<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>fatawa &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/fatawa/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "fatawa"</description>
	<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 19:25:03 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Membentengi Diri dari Sihir]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=715</link>
<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 20:31:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.de.wordpress.com/2008/10/12/membentengi-diri-dari-sihir/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullaah
Saya seorang ibu rumah tangg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><i>Oleh: Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullaah</i></p>
<p align="justify">Saya seorang ibu rumah tangga yang telah menjalani pernikahan selama 17 tahun, dan telah dikaruniai  6 anak. Selama 17 tahun berumah tangga, hanya 5 tahun saya hidup bahagia. Selebihnya, saya jadi benci kepada suami saya. Saya tidak suka dia berhubungan dengan saya sebagaimana hubungan suami istri. Saya merasa tidak sanggup tidur bersamanya. Saya mengira semua ini karena pengaruh sihir, maka untuk menanggulanginya saya pergi ke tukang sihir dan “orang tua pintar”.</p>
<p align="justify">Mereka memberi saya beberapa jimat, namun saya tidak mendapatkan manfaat apapun darinya. Sebenarnya saya tidak percaya dengan seorangpun dari mereka. Saya juga pergi ke para dokter ahli jiwa (psikiater), namun juga tidak mendapat faedah apa-apa. Saya menginginkan suamiku dan tidak menginginkan  seorangpun selainnya. Namun rumah tangga saya hampir hancur. Apa yang harus saya lakukan  -semoga Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> memberkahi anda-?<!--more--></p>
<p align="justify"><i>Samahatusy</i> Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <i>rahimahullaah</i> menjawab dengan cukup panjang sebagai berikut:</p>
<p align="justify">Penyakit yang datang belakangan itu memang bisa jadi karena pengaruh sihir. Bisa jadi pula pengaruh <i>‘ain</i>1 (mata), atau yang dinamakan orang dengan <i>nazhlah</i> dan <i>nafs</i>. Mungkin juga karena penyakit lain yang menyebabkan timbulnya hal tersebut.</p>
<p align="justify">Dalam ajaran Islam, tidak diperkenankan mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal serta bertanya kepada mereka. Jadi, perbuatan anda mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal merupakan perkara yang tidak diperbolehkan. Anda benar-benar telah berbuat salah. Anda harus bertaubat kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>. Karena Rasulullah <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> telah bersabda:</p>
<p align="right"><b>مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً</b></p>
<p align="justify"><i>“Siapa yang mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.”</i> (<b>HR. Muslim</b> dalam <b>Shahih</b>-nya)</p>
<p align="justify"><i>‘Arraf</i> adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara-perkara (ghaib), dengan bantuan jin, dengan cara gaib atau tersembunyi. Orang seperti ini tidak boleh dijadikan tempat bertanya (ketika ada masalah) dan tidak boleh dibenarkan, karena Nabi <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda:</p>
<p align="right"><b>مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أ�نْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ</b></p>
<p align="justify"><i>“Siapa yang mendatangi ‘arraf atau kahin (dukun) lalu ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka orang itu telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”</i></p>
<p align="justify">Maka tidak boleh mendatangi <i>kahin</i> (dukun), tidak pula tukang sihir, serta bertanya kepada mereka. Namun, anda bisa berobat kepada <i>tabib</i> (dokter) yang <i>ma’ruf</i> (dikenal) yang bisa jadi mengetahui obat apa yang dikenal bisa menyembuhkan perkara-perkara tersebut, baik berupa suntikan, pil, atau yang lainnya. Atau anda bisa mendatangi seorang pembaca Al-Qur’an atau seorang wanita shalihah yang akan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an (pada tangannya) lalu meniup-niupnya (dan diusapkan) kepada anda.</p>
<p align="justify">Tentunya meminta bantuan kepada wanita shalihah untuk mengobati anda lebih diutamakan (karena kalian sama-sama wanita) daripada memintanya kepada seorang lelaki. Semoga dengannya Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menghilangkan pengaruh <i>‘ain</i> atau sihir tersebut. Kalau terpaksa berobat kepada seorang lelaki, maka  jangan sampai terjadi <i>khalwat</i> (berdua-duaan dengannya). Anda harus disertai orang lain, baik ibu anda, saudara laki-laki anda, ayah anda atau semisal mereka. Orang itu cukup membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan anda mendengarkannya.</p>
<p align="justify">Mungkin pula pengobatan dengan cara menyediakan air dalam wadah, lalu dibacakan padanya surat Al-Fatihah, ayat Kursi, <b>ayat-ayat yang berbicara tentang sihir dalam surat Al-A’raf (ayat 117-122, -<i>pent</i>.), surat Yunus (ayat 81-82, -<i>pent</i>.), dan surat Thaha (ayat 69, -<i>pent</i>.). Juga membaca surat Al-Kafirun, Al-Ikhlas, dan Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas)</b>. Dibacakan pula di air tersebut doa-doa seperti:</p>
<p align="right"><b>اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا<br />
بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ<br />
</b></p>
<p align="justify"><i>“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan/penyakit ini, sembuhkanlah. Sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dengan kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.</i></p>
<p align="justify"><i>Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakiti/mengganggumu, dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang hasad, semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.”</i></p>
<p align="justify">Doa ini dibaca tiga kali, karena doa ini <i>tsabit</i> (pasti datangnya) dari Nabi <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> (sebagaimana termuat dalam <b>Ash-Shahihah</b>, -<i>pent</i>.)</p>
<p align="justify">Bila orang yang mengobati anda telah melakukan hal di atas, maka sebagian air itu anda minum, sisanya untuk membasuh tubuh anda. Pengobatan seperti ini mujarab untuk menyembuhkan pengaruh sihir dengan izin Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>. Demikian pula untuk mengobati seorang suami yang tercegah (tidak dapat) untuk menggauli istrinya. Juga untuk pengobatan <i>‘ain</i>, karena <i>‘ain</i> itu diobati dengan <i>ruqyah</i> sebagaimana Nabi <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda:</p>
<p align="right"><b>لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ</b></p>
<p align="justify"><i>“Tidak ada pengobatan dengan ruqyah (yang paling tampak hasilnya/mujarab, -pent.) kecuali dari pengaruh ‘ain atau sengatan binatang berbisa.”</i></p>
<p align="justify">Pengobatan seperti di atas merupakan faktor-faktor kesembuhan yang terkadang Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menjadikannya bermanfaat.</p>
<p align="justify">Bisa pula pengobatan dengan cara mencampur air dengan tujuh daun <i>sidr</i> (bidara) hijau yang telah ditumbuk, lalu dibacakan bacaan-bacaan yang telah disebutkan di atas. Pengobatan seperti ini terkadang Allâh <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> jadikan bermanfaat. Dan kami telah melakukannya untuk mengobati banyak orang, Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> pun menjadikannya bermanfaat. Cara ini disebutkan oleh ulama, di antaranya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh penulis kitab <b>Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid</b>. Beliau sebutkan dalam bab <i>Ma Ja’a fin Nusyrah</i>. Bila anda memiliki kitabnya, silahkan menelaahnya. Atau tanyakan kepada orang-orang yang berilmu dien, mereka <i>insya’ Allah Subhanahu wa Ta’ala</i> akan menunaikan apa yang pantas.</p>
<p align="justify">Adapun kepada tukang sihir, <i>kahin</i> dan <i>‘arraf</i>, janganlah anda bertanya dan membenarkan mereka. Hendaknya anda menemui orang-orang yang berilmu haq dan para pembaca Al-Qur’an yang dikenal dengan kebaikan, sehingga mereka mengobati anda dengan bacaan-bacaan <i>ruqyah</i>. Atau anda mendatangi wanita-wanita shalihah dari kalangan pengajar/guru agama dan selain mereka yang dikenal dengan kebaikan. Semoga Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menganugerahkan kesembuhan dan kesehatan kepada anda dengan sebab-sebab tersebut.</p>
<p align="justify">Termasuk perkara yang sepantasnya anda amalkan adalah berdoa. Anda mohon kepada Allah <i>‘Azza wa Jalla</i> agar menghilangkan gangguan yang menimpa anda, karena Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menyukai bila diajukan permintaan pada-Nya. Dia telah berfirman:</p>
<p align="right"><b>وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ</b></p>
<p align="justify"><i>“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.”</i> (<b>Ghafir: 60</b>)</p>
<p align="right"><b>وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ</b></p>
<p align="justify"><i>“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.”</i> (<b>Al-Baqarah: 186</b>)</p>
<p align="justify">Sepantasnya anda mohon kesehatan dan kesembuhan kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>. Demikian pula suami anda, ayah dan ibu anda, karena seorang mukmin itu seharusnya mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Doa itu senjata orang mukmin, dan Allah <i>‘Azza wa Jalla</i> sendiri telah menjanjikan untuk mengabulkan doa. Maka anda harus bersungguh-sungguh dan jujur dalam doa anda, semoga Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menganugerahi kesembuhan.</p>
<p align="justify">Selain itu, aku nasehatkan agar menjelang tidur, anda menggabungkan dua telapak tangan anda, lalu meniupnya dengan sedikit meludah dengan membacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, tiga kali. Setelahnya dengan kedua telapak tangan tersebut anda mengusap kepala, wajah dan dada (berikut apa yang bisa dicapai oleh kedua telapak tangan dari bagian tubuh, -<i>pent</i>.), dilakukan sebanyak tiga kali. Perbuatan seperti ini termasuk sebab kesembuhan.</p>
