keluar masuk pedusunan maupun sewaktu menyeberangi lembah yang menghalangi mereka hanya uzur.” <strong>(HR. Bukhari)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas ra. berkata: “Ayahku Yazid biasa mengeluarkan beberapa dinar untuk disedekahkan, dan dipercayakan kepada seseorang di masjid untuk membaginya. Kemudian aku pergi ke masjid untuk meminta dinar itu, dan menunjukkan kepada ayahku, lalu ayahku berkata: “Demi Allah, dinar itu tidak aku sediakan untukmu.” Peristiwa itu kemudian aku sampaikan kepada Rasulullah saw., maka beliau bersabda: “Bagimu apa yang kamu niatkanhai Yazid, dan bagimu apa yang kamu ambil hai Ma’an.” <strong>(HR Bukhari)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari Abu Ishaq Sa’ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al-Qurasyiy Az-Zuhriy ra. (beliau salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga), ia berkata: “Rasulullah saw. menjenguk saya ketika haji wada, karena sakit keras, kemudian saya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakit saya sangat keras sebagaimana yang engkau lihat, sedangkan saya mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah saya sedekahkan duapertiga dari harta saya itu?” Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Saya bertanya lagi: “Bagaimana kalau sep