<p align="justify">Rasulullah <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> sendiri melakukannya saat menjelang tidur dan ketika sakit, sebagaimana disebutkan dalam berita yang shahih dari ‘Aisyah <i>radhiyallaahu ‘anhaa</i> (dan ketika sakitnya bertambah parah, beliau memerintahkan ‘Aisyah agar melakukannya untuk beliau2, -<i>pent</i>.).</p>
<p align="justify"><b>Footnote:</b></p>
<p align="justify">1 Lihat pembahasan <i>‘ain</i> dalam rubrik Permata Hati, Majalah Syariah Vol. I/No. 04/Desember 2003/Syawwal 1424H.<br />
2 Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam <b>Shahih</b> keduanya</p>
<p align="right"><i>(Dinukil dari Majalah Asy Syariah, Vol. II/No. 24/1427H/2006, judul: Membentengi Diri dari Sihir,  kategori: Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 91-93. Dicopy dari http://ulamasunnah.wordpress.com)</i></p>
<p align="justify"><b>Artikel terkait:</b></p>
<p align="justify"><a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/11/berawal-dari-pandangan-mata">Berawal dari Pandangan Mata</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/04/21/hukum-jimat-bertuliskan-ayat-alquran">Hukum Jimat Bertuliskan Ayat Al-Qur’ân</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/03/30/jimat-benarkah-dalam-agama">Jimat, Benarkah dalam Agama?</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/04/22/adakah-jimat-dalam-islam">Adakah Jimat dalam Islam?</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/12/serpihan-serpihan-syirik-jimat-dan-jampi-jampi">Serpihan-Serpihan Syirik: Jimat dan Jampi-Jampi</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/03/31/awas-dukun-dan-tukang-ramal-penciduk-agama-dan-harta">Awas, Dukun dan Tukang Ramal Penciduk Agama dan Harta!</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/03/31/dukun-dan-tukang-ramal-penciduk-agama-dan-harta">Dukun dan Tukang Ramal, Penciduk Agama dan Harta</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/13/bolehkah-meminta-bantuan-jin">Bolehkah Meminta Bantuan Jin?</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/22/astrologi-dalam-islam">Astrologi dalam Islam</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/02/19/tauhid-uluhiyyah-inti-ibadah">Tauhid Uluhiyyah, Inti Ibadah</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bersegeralah Mengqadha Puasa Ramadhan sebelum Puasa 6 Hari Bulan Syawal]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=645</link>
<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 05:07:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.de.wordpress.com/2008/10/04/bersegeralah-mengqadha-puasa-ramadhan-sebelum-puasa-6-hari-bulan-syawal/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Asy-Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Azîz bin &#8216;Abdillâh bin Bâz rahimahullâh
Syaikh Bin Ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><i>Oleh: Asy-Syaikh 'Abdul 'Azîz bin 'Abdillâh bin Bâz ra<u>h</u>imahullâh</i></p>
<p align="justify">Syaikh Bin Baz ditanya:</p>
<p align="justify">Saya tidak mampu puasa bulan Ramadhan disebabkan nifas, dan saya suci pada hari-hari ‘ied. Sedangkan saya memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan puasa 6 hari bulan Syawal, maka apakah saya boleh melakukan puasa Syawwâl itu, kemudian saya mengqadha puasa Ramadhan atau tidak? Berilah penjelasan, semoga Allah memberi taufik dan kebaikan terhadap Anda.<!--more--></p>
<p align="justify">Maka beliau menjawab:</p>
<p align="justify">Ya, disyariatkan engkau mendahulukan mengqadha puasa Ramadhan, karena sabda Nabi <i>shallallaahu 'alaihi wa sallam</i>:</p>
<p align="right"><b>مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ اتَّبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</b></p>
<p align="justify"><i>"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutkan puasa 6 hari bulan Syawwal, maka dia seperti puasa sepanjang masa."</i> (Dikeluarkan oleh Muslim dalam <b>Shahih</b>-nya)</p>
<p align="justify">Maka beliau <i>shallallaahu 'alaihi wa sallam</i> menjelaskan bahwa puasa 6 hari dilakukan setelah puasa Ramadhân. Dengan demikian <b>seseorang wajib bersegera mengqadha puasanya, walaupun dia tidak dapat meraih puasa 6 hari tersebut karena hadits yang telah disebutkan itu dan karena hukum yang wajib didahulukan atas yang sunnah</b>. Allah-lah pemberi taufik.</p>
<p align="justify"><i>(Dinukil dari <b>فتاوى المرأة المسلمة كل ما يهم المرأة المسلمة في شؤون دينها ودنياها</b> (Wanita Bertanya Ulama Menjawab, Kumpulan Fatwa tentang Wanita I), hal. 206-207, penyusun: Abu Malik Muhammad bin Hamid bin ‘Abdul Wahhab, penerjemah: Abu Najiyah Muhaimin, Penerbit: Penerbit An Najiyah Surakarta, cet. ke-1 Muharram 1427H/Februari 2006M. Dicopy dari http://akhwat.web.id)</i></p>
<p align="justify"><b>Artikel terkait:</b></p>
<p align="justify"><a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=383">Hukum dalam Puasa Sunnah 6 Hari Bulan Syawal</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/10/08/membayar-hutang-puasa-qadha-sesegera-mungkin">Membayar Hutang Puasa (Qadha') Sesegera Mungkin</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/09/15/sahur-dan-berbuka">Sahur dan Berbuka</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fatwa Jihad Syaikh bin Baz ]]></title>
<link>http://abahzacky.wordpress.com/?p=436</link>
<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 11:19:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abah Zacky as-Samarani</dc:creator>
<guid>http://abahzacky.de.wordpress.com/2008/09/29/fatwa-jihad-syaikh-bin-baz/</guid>
<description><![CDATA[Apakah Memerangi Pemerintah Irak termasuk Jihad fi Sabilillah
Sumber http://www.binbaz.org.sa/index.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Memerangi Pemerintah Irak termasuk Jihad fi Sabilillah<br />
Sumber http://www.binbaz.org.sa/index.php?pg=mat&#38;type=fatawa&#38;id=257  </p>
<blockquote><p>Pertanyaan:<br />
Banyak orang yang merasa ragu, bahwa memerangi Saddam Husein termasuk Jihad fi sabilillah. Mereka beranggapan bahwa jihad tersebut hanya untuk mendapatkan keuntungan materi, minyak, atau kekuasaan secara geografi semata. Andaikata kaum muslimin memerangi Yahudi maka tidak akan ada Negara yang memperselisihkan, karena Yahudi telah mendzalimi dan melakukan pelanggaran di bumi umat Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah Irak, Saddam. Bersama dengan hal ini pemerintah tidak memberikan hak kepada mereka yang berhak sejak 40 tahun yang lalu hingga sekarang. Kami berharap Antum berkenan untuk menjelaskan persoalan ini.</p></blockquote>
<p><!--more--></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Yahudi memiliki kondisi yang lain, mereka telah melampaui batas dengan menguasai tanah Palestina. Maka wajib bagi kaum muslimin berjihad memerangi mereka, sehingga bisa mengeluarkan mereka dari negeri palestina. Dan hingga saudara-saudara kita di Palestina mendapat kemenangan atas Yahudi, sehingga mereka bisa menegakkan negeri Islam mereka di atas bumi mereka. Ini tidak ragu lagi kewajibannya atas negeri-negeri Islam, sesuai dengan kemampuannya.</p>
<p>Tetapi tidak boleh melakukan invasi karena hal ini. Tidak adanya negara Islam yang menunaikan kewajiban jihad kepada yahudi saat ini, jihad yang langsung, tidak berarti membolehkan Saddam untuk memerangi kaum muslimin di jazirah Arab, termasuk mencaplok Kuwait atau negara lainnya. Dan juga tidak berarti boleh bagi seseorang muslim untuk mendukung aksi Saddam. Juga tidak boleh sebuah negeri Islam untuk diam melihat aksi permusuhan dan kedhaliman ini. Sebaliknya, mereka berkewajiban untuk mencegah permusuhan dan menghilangkan kedhaliman yang menimpa kaum muslimin dengan sekuat tenaga, berdasarkan kepada firman Allah berikut</p>
<p>{وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ}  سورة الأنفال الآية 39.</p>
<p>Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan. 9al-Anfal:39)</p>
<p>{وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ} سورة الحجرات الآية 9.. </p>
<p>Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia Telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (al-Hujurat:9)</p>
<p>Apabila memerangi umat mukmin yang melakukan bughat hukumnya wajib sehingga mereka kembali kepada aturan llah, dan mereka berheti dari kedhalimannya, maka memerangi kelompok kafir yang memberontak seperti saddam dan pengikutnya dari partai ba’ats lebih utama, sehingga mereka kembali kepada kebenaran, dan mereka berhenti dari kedhalimannya. </p>
<p>Berdasarkan penjelasan di atas, maka memerangi yahudi adalah urusan lain, dan kewajibannya adalah kewajiban tersendiri. Adapun memerangi kaum yang berbuat dhalim terhadap Kuwait  adalah tindakan permusuhan tersendiri yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk membebaskan negeri tersebut dan mencegah kedhaliman. Jihad melawan yahudi di paletina tidak boleh melalaikan kaum muslimin dari jihad melawan saddam yang lebih kufur dan lebih sesat dari Yahudi dan nasrani, sehingga meninggalkan sebagian kaum muslimin dalam kedhalimannya. Terlebih saddam telah melakukan pelanggaran terhadap negeri kaum yang beriman, kemudian merencanakan berbagai pendudukan terhadap berbagai negeri di wilayah Teluk. Niat buruknya itu telah sama-sama diketahui, kejahatannya juga telah dikenal, dan peperangannya telah jelas.</p>
<p>Apabila tekat itu telah bulat, dan semoga Allah memberi petunjuk dan pertolongan kepada mereka dalam memerangi Saddam dan pasukannya. Dan dalam rangka menghalang-halanginya dari sikap permusuhannya, dan menyelamatkan Kuwait dari kejahatannya. Jika mereka sudah mampu, insya Allah, mereka pun nanti akan berjihad melawan yahudi, danmenyelamatkan al-Quds dari tangan kotor mereka. Tetapi itu adalah jihad yang lain lagi, kewajiban yang lain lagi. Sama halnya kewajiban kaum muslimin untuk berjihad kepada kaum kafirin selain yahudi, jika mereka mampu melakkan hal itu sehingga mereka masuk ke dalam agama Allah secara berbondong=bondong, atau mereka membayar jizyah, sebagaimana firman Allah</p>
<p>وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ سورة البقرة الآية 193.</p>
<p>193.  Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (al-Baqarah:193)</p>
<p>قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ سورة التوبة الآية 29.</p>
<p>Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (at-Taubah:29) </p>
<p>Kaum muslimin berkewajiban untuk memerangi seluruh kaum kafir, sehingga agama ini menjadi milik Allah, kecuali terhadap kaum ahlul jizyah yang bersedia membayar jizyah. Jika mereka dalam keadaan lemah, maka mereka tidak bisa disalahkan apabila mereka memerangi kaum yang melanggar hak-hak mereka, berdasarkan firman Allah</p>
<p>{فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ} سورة التغابن الآية 16.</p>
<p>Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu  (at-taghabun:16)</p>
<p>Kaum yahudi telah melakukan tindakan pelanggaran di palestina, maka kaum muslimin wajib berperang bersama-sama warga palestina untuk melawan mereka. Sedangkan Saddam telah melakukan pelanggaran di Kuwait, dan mengerahkan pasukan yang mengarah ke Saudi dengan membawa permusuhan baru dari orang yang dhalim yang lebih kufur dari pada kaum yahudi dan Nashrani, wal ‘iyadzu billah. Maka wajib hukumnya menghalang-halangi tindakan Saddam dan memeranginya, sebab kaum komunis dan pengikut Ba’ts lebih kufur dari ahli kitab. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari kejahatan mereka semua. </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah Sah Shalat Wanita dengan Memakai Niqab dan Kaos Tangan?]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/2008/09/29/apakah-sah-shalat-wanita-dengan-memakai-niqab-dan-kaos-tangan/</link>
<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 21:28:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.de.wordpress.com/2008/09/29/apakah-sah-shalat-wanita-dengan-memakai-niqab-dan-kaos-tangan/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin
Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin ditanya:
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><i>Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin</i></p>
<p align="justify">Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin ditanya:</p>
<p align="justify">Apakah wanita boleh melakukan shalat dalam keadaan memakai kaos tangan tanpa ada laki-laki yang bukan mahramnya hadir di sisinya?<!--more--></p>
<p align="justify">Maka beliau menjawab:</p>
<p align="justify">Kaos tangan adalah pakaian tangan dan wanita haram memakainya ketika ihram, karena Nabi -<i>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</i>- bersabda:</p>
<p align="right">لا تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلا تَلْبَسُ الْقَفَازِيْنَ</p>
<p align="justify"><i>"Wanita yang ihram tidak memakai niqab (tutup muka) dan tidak memakai kaos tangan."</i></p>
<p align="justify">Maka wanita diharamkan memakai kaos tangan ini ketika dalam ihram. Tetapi ketika ia tidak ihram atau shalat dan di sekitarnya tidak ada laki-laki yang bukan mahramnya maka yang lebih utama dia melepaskannya dari tangannya supaya dia dapat menyentuhkan langsung kedua tangannya di tempat shalat.</p>
<p align="justify"><b>Sepantasnya pula ketika di sekitarnya adalah laki-laki agar dia menutup wajahnya dari mereka, lalu ketika dia sujud hendaknya membuka wajahnya karena seseorang sujud di atas sesuatu yang bersambung dengan dirinya seperti pakaian dan kerudung wanita dimakruhkan kecuali karena ada hajat.</b> Dalilnya adalah perkataan Anas bin Malik -<i>radhiyallâhu ‘anhu</i>-:</p>
<p align="right">كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ، فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمْكِنَ جَبْهَتُهُ مِنَ الأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ</p>
<p align="justify"><i>"Kami shalat bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi sangat panas. Jika salah seorang dari kami tidak mampu menempelkan dahinya di atas tanah, maka ia membentangkan pakaiannya lalu sujud di atasnya."</i></p>
<p align="justify">Perkataan: "Jika salah seorang dari kami tidak mampu menempelkan dahinya di atas tanah", menunjukkan bahwa hal ini tidak dilakukan kecuali darurat.</p>
<p align="justify"><i>(Dinukil dari <b>فتاوى المرأة المسلمة كل ما يهم المرأة المسلمة في شؤون دينها ودنياها</b> (Wanita Bertanya Ulama Menjawab, Kumpulan Fatwa tentang Wanita I), hal. 157-158, penyusun: Abu Malik Muhammad bin Hamid bin ‘Abdul Wahhab, penerjemah: Abu Najiyah Muhaimin, Penerbit: Penerbit An Najiyah Surakarta, cet. ke-1 Muharram 1427H/Februari 2006M. Dicopy dari http://akhwat.web.id)</i></p>
<p align="justify"><b>Artikel terkait:</b></p>
<p align="justify"><a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/14/pakaian-wanita-dalam-shalat">Pakaian Wanita dalam Shalat</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/09/11/shalatnya-wanita-di-masjid">Shalatnya Wanita di Masjid</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/11/batasan-aurat-wanita-muslimah">Batasan Aurat Wanita Muslimah</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/10/batasan-melihat-wanita-bukan-mahram">Batasan Melihat Wanita Bukan Mahram</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/12/hukum-membuka-hijab-di-hadapan-waria">Hukum Membuka Hijab di Hadapan Waria</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/05/12/wanita-non-muslimah-memandang-wanita-muslimah">Wanita Non Muslimah Memandang Wanita Muslimah</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tidak Ada Shalat ‘Ied di Perjalanan]]></title>
<link>http://mardee19.wordpress.com/?p=96</link>
<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 08:26:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>mardee</dc:creator>
<guid>http://mardee19.de.wordpress.com/2008/09/28/tidak-ada-shalat-%e2%80%98ied-di-perjalanan/</guid>
<description><![CDATA[Tidak disyariatkan shalat ‘Ied di tengah perjalanan. Sebab, tidak pernah ada  riwayat yang dinukil]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak disyariatkan shalat ‘Ied di tengah perjalanan. Sebab, tidak pernah ada  riwayat yang dinukil menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,  dengan banyaknya perjalanan dan ekspedisi yang beliau lakukan, mengerjakan atau  menyuruh mengerjakan shalat ‘Ied di perjalanan. Dan inilah yang menjadi pendapat  Abu Hanifah, Malik dan Ahmad di dalam dua riwayat yang paling  jelas.</p>
<p>Asy-Syafi’i dan Ahmad mengatakan dalam riwayat kedua darinya :  “Disyaratkan iqamah (berada di kampungnya sendiri) dalam shalat Jum’at dan tidak  pada shalat Ied”</p>
<p>Sedangkan paham Azh-Zhahiriyyah menyebutkan : “Tidak  disyaratkan iqamah, baik dalam shalat Jum’at maupun shalat ‘Ied.</p>
<p>Ibnu  Taimiyah Rahimahullah mengatakan : “Yang benar dan tidak diragukan lagi adalah  pendapat yang pertama” [Majmu Al-Fataawa (XXIV/178)]</p>
<p>Dapat saya katakan : “Jika seorang musafir  berada di luar negerinya, maka dia harus mengerjakan shalat ‘Ied bersama  penduduk negeri tersebut, karena seluruh kaum muslimin, laki-laki maupun  perempuan, mereka ikut menyaksikan shalat ‘ied bersama Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam tanpa adanya perbedaan sama sekali’[Majmu Al-Fataawa (XXXIV/182-183)] Wallahu a’lam</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HUKUM PENISBATAN DIRI KEPADA ATSAR]]></title>
<link>http://abdulloh.wordpress.com/?p=179</link>
<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 14:14:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
<guid>http://abdulloh.de.wordpress.com/2008/09/20/hukum-penisbatan-diri-kepada-atsar/</guid>
<description><![CDATA[HUKUM PENISBATAN DIRI KEPADA ATSAR

Oleh:
Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari

]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="font-size:small;color:#ff0000;">HUKUM PENISBATAN DIRI KEPADA ATSAR<br />
</span><br />
Oleh:<br />
Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari</strong>
</p>
<p align="justify">Segala puji bagi Allah dan sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarga, sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau. Sebagian ikhwan telah bertanya kepadaku -semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada mereka- tentang hukum penisbatan diri kepada Sunnah atau Atsar? Semua itu dikarenakan adanya ucapan dari ahli ilmu yang dipahami melarang akan hal tersebut. Maka saya katakan -dengan memohon taufik dari Allah-:</p>
<p align="justify">Sesungguhnya penisbatan kepada Atsar merupakan penisbatan yang sudah ada sejak zaman dahulu (suatu hal yang telah turun temurun/warisan) diterima oleh kalangan ahli ilmu.</p>
<p align="justify">Berkata As-Sam’ani (meninggal tahun 562H) dalam kitabnya Al-Ansab 1/136 : <em>Penisbatan kepada Atsar yaitu hadits dan mencari ilmu hadits serta mengikuti hadits.</em><!--more--></p>
<p align="justify">Dan bait syair pertama di dalam Al-Alfiyah Al-Haditsiyyah yang telah masyhur oleh Al-Hafidh Al-Iraqi (meninggal tahun 806H), beliau berkata : Abdurrahim bin Al-Husain Al-Atsari yang mengharap (ampunan) Rabbnya yang Maha Kuasa berkata : Al-Hafidh As-Sakhowi (meninggal tahun 902H) mensyarah bait atas dalam kitab Fathul Mughits 1/3 dengan perkataan beliau : <em>Penisbatan kepada Atsar, para ulama menisbatkan diri mereka kepadanya dan sebagian mereka yang mengarang kitab dalam bidang tersebut telah menisbatkan kepadanya dengan baik</em>. <em>Apabila kalian tidak bisa persis seperti mereka, maka samailah mereka, sesungguhnya menyamai orang yang mulia merupakan suatu keberuntungan.</em></p>
<p align="justify">Jika seandainya penisbatan kepada madzhab-madzhab atau profesi atau negara atau gelar-gelar diperbolehkan, maka penisbatan kepada Sunnah dan hadits serta Atsar lebih utama untuk diterima. Syaikh kami Al-Albani rahimahullahu menyindir sebagian penuntut ilmu, yang menyelisihi Sunnah dan mengubah manhaj ahli sunnah, namun disisi lain salah seorang dari mereka menggelari dirinya dengan Atsari. Sedangkan dia dari Atsar dan Sunnah berjauhan. Maka penisbatan itu batil, menyelisihi hakekat sebenarnya. Syaikh rahimahullah membantah terhadap sebagian para penulis muda yang menyelisihi sunnah dan kebenaran, namun dirinya menisbatkan kepada Atsar dalam rangka ikut-ikutan dan untuk menipu (orang awam). Beliau berkata : “Al-Atsari adalah mode zaman ini”.</p>
<p align="justify">Pengingkaran syaikh kami adalah benar, pengingkaran tersebut ditujukan kepada yang menisbatkan (orangnya), bukan terhadap apa yang dinisbatkan, karena beliau berkata setelah itu untuk membantah orang yang menisbatkan kepada Atsar tersebut, dan untuk menyingkap hakekat sesungguhnya : “Ketika <em>ia mengira barangsiapa yang tidak mengikuti perkatannya… bahwa dia seorang salafi atsari seratus persen, padahal sesungguhnya ia seorang kholafi mu’tazili (lawan salafi) dari para pengekor hawa nafsu</em>” Beliau membolehkan penisbatan tersebut, seperti orang-orang sebelum beliau dan para imam dan ulama. Apa yang dinisbatkan kepada salaf (salafi) pada dasarnya sama dengan apa yang dinisbatkan kepada atsar (atsari), keduanya sama.</p>
<p align="justify">Yang semisal dengan hal diatas adalah pembedaan antara para dai yang sebenarnya dan orang-orang yang hanya mengaku, Al-Allamah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullahu ketika ditanya tentang penamaan As-Salafi, Al-Atsari, apakah ini termasuk tazkiyah/rekomendasi?</p>
<p align="justify">Maka Samahatusy Syaikh rahimahullah menjawab : “<em>Apabila benar adanya bahwa dia Atsari atau Salafi maka tidak masalah, seperti yang diucapkan oleh ulama terdahulu, fulan Salafi, fulan Atsari, ini merupakan rekomendasi yang diharuskan dan wajib</em>“.</p>
<p align="justify">Adapun yang dinukil oleh sebagian saudara kita yang difahami darinya bahwa ada yang menyelisihi dalam hal ini, dan ini dinukil dari Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan -semoga Allah memberi kita manfaat darinya-, maka yang benar dalam hal ini -insya Allah- apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam Majmu Fatawa 4/149 beliau berkata :</p>
<p align="justify">“<em>Bukan suatu aib bagi seorang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan dirinya kepada salaf serta bangga dengan salaf, bahkan wajib menerima hal ini sesuai dengan kesepakatan (para ulama), karena madzhab salaf tidaklah kecuali benar. Jika penisbatan tersebut selaras antara dhohir dan batinnya maka hal ini setara dengan kedudukan seorang mukmin yang berada diatas kebenaran secara dhohir dan bathin. Namun jika dhohirnya saja tanpa bathinnya, maka hal ini kedudukannya sama dengan munafiq, maka kita terima apa yang nampak dari hal tersebut dan kita serahkan yang tidak tampak kepada Allah, karena kita tidak diperintahkan untuk menghukumi apa yang ada di hati manusia.”</em></p>
<p align="justify">Ini sesuai dengan perkataan para imam dan ulama antara satu dengan lainnya dan menyelisihi perkataan selain mereka, dari orang-orang yang tidak faham perkataan para imam dan ulama, maka renungkanlah. (Untuk mendapatkan faidah lebih lanjut akan hal ini lihatlah <em>Al-Lubab</em> 1/28 oleh Ibnu Atsir, <em>Siyar A’lam An-Nubala</em> 18/510, 1/475 oleh Adz-Dzahabi, <em>Taudhilul Musytabah</em> 1/122 oleh Ibnu Nashiruddin Ad-Damasyqi, <em>Lawami’ul Al-Anwar Al-Bah</em>iyyah 1/64 oleh As-Safarini dan selainnya.)</p>
<p align="center">[Dialih bahasakan oleh Abdurrahman Thoyyib As-Salafy Lc, dari <a href="http://www.alhalaby.com/">http://www.alhalaby.com/</a>. Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Vol.5 No. 4 Edisi 28 Rabi'ul Awwal 1428H. Courtesy of almanhaj.or.id]</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p style="text-align:left;">Sumber <a href="http://abusalma.wordpress.com/2007/08/18/hukum-penisbatan-diri-kepada-atsar/">Asli</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BOLEH MENISBATKAN DIRI KEPADA SALAF DAN MEMAKAI GELAR SALAFIYAH]]></title>
<link>http://abdulloh.wordpress.com/?p=177</link>
<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 14:10:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
<guid>http://abdulloh.de.wordpress.com/2008/09/20/boleh-menisbatkan-diri-kepada-salaf-dan-memakai-gelar-salafiyah/</guid>
<description><![CDATA[BOLEH MENISBATKAN DIRI KEPADA SALAF DAN MEMAKAI GELAR SALAFIYAH
Oleh:
Syaikh Dr. Abdussalam bin Sali]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"><strong><span style="font-size:medium;color:#ff0000;">BOLEH MENISBATKAN DIRI KEPADA SALAF DAN MEMAKAI GELAR SALAFIYAH</span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"><strong></strong></span><span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"><strong>Oleh:<br />
Syaikh Dr. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi</p>
<p></strong></span>
</p>
<p style="text-align:justify;">Telah dimaklumi bersama bahwa seruan untuk mengikuti salaf atau dakwah kepada salafiyah tidak lain merupakan dakwah kepada Islam yang benar. Dan kembali kepada sunnah yang murni merupakan seruan untuk kembali kepada Islam seperti yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diajarkan kepada para sahabat yang mulia Radhiyallahu ‘anhum. Maka tidaklah ragu bahwa dakwah ini adalah dakwah yang benar sehingga menisbatkan diri kepadanya adalah benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh para imam kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah memiliki pengaruh yang besar dalam berdakwah kepada sunnah, kembali ke jalan salaf, kembali kepada manhaj mereka dan mencontoh mereka. Di antara para imam tersebut adalah imam-imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah : Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishak bin Khuzaimah, Imam Abu Bakar Muhammad bin Al-Husain Al-Ajuri, Imam Abu Abdillah bin Baththah Al-Ukbari dan Imam Abul Qasim Isma’il bin Muhammad Al-Ashbahani.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim, dan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab serta para Imam dakwah sesudah beliau. Mereka memberi andil dalam memunculkan manhaj salaf seiring dengan perjalanan waktu, menyirami pondasi agama dan aqidahnya dengan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta perjalanan hidup Salafush Shalih dan tabi’in. mereka seluruhnya tegak membantah kebid’ahan yang menyimpang dari pondasi ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika hal itu diketahui, maka kita kembali kepada judul pasal ini, “Boleh Menisbatkan Diri Kepada Salaf dan Memakai Gelar Salafiyah”.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan.: “Tidak tercela orang yang menunjukkan madzhab salaf, menisbatkan dan menyandarkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima hal itu darinya, karena madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran” [Al-Fatawa 4/149]</p>
<p style="text-align:justify;">Imam As-Sam’ani berkata dalam Al-Ansaab 3/273 : “As-Salafi -dengan huruf sin dan lam yang berharakat fathah dan huruf akhirnya fa’- merupakan penisbatan kepada salaf dan menempuh madzhab mereka menurut apa yang telah engkau dengar dari mereka”.Imam As-Sam’ani berkata dalam Al-Ansaab 3/273 : “As-Salafi -dengan huruf sin dan lam yang berharakat fathah dan huruf akhirnya fa’- merupakan penisbatan kepada salaf dan menempuh madzhab mereka menurut apa yang telah engkau dengar dari mereka”.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Atsir mengomentari setelah ucapan As-Sam’ani tersebut dengan mengatakan. “Dan dengannya jama’ah dapat dikenal”.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan gelar salafiyah pada sebagian tulisannya kepada mereka yang berpendapat seperti pendapat salaf dalam masalah fauqiyah (keyakinan Allah berada di atas) <span style="color:#ff0000;">[1]</span></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata dalam As-Siyar 12/380. “Maka yang dibutuhkan oleh seorang hafizh hendaknya dia bertakwa, cerdas… dan seorang salafi”.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau mengungkapkan dalam As-Siyar 16/457 tentang Ad-Daruquthni rahimahullahu. “Orang ini tidak pernah sama sekali masuk ke dalam ilmu kalam, tidak pula ilmu jidal, tidak pula mendalaminya bahkan dia adalah seorang salafi”.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis berkata : Dan pada zaman sekarang ini penisbatan dan gelaran ini digunakan juga oleh para ulama yang mulia yang dikenal dengan komitmen dan pembelaannya terhadap sunnah seperti Syaikh Abdurrahman Al-Muallimi rahimahullahu (wafat 1386H) dalam kitabnya Al-Qa’id il Tashhihil Aqa’id dan Syaikh Imam Al-Alim Al-Qudwah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu dalam risalahnya berjudul Tanbihat Haamah ‘ala Maa Katabahu Muhammad Ali Ash-Shabuni fi Shifatillahi Azza wa Jalla”.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh bin Baz rahimahullahu pernah ditanya : Apa pendapat engkau tentang orang yang menamakan dengan salafi atau atsari, apakah itu merupakan tazkiyah (pujian terhadap diri sendiri)?</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab : Jika benar orang tersebut sebagai pengikut atsar dan pengikut salaf maka tidak mengapa. Sama halnya para ulama salaf mengatakan: fulan salafi atau fulan atsari adalah sebagai tazkiyah di sini adalah wajib.<span style="color:#ff0000;">[2]</span></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Syaikh Al-Alim Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Mukhtashar Al-Uluw dan muqaddimah bagi Syarh AlAqidah Ath-Thawaiyah serta kitabnya At-Tawassul.</p>
<p style="text-align:justify;">Juga Syaikh Al-Allamah Shalih Fauzan Al-Fauzan sebagaimana dalam kitab Ajwibah Al-Mufidah (hal: 103) beliau ditanya apa itu Salafiyah? Apakah wajib menempuh manhajnya dan berpegang dengannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab : “As-Salafiyah adalah menempuh manhaj salaf dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi yang utama dalam sisi aqidah, pemahaman dan akhlaq, dan wajib bagi setiap muslim untuk menempuh manhaj ini”.</p>
<p style="text-align:justify;">Juga di antaranya Syaikh Al-Fadhil Ali bin Nashir Al-Faqihi dalam Fathul Mubin Birradi ‘ala Naqdi Abdillah Al-Ghumari li Kitabil Arbain.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka adalah orang-orang yang mulia dari kalangan ahli ilmu dan yang lainnya membolehkan penggunaan gelar “salafi atau salafiyah atau salafiyin” dan yang dimaksud adalah orang yang menempuh manhaj salaf dan jalan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian penulis kontemporer yang menulis tentang madzhab-madzhab Islam menganggap “salafiyin sebagai pengikut para pendahulu mereka dari kalangan para imam”. Mereka menganggap salafiyin sebagai kelompok dengan karaktersitik khusus yang dikenal dengan sebutan tersebut, diantaranya adalah Muhammad Abi Zahrah, Musthafa Asy-Syik’ah, Muhammad bin Sa’id Al-Buthi dan yang lainnya. Mereka menganggap salafiyin sebagai kelompok dengan karakteristik khusus yang dikenal dengan nama tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka megisyaratkan kepada perkembangan sejarah perjalanan kelompok ini yang merupakan kelanjutan dari madrasah Ahmad bin Hanbal, lalu diperbaharui pada masa Ibnu Taimiyah dan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, dan mereka menganggap bahwa salafiyin adalah orang-orang yang menggunakan gelar ini untuk dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara mereka ada yang menganggap madzhab salafi adalah marhalah (fase) waktu dan bukan madzhab Islam, seperti Doktor Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sama halnya para du’at (juru dakwah) yang mengajak kembali kepada madzhab salaf yang menyebutkan gelar ini untuk diri mereka sendiri atau orang lain yang menggelari mereka seperti itu, kemudian dikenal dengannya. Sesungguhnya tidak pernah diketahui baik dari para imam terdahulu kalangan Ahlus Sunnah, atau orang yang mengikuti manhaj mereka sampai zaman kita sekarang ini ada yang mengingkari mereka dalam hal itu atau menentang penyebutan gelar ini untuk mereka. Minimal, penggunaan gelar tersebut dan penisbatan diri kepadanya hanyalah merupakan sebuah istilah, dan tidak ada yang perlu diperselisihkan dari sebuah istilah. <span style="color:#ff0000;">[3]</span></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, sebuah penilaian dilihat dari hakikat, makna dan bukan dari lafazh-lafazh kosong. Telah disebutkan dahulu makna-makna yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan istilah salaf ini adalah orang yang berjalan di atas manhaj salafush shalih, dan mengikuti jalan mereka. Tidak ada perbedaan sedikitpun antara menggunakan nama salafiyah ataupun Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana telah lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari kitab K<em>un Salafiyyan Alal Jaadah</em>, Penulis Abdussalam bin Salim As-Suhaimi, Edisi Indonesia Jadilah Salafi Sejati, Penerjemah Heri Iman Santoso, Penerbit Pustaka At-Tazkia, Courtesy of almanhaj.or.id]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">__________</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">Foote Note</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">[1]. Sebagaimana beliau menyebutkannya bagi sejumlah ulama, lihat Bayanu Talbis Al-Jahmiyah 1/122 dan Da’ru Ta’arudhil Aqli Wan Naqli 7/134, 7/207</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Dari ceramah beliau yang berjudul Haqqul Muslim yang disampaikan di Thaif.</p>
<p style="text-align:justify;">[3]. Lihat Wasathiyah Ahlis Sunnah wal Jama’ah Binal Firaq hal. 111 dengan sedikit perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber <a href="http://abusalma.wordpress.com/2007/08/18/boleh-menisbatkan-diri-kepada-salaf-dan-memakai-gelar-salafiyah/">Asli</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hal-Hal yang Dianggap Membatalkan Puasa]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=589</link>
<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 21:10:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.de.wordpress.com/2008/09/20/hal-hal-yang-dianggap-membatalkan-puasa/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
Ada sejumlah persoalan yang sering menjadi perselisihan di an]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><i>Penulis: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.</i></p>
<p align="justify">Ada sejumlah persoalan yang sering menjadi perselisihan di antara kaum muslimin seputar pembatal-pembatal puasa. Di antaranya memang ada yang menjadi permasalahan yang diperselisihkan di antara para ulama, namun ada pula hanya sekedar anggapan yang berlebih-lebihan dan tidak dibangun di atas dalil.</p>
<p align="justify">Melalui tulisan ini akan dikupas beberapa permasalahan yang oleh sebagian umat dianggap sebagai pembatal puasa namun sesungguhnya tidak demikian.<!--more--> Keterangan-keterangan yang dibawakan nantinya sebagian besar diambilkan dari kitab <b>Fatawa Ramadhan</b> -cetakan pertama dari penerbit Adhwaa' As-salaf- yang berisi kumpulan fatwa para ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-'Utsaimin, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan lain-lain <i>rahimahumullahu ajma'in</i>. Di antara faidah yang bisa kita ambil dari kitab tersebut adalah:</p>
<p align="justify">1. Bahwa orang yang melakukan pembatal-pembatal puasa dalam keadaan lupa, dipaksa, dan tidak tahu dari sisi hukumnya, maka tidaklah batal puasanya. Begitu pula orang yang tidak tahu dari sisi waktunya seperti orang yang menjalankan sahur setelah terbit fajar dalam keadaan yakin bahwa waktu fajar belum tiba. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin <i>rahimahullah</i> setelah menjelaskan tentang pembatal-pembatal puasa, berkata: "Dan pembatal-pembatal ini akan merusak puasa, namun tidak merusaknya kecuali memenuhi tiga syarat: <b>mengetahui hukumnya</b>, <b>ingat (tidak dalam keadaan lupa)</b> dan <b>bermaksud melakukannya (bukan karena terpaksa)</b>." Kemudian beliau <i>rahimahullah</i> membawakan beberapa dalil, di antaranya hadits yang menjelaskan bahwa Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> telah mengabulkan doa yang tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p align="right"><b>رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا</b></p>
<p align="justify"><i>"Ya Allah janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kalau kami salah (karena tidak tahu)."</i> (<b>Al-Baqarah: 286</b>)</p>
<p align="justify">(Hadits yang menjelaskan hal tersebut ada di <b>Shahih Muslim</b>).</p>
<p align="justify">Begitu pula ayat ke-106 di dalam surat An-Nahl yang menjelaskan tidak berlakunya hukum kekafiran terhadap orang yang melakukan kekafiran karena dipaksa. Maka hal ini tentu lebih berlaku pada permasalahan yang berhubungan dengan pembatal-pembatal puasa. (<b>Fatawa Ramadhan</b>, 2/426-428)</p>
<p align="justify">Dan yang dimaksud oleh Asy-Syaikh Al-'Utsaimin <i>rahimahullah</i> adalah apabila orang tersebut benar-benar tidak tahu dan bukan orang yang tidak mau tahu, <i>wallahu a'lam</i>. Sehingga orang yang merasa dirinya teledor atau lalai karena tidak mau bertanya, tentu yang lebih selamat baginya adalah mengganti puasanya atau ditambah dengan membayar <i>kaffarah</i> bagi yang terkena kewajiban tersebut. (Lihat fatwa Asy-Syaikh Ibnu Baz <i>rahimahullah</i> di dalam <b>Fatawa Ramadhan</b>, 2/435)</p>
<p align="justify">2. Orang yang muntah bukan karena keinginannya (tidak sengaja) tidaklah batal puasanya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam hadits:</p>
<p align="right"><b>مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ</b></p>
<p align="justify"><i>"Barang siapa yang muntah karena tidak disengaja, maka tidak ada kewajiban bagi dia untuk mengganti puasanya. Dan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib baginya untuk mengganti puasanya."</i> (<b>HR. Abu Dawud</b>, <b>At-Tirmidzi</b>, <b>Ibnu Majah</b>, dan yang lainnya, dishahihkan oleh As-Syaikh Al-Albani <i>rahimahullah</i> di dalam <b>Al-Irwa'</b> no. 930)</p>
<p align="justify">Oleh karena itu, orang yang merasa mual ketika dia menjalankan puasa, sebaiknya tidak berusaha memuntahkan apa yang ada dalam perutnya dengan sengaja, karena hal ini akan membatalkan puasanya. Dan jangan pula dia menahan muntahnya karena inipun akan berakibat negatif bagi dirinya. Maka biarkan muntahan itu keluar dengan sendirinya karena hal tersebut tidak membatalkan puasa. (<b>Fatawa Ramadhan</b>, 2/481)</p>
<p align="justify">3. Menelan ludah tidaklah membatalkan puasa. Berkata Asy-Syaikh Ibnu Baz <i>rahimahullah</i>:</p>
<p align="justify">"Tidak mengapa untuk menelan ludah dan saya tidak melihat adanya perselisihan ulama dalam hal ini, karena hal ini tidak mungkin untuk dihindari dan akan sangat memberatkan. Adapun dahak maka wajib untuk diludahkan apabila telah berada di rongga mulut dan tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk menelannya karena hal itu memungkinkan untuk dilakukan dan tidak sama dengan ludah."</p>
<p align="justify">4. Keluar darah bukan karena keinginannya seperti luka atau karena keinginannya namun dalam jumlah yang sedikit tidaklah membatalkan puasa. Berkata Asy-Syaikh Al-'Utsaimin <i>rahimahullah</i> dalam beberapa fatwanya:</p>
<p align="justify">a. "Keluarnya darah di gigi tidaklah mempengaruhi puasa selama menjaga agar darahnya tidak ditelan…".</p>
<p align="justify">b. "Pengetesan darah tidaklah mengapa bagi orang yang berpuasa yaitu pengambilan darah untuk diperiksa jenis golongan darahnya dan dilakukan karena keinginannya maka tidak apa-apa…".</p>
<p align="justify">c. "Pengambilan darah dalam jumlah yang banyak apabila berakibat dengan akibat yang sama dengan melakukan berbekam, seperti menyebabkan lemahnya badan dan membutuhkan zat makanan, maka hukumnya sama dengan berbekam (yaitu batal puasanya)…" (<b>Fatawa Ramadhan</b>, 2/460-466).</p>
<p align="justify">Maka orang yang keluar darahnya akibat luka di giginya baik karena dicabut atau karena terluka giginya tidaklah batal puasanya. Namun dia tidak boleh menelan darah yang keluar itu dengan sengaja. Begitu pula orang yang dikeluarkan sedikit darahnya untuk diperiksa golongan darahnya tidaklah batal puasanya. Kecuali bila darah yang dikeluarkan dalam jumlah yang banyak sehingga membuat badannya lemah, maka hal tersebut membatalkan puasa sebagaimana orang yang berbekam (yaitu mengeluarkan darah dengan cara tertentu dalam rangka pengobatan).</p>
<p align="justify">Meskipun terjadi perbedaan pendapat yang cukup kuat dalam masalah ini, namun yang menenangkan tentunya adalah keluar dari perbedaan pendapat. Maka bagi orang yang ingin melakukan donor darah, sebaiknya dilakukan di malam hari, karena pada umumnya darah yang dikeluarkan jumlahnya besar. Kecuali dalam keadaan yang sangat dibutuhkan, maka dia boleh melakukannya di siang hari dan yang lebih hati-hati adalah agar dia mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan.</p>
<p align="justify">5. Pengobatan yang dilakukan melalui suntik, tidaklah membatalkan puasa, karena obat suntik tidak tergolong makanan atau minuman. Berbeda halnya dengan infus, maka hal itu membatalkan puasa karena dia berfungsi sebagai zat makanan. Begitu pula pengobatan melalui tetes mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa kecuali bila dia yakin bahwa obat tersebut mengalir ke kerongkongan. Terdapat perbedaan pendapat apakah mata dan telinga merupakan saluran ke kerongkongan sebagaimana mulut dan hidung, ataukah bukan. Namun <i>wallahu a'lam</i> yang benar adalah bahwa keduanya bukanlah saluran yang akan mengalirkan obat ke kerongkongan. Maka obat yang diteteskan melalui mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa. Meskipun bagi yang merasakan masuknya obat ke kerongkongan tidak mengapa baginya untuk mengganti puasanya agar keluar dari perselisihan. (<b>Fatawa Ramadhan</b>, 2/510-511)</p>
<p align="justify">6. Mencium dan memeluk istri tidaklah membatalkan puasa apabila tidak sampai keluar air mani meskipun mengakibatkan keluarnya <i>madzi</i>. Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda dalam sebuah hadits shahih yang artinya:</p>
<p align="justify"><i>"Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa dan memeluk (istrinya) dalam keadaan beliau puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menahan syahwatnya di antara kalian." (Lihat takhrijnya dalam kitab <b>Al-Irwa</b>, hadits no. 934)</p>
<p align="justify">Akan tetapi bagi orang yang khawatir akan keluarnya mani dan terjatuh pada perbuatan jima' karena syahwatnya yang kuat, maka yang terbaik baginya adalah menghindari perbuatan tersebut. Karena puasa bukanlah sekedar meninggalkan makan atau minum, tetapi juga meninggalkan syahwatnya. Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda:</p>
<p align="right"><b>... يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي ...</b></p>
<p align="justify"><i>"(orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makannya karena Aku."</i> (Shahih <b>HR. Muslim</b>)</p>
<p align="justify">Dan juga beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda:</p>
<p align="right"><b>دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يُرِيْبُكَ</b></p>
<p align="justify"><i>"Tinggalkan hal-hal yang meragukan kepada yang tidak meragukan."</i> (<b>HR. At-Tirmidzi</b> dan <b>An-Nasai</b>, dan <b>At-Tirmidzi</b> berkata: "Hadits hasan shahih." Dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani <i>rahimahullah</i> di <b>Al-Irwa</b>)</p>
<p align="justify">7. Bagi laki-laki yang sedang berpuasa diperbolehkan untuk keluar rumah dengan memakai wewangian. Namun bila wewangian itu berasal dari suatu asap atau semisalnya, maka tidak boleh untuk menghirupnya atau menghisapnya. Juga diperbolehkan baginya untuk menggosok giginya dengan pasta gigi kalau dibutuhkan. Namun dia harus menjaga agar tidak ada yang tertelan ke dalam tenggorokan, sebagaimana diperbolehkan bagi dirinya untuk berkumur dan memasukkan air ke hidung dengan tidak terlalu kuat agar tidak ada air yang tertelan atau terhisap. Namun seandainya ada yang tertelan atau terhisap dengan tidak sengaja, maka tidak membatalkan puasa. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:</p>
<p align="justify"><i>"Bersungguh-sungguhlah dalam istinsyaq (menghirup air ketika berwudhu) kecuali jika engkau sedang berpuasa (maka tidak perlu bersungguh-sungguh)."</i> (<b>HR. Abu Dawud</b>, 1/132, dan <b>At-Tirmidzi</b>, 3/788, <b>An-Nasai</b>, 1/66, dan dishahihkan oleh As-Syaikh Al-Albani <i>rahimahullah</i> di <b>Al-Irwa</b>, hadits no. 935)</p>
<p align="justify">8. Diperbolehkan bagi orang yang berpuasa untuk menyiram kepala dan badannya dengan air untuk mengurangi rasa panas atau haus. Bahkan boleh pula untuk berenang di air dengan selalu menjaga agar tidak ada air yang tertelan ke tenggorokan.</p>
<p align="justify">9. Mencicipi masakan tidaklah membatalkan puasa, dengan menjaga jangan sampai ada yang masuk ke kerongkongan. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas <i>radhiyallahu ‘anhuma</i> dalam sebuah atsar:</p>
<p align="right"><b>لاَ بَأْسَ أَنْ يَذُوْقَ الْخَلَّ وَالشَّيْءَ يُرِيْدُ شَرَاءَهُ</b></p>
<p align="justify"><i>"Tidak apa-apa bagi seseorang untuk mencicipi cuka dan lainnya yang dia akan membelinya."</i> (Atsar ini dihasankan As-Syaikh Al-Albani <i>rahimahullah</i> di <b>Al-Irwa</b> no. 937)</p>
<p align="justify">Demikian beberapa hal yang bisa kami ringkaskan dari penjelasan para ulama. Yang paling penting bagi setiap muslim, adalah meyakini bahwa Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> tentu telah menjelaskan seluruh hukum-hukum yang ada dalam syariat Islam ini. Maka, kita tidak boleh menentukan sesuatu itu membatalkan puasa atau tidak dengan perasaan semata. Bahkan harus mengembalikannya kepada dalil dari Al Qur`an dan As Sunnah dan penjelasan para ulama.</p>
<p align="justify"><i>Wallahu a'lam bish-shawab</i>.</p>
<p align="right"><i>(Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=298)</i></p>
<p align="justify"><b>Artikel terkait:</b></p>
<p align="justify"><a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/09/12/mencium-dan-mencumbui-istri-ketika-berpuasa">Mencium dan Mencumbui Istri Ketika Berpuasa</a><br />
<a href="http://almuslimah.wordpress.com/2008/09/09/mencumbui-istri-di-siang-hari-bulan-ramadhan-hingga-ejakulasi">Mencumbui Istri di Siang Hari Bulan Ramadhan hingga Ejakulasi</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shaykh Albaani's fatwa over anasheed]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=1099</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 15:10:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/17/shaykh-albaanis-fatwa-over-anasheeds/</guid>
<description><![CDATA[
Vraag:
&#8220;Wat is het oordeel over &#8220;nasheeds&#8221; die veel voorkomen onder de jeugd, die]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://img149.imageshack.us/img149/8596/albani2np7.jpg" alt="" width="144" height="195" /></p>
<p><strong>Vraag:</strong></p>
<p>"Wat is het oordeel over "nasheeds" die veel voorkomen onder de jeugd, die zij "Islamitishe Nasheeds" hebben genoemd?"</p>
<p><strong>Antwoord:</strong></p>
<p>"<span style="text-decoration:underline;">Als deze nasheeds "Islamitische" lyrics hebben, en geen muziek instrumenten bevatten zoals de daf of de drums of iets dergelijke dan is daar niks mis mee.</span></p>
<p>Echter, het is wel noodzakelijk om de nodige voorwaarden uit te leggen. Een van deze voorwaarden is, is dat het vrij moet zijn van alles dat tegen de Shariah ingaat, zoals extreme overdrijving en dergelijke.</p>
<p>En een andere voorwaarde is, is <span style="text-decoration:underline;">dat het niet een gewoonte moet worden omdat het de luisteraars van de Qur'an recitaties afhoudt</span>, terwijl het juist aangeraden is in de profetish zuivere Sunnah. En het houdt sommigen ook weg van het opdoen van kennis en oproepen tot Allaah subhanahu wa ta'aala!</p>
<p>Wat betreft de daf in nasheeds, dit is toegestaan voor vrouwen onder elkaar, en niet voor mannen, en alleen tijdens de Eid's en trouwerijen".</p>
<p><em>Shaykh Nasirudien Al Albaani</em><br />
(Bron: <a href="http://www.islaam.net/main/display.php?id=118&#38;category=7">http://www.islaam.net/main/display.php?id=118&#38;category=7</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shaykh Ibn Uthaymien's fatwa over fotos maken]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=1097</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 15:09:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/17/shaykh-ibn-uthaymiens-fatwa-over-fotos-maken-2/</guid>
<description><![CDATA[

الصور المنحوتة من خشب أو حجارة أو المصنوعة من الطين أو]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://img99.imageshack.us/img99/8448/uthaymeengs8.jpg" alt="" width="286" height="246" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-family:Arial;">الصور المنحوتة من خشب أو حجارة أو المصنوعة من الطين أو العجين أو ما أشبه ذلك كلها حرام إذا كانت على تمثال الحيوان له روح لما فيها من مضاهاة خلق الله عز وجل وفي الحديث الصحيح أن رسول الله صلي الله عليه وسلم لعن المصورين واللعن هو الطرد والإبعاد عن رحمة الله وفي الحديث القدسي أيضا أن الله تعالى قال (ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي فليخلقوا ذرة أو ليخلقوا حبة أو ليخلقوا شعيرة) وفيه أيضا في الحديث الصحيح (أشد الناس عذاباً يوم القيامة المصورون الذين يضاهؤن بخلق الله يقال لهم أحيوا من خلقتم) والأدلة في هذا كثيرة ومن التصوير على القول الراجح المتوعد عليه أن يقوم الإنسان بتصوير ذي روح بيده فإن ذلك داخل في التصوير المتوعد عليه وهو كبيرة من كبائر الذنوب أما التصوير بالآلة الفوتغرافية الفورية فلا يظهر لي أنه من التصوير وذلك لأن المصور لم يكن يخطط أو يحاول أن يضاهي بخلق الله ولهذ ا فنرى الناس لو عرض عليهم صورة بالآلة الفوتوغرافية على حسب ما حصل من التصوير لم يقولوا ما أجود هذا المصور وما أحدقه لكن لو عرض عليهم صورة صورها بيده وخططها بيده وظهرت مطابقة لما صور فقالوا ما أحسن هذا ما أحدق هذا فدل ذلك على الفرق بين من يرسم الصورة بيده ومن يصور بالآلة الفوتوغرافية ويدل لهذا إن الإنسان لو كتب كتابا بيده ثم وضعه في آلة التصوير وخرج من الآلة فإن الناس لا ينسبون هذا المرسوم إلى الذي صور بالآلة وإنما ينسبونه إلى الكاتب الأول وما زال الناس يحفظون الوثائق بمثل هذا ولا يقولون أن هذا الذي التقطه بالآلة مبدع متقن جيد بل ربما يكون يتولى هذا رجلا أعمي أو يتولاه رجل مبصر في ظلمة لكن لو جاء شخص وعُرِض عليه خط الرجل الآخر فجاء يقلد أخر حتى ظهر وكأنه خط الرجل الأول لقال الناس ما أبدعه ما أحذقه كيف صور هذا التصوير الذي جاء مطابق للرسم وفي هذه الأمثلة يتبين أن التصوير الفوتوغرافي ليس في الحقيقة تصويرا ينسب إلى الفاعل ولا يقال أن هذا مضاهئاً لخلق الله لأنه لم يصنع شيئا والقول بالحل مشروط بأن لا يتضمن أمراً محرماً لأن الأشياء المباحة إذا أدت إلى شي محرم كانت حراماً لأن الوسائل لها أحكام المقاصد فمثلاً لا نرى أنه يجوز أن يصور الإنسان هذا التصوير للذكرى كما يقولون لما في ذلك من اقتناء الصورة التي يخشى أن تكون داخلة في قول النبي صلي الله عليه وعلى آله وسلم إن الملائكة لا تدخل بيتا فيه صورة</span><span style="font-family:Arial;">.</span></p>
<p>“… Elke tekening of beeld die uit hout of steen is gesneden, of van modder of klei of iets soortgelijks is gevormd, zijn verboden als zij beelden van levende wezens zijn die zielen hebben, want dit is het nadoen van de Schepping van Allaah, de Almachtige en Verhevene.</p>
<p>En in de authentieke Hadith's zijn overgeleverd dat de Boodschapper van Allaah de makers van beelden heeft vervloekt, en als iemand vervloekt word, dan zal hij ver van Allaah's Genade zijn. En in de Hadith Qudsi is overgeleverd, dat Allaah - de Verhevene - zegt: "En wie is onrechtvaardigher dan hij die ging nadoen wat Ik heb geschapen?! Laat hem een atoom scheppen, of laat hem een mosterdzaadje scheppen of laat hem een fiber scheppen als hij in staat is!"</p>
<p>En in een andere authentieke Hadith is gezegd: "De mensen die het zwaarste gestraft zullen worden op de Dag des Oordeels zijn de beelden makers die de Schepping van Allaah na willen doen! Tegen hen zal gezegd worden: "Schenk leven aan wat je hebt geschapen!" En de bewijzen hiervoor zijn veel - en wat ook onder dit "beeld making" valt - volgens de sterkste mening - is het tekenen van iets dat een ziel heeft met de hand. Dit valt onder het categorie van beeld making waartegen gewaarschuwd is, en het is een van de grote zonden.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Wat betreft de foto's die worden genomen met kameras, dit blijkt echter niet onder deze categorie te vallen</span>, want een fotograaf tekent niets en hij probeert niet om de schepping van Allaah na te doen. Daarom is het zo, dat als aan iemand een foto word getoond, u zult hun niet horen zeggen: "Wat een goede fotograaf! Hoe goed is hij!" Maar als hun een tekening wordt getoond die met de hand was getekend en op iets echts lijkt, dan zullen zij zeggen: "Kijk hoe goed deze tekenaar is! Hoe goed is hij!" <span style="text-decoration:underline;">Dus dit bewijst dat er een verschil bestaat tussen het tekenen van een foto met de hand en een foto nemen met de kamera.</span></p>
<p>En dit is ook bewezen door het feit, dat als iemand iets op papier schrijft met zijn hand en iemand maakt een foto ervan, de mensen zullen dit tekst niet toegeschrijven aan de fotograaf, maar aan degene die de tekst had geschreven en tot vandaag de dag bewaren sommige mensen hun copyrights op deze wijze.</p>
<p>Niemand zal zeggen dat de fotograaf die teksten perfect heeft gecopierd met deze nieuwe technology. Sterker nog, zelfs een blinde zal dit taak kunnen vervullen. Zelfs in het donker kan iemand dit doen.</p>
<p>Echter, als iemand met zijn hand de tekst van de originele schrijver kopiert, zodat het net op het echte lijkt, dan zouden de mensen pas zeggen: "How innovatief is hij! Hoe goed is hij! Hoe heeft hij die tekst zo goed nagedaan?" <span style="text-decoration:underline;">En met soortgelijke voorbeelden, wordt het duidelijk dat foto's nemen niet hetzelfde is als tekeningen maken die toegeschreven kunnen woorden aan iemand die de foto nam</span>, en het kan niet gezegd worden dat hij de schepping van Allaah nadeed, omdat hij niks heeft geschapen.</p>
<p>En voordat gezegd kan worden dat foto's nemen toegestaan is, er moet aan de voorwaarde worden voldaan dat niet tot het verbodene leidt, want iets dat tot het verbodene leidt is zelf ook verboden ... Dus bijvoorbeeld, wij zien dat het niet toegestaan is om deze foto's te nemen om als herinering te blijven want het bevat een beeld, waarvan wij vrezen dat het onder de gezegde van de Profeet zal vallen: "De engelen treden een huis niet binnen waar foto's hangen".</p>
<p><em>Shaykh Muhammad Ibn Salih Al Uhtyamien<br />
(Bron: <a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1205.shtml">http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1205.shtml</a></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shaykh Ibn Baaz's fatawa over filistien]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=1095</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 15:06:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/17/shaykh-ibn-baazs-fatawa-over-filistien/</guid>
<description><![CDATA[
Vraag:
&#8220;Wat is het Islamitishe Shariah oordeel over de hedendaagse Jihaad van de Palestijnen?]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://img67.imageshack.us/img67/9323/baazxy8.jpg" alt="" width="240" height="185" /></p>
<p><strong>Vraag:</strong></p>
<p>"Wat is het Islamitishe Shariah oordeel over de hedendaagse Jihaad van de Palestijnen? Is het een Jihaad op de weg van Allaah of is het een strijd voor hun land en vrijheid? En valt strijden ter bevrijding/verdediging van de (moslim) landen ook onder Jihaad op de weg van Allaah?"</p>
<p><strong>Antwoord:</strong></p>
<p>"Het is aan ons bevestigd door eerlijk en betrouwbare getuigen dat de Palestijnse Intifaadah (opstand) en zij die hieraan deelnamen de besten onder de Moslims zijn in die land, <span style="text-decoration:underline;">en dat hun Jihaad een Islamitishe (Jihaad) is. Dat komt, omdat zij onderdrukt zijn door de joden</span> en het is verplicht op hun om hun om zichzelf, hun geloof en hun families en kinderen te beschermen en om hun vijanden uit hun landen te verdrijven met welke mogelijkheden zij ook hebben.</p>
<p>En deze betrouwbaren die deelnamen aan hun Jihaad en hun hierbij hielpen hebben ons op de hoogte gebracht van hun (Palestijnse) Islamitishe enthousiasme en hun wil op de Islamitishe Shariah te brengen.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Hetgeen verplicht is op de Moslim landen en de rest van de Moslims is om hun te helpen en bij te staan zodat zij zichzelf kunnen bevrijden van hun vijanden</span>, en zodat ze terug kunnen naar hun land, in overeenstemming met Allaah's Woorden:</p>
<p><em>"O jullie die geloven! Strijdt tegen de ongelovigen die dicht bij jullie zijn en laat hen strengheid bij jullie vinden. Weet dat God met de godvrezenden is". </em><em>(9:123).</em></p>
<p>En Zijn Woorden: <em>"Rukt uit, of het jullie nu licht of zwaar valt en spant jullie met jullie bezittingen en jullie persoon in op Gods weg. Dat is beter voor jullie, als jullie dat maar wisten". </em><em>(Qur'an 9:41).</em></p>
<p>En Zijn Woorden:</p>
<p><em>"O jullie die geloven! <span style="text-decoration:underline;">Zal ik jullie op een handel wijzen die jullie van een pijnlijke bestraffing redt? Jullie moeten in God en Zijn gezant geloven en jullie op Gods weg met jullie bezittingen en jullie eigen persoon inzetten</span>. Dat is beter voor jullie, als jullie dat maar wisten! Hij zal jullie je zonden vergeven en jullie in tuinen laten binnengaan waar de rivieren onderdoor stromen en in goede woningen in de tuinen van 'Adn. Dat is de geweldige triomf! En nog iets anders wat jullie graag willen: hulp van God en een spoedig succes. Verkondig het goede nieuws aan de gelovigen". </em><em>(Qur'aan 61 vers 10 tot vers 13).</em></p>
<p>En soortgelijke verzen zijn er veel! En er is authentiek overgeleverd dat de Boodschapper van Allaah zei: "<span style="text-decoration:underline;">Voer Jihaad tegen de mushrikoen met jullie bezittingen, jullie zelven en jullie tongen</span>".</p>
<p>En omdat zij onderdrukt zijn, is het verplicht op hun Moslim broeders om hun bij te staan tegen degenen die hun onderdrukken, want de Profeet heeft gezegd:</p>
<p>"Een Moslim is de broeder van de ander Moslim, hij onderdrukt hem niet, noch geeft hij hem over aan de vijanden" - en a-Bukhari en Muslim zijn het eens over de authenticiteit van deze overgelevering!</p>
<p>En de Profeet heeft ook gezegd:</p>
<p>"Help je broeder of hij nou de onderdrukker is of de onderdrukte". Ze vroegen: "O Boodschapper van Allaah, wij begrijpen dat we hem moeten helpen als hij is onderdrukt, maar hoe kunnen wij hem helpen als hij zelf de ondrdrukker is?" Hij antwoordde: "Door hem tegen te houden, zodat hij anderen niet onderdrukt".</p>
<p>En de ahaadith over de verplichting van Jihaad op de weg van Allaah en het helpen van de ondrdrukten en tegengaan van de onderdrukkers zijn heel veel!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Dus wij vragen Allaah om onze mujahidien broeders op de weg van Allaah overwinning te schenken over hun vijanden in Palestina en waar zij zich ook bevinden</span>, en om hun te verenigen op de waarheid en om alle moslims de mogelijkheden te geven om hun bij te staan en sterk tegen hun vijanden te staan en om de vijanden van Islaam in de steek te laten waar zij zich ook mogen bevinden. En wij vragen Allaah om op de slechte en onderdrukkende mensen leed neer te dalen die niet ophoudt, waarlijk Hij is de Alhorende!"<br />
<em><br />
Shaykh Abdul Aziz Ibn Baaz<br />
"Majmoo' Fataawa wa Maqaalaat Mutanawwi'ah" - Deel 4, Blz. 295<br />
(Bron: <a href="http://www.quraan.com/index.aspx?&#38;tabid=36&#38;artid=72">http://www.quraan.com/index.aspx?&#38;tabid=36&#38;artid=72</a></em></p>
<p>En de Shaykh heeft ook gezegd:</p>
<p>"Dit is een Islaamitishe kwestie en ik denk niet dat het mogelijk is om een oplossing te bereiken voor dit kwestie voordat dit als een Islamitishe kwestie word gezien <span style="text-decoration:underline;">en de moslims jihaad voeren tegen de joden op de Islamitishe wijze, totdat het land terug is gegeven aan haar rechtmatige eigenaren</span>. En zodat de joden die (die in de moslim gebieden leven) terug kunnen keren naar hun eigen landen waar ze vandaan kwamen, waarna de echte joden in (in Palestina) kunnen leven onder de Islamitishe staat, en niet comunistishe of seculaire wetten. Hierdoor zal de waarheid de overhand krijgen en valsheid zal vergaan, en de ware eigenaren zullen terugkeren naar hun eigen landen onder de Islamitische staat, en niet een of andere (menselijke) wet".</p>
<p><em>Shaykh Abdul Aziz Ibn Baaz<br />
"Majmoo' Fataawa wa Maqaalaat Mutanawwi'ah" - 1/277<br />
(Bron: <a href="http://www.fatwa-online.com/fataawa/worship/jihaad/jih003/0020404_1.htm">http://www.fatwa-online.com/fataawa/worship/<br />
jihaad/jih003/0020404_1.htm</a></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shaykh Salih Bin Fawzaan's fatwa over Afghanistan, Iraaq &amp; Chechnya]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=1093</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 15:05:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/17/shaykh-salih-bin-fawzaans-fatwa-over-afghanistan-iraaq-chechnya/</guid>
<description><![CDATA[
Vraag:
&#8220;Is de Jihaad in Tsjetsjenië, in Afghanistan en in Iraaq de Jihaad ad-Daf&#8217; (ver]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://img524.imageshack.us/img524/4498/sheikhsolihbinfavzan2mz5.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p><strong>Vraag:</strong></p>
<p>"Is de Jihaad in Tsjetsjenië, in Afghanistan en in Iraaq de Jihaad ad-Daf' (verdedigend-jihad) die geen voorwaarden heeft?"</p>
<p><strong>Antwoord:</strong></p>
<p>"Dat is voor hen. <span style="text-decoration:underline;">Voor Afghanistan en Tsjetsjenië, in hun landen. Ja, natuurlijk! Hun Jihaad is een verdedigend-jihaad voor henzelf.</span> Maar voor degenen onder de moslims die buiten die landen wonen, die in staat zijn om deel te nemen in hun Jihaad, <span style="text-decoration:underline;">voor hen is het aangeraden (mustahab) om hen (mujaahidien) te helpen</span>. Echter zijn er twee voorwaarden waaraan moet worden voldaan, ten eerste de toestemming van de Amier en ten tweede de goedkeuring van de ouders. Ja!"</p>
<p><em>Shaykh Saalih Bin Fawzaan<br />
(Bron: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=1hUCp1quQU0">http://www.youtube.com/watch?v=1hUCp1quQU0</a></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shaykh Abdul Rahman Al Baraak's fatwa over Iraaq]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=1091</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 15:04:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/17/shaykh-abdul-rahman-al-baraaks-fatwa-over-iraaq/</guid>
<description><![CDATA[
De broeder:
&#8220;De vraag steller stelt een vraag over de Jihaad in Iraaq en over degenen die de ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://img239.imageshack.us/img239/4733/albarraka2jp1.jpg" alt="" width="239" height="201" /></p>
<p><strong>De broeder:</strong></p>
<p>"De vraag steller stelt een vraag over de Jihaad in Iraaq en over degenen die de Mujahidien dwalend noemen en zeggen dat zij Khawarij en Hizbiyien zijn".</p>
<p><strong>Shaykh Abdul Rahman Al Barraak:</strong></p>
<p>"Het antwoord is hetgeen wat al eerder gezegd is; <span style="text-decoration:underline;">het is een Jihaad, een Jihaad tegen de Kufaar en de bezettende machten van de Moslimlanden</span>. Wiens slechtheid niet zal ophouden in Iraaq, maar zij wensen meer dan dat.</p>
<p>Bovendien hebben zij een samenwerking met de andere vijand, oftewel de Rawafid (shia). Zij zijn twee vijanden die samenwerken en bondgenootschap hebben tegen Ahlus Sunnah in Iraaq en elders.</p>
<p>We vragen Allaah om hun plannen tegen zichzelf te doen keren. Ja! We vragen Allaah om ze te vernietigen en hun groepering te doen splijten.</p>
<p>En om de Moslims, Ahlus Sunnah, te doen overwinnen tegen hun vijand, zowel de Christenen als de Raafidi.</p>
<p><strong>De broeder:</strong></p>
<p>"Hij zegt: Zij (degenen die hen Khawarijj noemen) beweren op Salafiya en Athariya te zijn ... ".</p>
<p><strong>Shaykh Abdul Rahman Al Barraak:</strong></p>
<p>"<span style="text-decoration:underline;">Hetgeen wat er toe doet is dat het bestrijden van de bezettende ongelovigen een Jihaad is ... Wie durft dat te betwijfelen?!</span>"</p>
<p><em>Shaykh Abdul Rahman Al Barraak<br />
(Bron: </em><em>http://www.youtube.com/watch?v=14XJiD64JmE<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shaykh Abdul Aziz Ale Shaykh's fatwa over Libanon]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=1089</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 15:03:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/17/shaykh-abdul-aziz-ale-shaykhs-fatwa-over-libanon/</guid>
<description><![CDATA[
Vraag:
&#8220;De vraagsteller uit Frankrijk vraagt of er Jihaad is tegen de kuffaar in Libanon - wa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://img241.imageshack.us/img241/9450/grandmufti3ib6.jpg" alt="" width="300" height="241" /></p>
<p><strong>Vraag:</strong></p>
<p>"De vraagsteller uit Frankrijk vraagt of er Jihaad is tegen de kuffaar in Libanon - wa jazakumullaahu khayran".</p>
<p><strong>Antwoord:</strong></p>
<p>Wallaahi, mijn broeders, ik vraag Allaah om de Moslims te helpen met oprechte daden. Oh mijn broeders, de kwesties zijn zo, dat Islaam maar een doel heeft gemaakt voor Jihaad op de weg van Allaah, namelijk:</p>
<p><em>"Mann qaatala li takoena kalimatilahi huwal ulya fahuwa fi sabilillaah"<br />
"Wie vecht om het woord van Allah het hoogste te maken is op de weg van Allah".</em></p>
<p>De Profeet werd gevraagd over een man die vecht om zijn moedigheid te tonen en een ander voor bescherming, dus de Profeet antwoordde: "<span style="text-decoration:underline;">Wie vecht om het woord van Allaah het hoogste te maken hij is op de weg van Allaah</span>".</p>
<p>Hij is niet op de waarheid behalve als hij vecht zodat het woord van Allaah het hoogste word, namelijk de Tauhied en het oordeel van zijn Shariat of het uitvoeren van wat Allaah hun bevolen heeft.</p>
<p>Alles buiten dit is niet op de weg van Allaah!</p>
<p>Nationalisme en de oproepen van Jahiliah bereiken het doel niet. Het doel is alleen bereikt als dit Jihaad is om de dien van Allaah te helpen, en het verspreiden van zijn Shariah, en dawa' zodat de dien alleen voor Hem wordt, en het oordelen met Zijn boek en de Sunnah van Zijn Boodschapper.</p>
<p>En die strijders moeten veel aandacht schenken aan het vasthouden aan het Boek en de Sunnah. Maar wanneer het vasthouden aan Islaam weg is en Islaam slechts een naam word en geen vasthouden eraan plaatsvindt, en de gevechten voor verschillende redenen plaats vinden, en niet om het woord van Allaah het hoogste te maken, en niet om de waarheid te steunen en niet voor het zetten van ibadah op een manier waar Allaah tevreden mee is, dan is dit geen Jihaad.</p>
<p>De waarheid van Islaam is geloven met het hart, spraak van de tong en daden van het lichaam. <span style="text-decoration:underline;">Dus als deze strijders op tauhied zijn, en eerlijkheid tegenover Allaah en standvastigheid op de Shariah zijn betreft hun imaan, aqeedah, manhaj, akhlaaq en handelen dan is het antwoord ja</span>!"</p>
<p><em>Shaykh Abdul Aziz Ale Shaykh<br />
(Bron: <a href="http://www.sunnahpublishing.net/audio/lebanon.">http://www.sunnahpublishing.net/audio/lebanon.<br />
wma?CFID=3267950&#38;CFTOKEN=92821974</a></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shaykh Ghunayman's fatwa over Afghanistan]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=1087</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 15:03:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/17/shaykh-ghunaymans-fatwa-over-afghanistan/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Het is verplicht om de Moslims van Afghanistan te helpen en hun bij te staan in hun pogingen ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>"<span style="text-decoration:underline;">Het is verplicht om de Moslims van Afghanistan te helpen en hun bij te staan in hun pogingen om hun religie, landen en eer te verdedigen tegen de aanvallen van de kuffaar</span>. Allaah, de Verhevene, zegt:</p>
<p>"Als zij hulp inzake het geloof zoeken dan is het uw plicht hen te helpen". <em>(8:72).</em></p>
<p>En de Boodschapper van Allaah zegt:</p>
<p>"De Moslim is de broeder van een ander Moslim, hij onderdrukt hem niet en handt hem niet over".</p>
<p>Daarom is het verplicht om hun bij te staan, zoveel mogelijk.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">En wat betreft degene die samenwerkt met de ongelovige volkeren en hen helpt tegen (de moslims), hij behoort tot hun (en hij is ongelovig zoals hun)</span>.</p>
<p>Allaah, de Verhevene, zegt:</p>
<p>"O jullie die geloven! Neemt niet de Joden en de Christenen als beschermers, zij beschermen elkaar. En wie van jullie hen als beschermers neemt: voorwaar, hij behoort tot hen". (Qur'an 5:51).</p>
<p>En er zijn veel meer soortgelijke verzen!"</p>
<p><em>Shaykh 'Abdullah bin Muhammad al-Ghunayman<br />
Dinsdag 29 Rajab, 1422H</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fatwa van een groep Ulama over Iraaq]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=1085</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 15:02:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/17/fatwa-van-een-groep-ulama-over-iraaq/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Zonder twijfel is het bevechten van de bezetters een verplichting op iedereen die in staat is]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>"<span style="text-decoration:underline;">Zonder twijfel is het bevechten van de bezetters een verplichting op iedereen die in staat is. Het is een "verdedigend jihaad", en het valt onder het categorie van het verdrijven van de agressor</span>. Het heeft geen voorwaarden en het hebben van de leider is geen voorwaarde, maar het wordt uitgevoerd naar de hoeveelheid mogelijkheden die er zijn, zoals Allaah zegt:</p>
<p>"Vrees Allaah zoveel je in staat bent".</p>
<p>Deze bezetters zijn zonder twijfel strijders van aggressie en Goddelijke wetten hebben een overeenstemming dat het bevechten van hun verplicht is, zodat zij vernederd en verslagen terugkeren - Insha'Allaah!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Zelfs de menselijke wetten hebben mensen het recht gegeven om zichzelf te verdedigen</span>. De basis van dit alles is in de gezegde van Allaah toen Hij zei:</p>
<p>"Toestemming om te vechten is gegeven aan degenen tegen wie gevochten wordt, omdat hun onrecht is aangedaan, voorzeker Allah heeft de macht hen bij te staan!" <em>(Qur'an 22:39).</em></p>
<p>En Allaah gaf toestemming voor zelfverdediging, zodat levens gered kunnen worden en eerlijkheid en wettigheid op aarde komt. Hij zei:</p>
<p>"<span style="text-decoration:underline;">En indien Allah sommige mensen niet met behulp van anderen tegenhield, zouden ongetwijfeld kloosters, kerken, synagogen en moskeeën, waarin dikwijls de naam van Allah wordt herdacht, afgebroken zijn</span>. Allah zal ongetwijfeld degene ondersteunen die Hem helpt - Allah is inderdaad Sterk, Almachtig". <em>(22:40).</em></p>
<p>Dus dit weerstand is niet alleen bij de menselijke wetten toegestaan, maar ook door de Goddelijke wet. Het is verplicht op de Irakezen om zichzelf, hun eer, hun land, heden en toekomst te verdedigen, tegen deze koloniale coalitie net zoals zij de vooorgaande Britse kolonialisme weerstand hadden geboden!"</p>
<p>Getekend door:</p>
<p>Shiekh Salman Ben Fahd Al Awda<br />
Sheikh Ahmed Al Khadhiri<br />
Sheikh Ahmed Abed Al Latif<br />
Sheikh Hamed Ben Yaqub Al Farih<br />
Sheikh Hatem Al Ooni<br />
Sheikh Khaled Al Qasim<br />
Sheikh Saud Al Finnessan<br />
Sheikh Said Ben Nacir Al Ghamidi<br />
Sheikh Safar Abed Al Rahman Al Hawali<br />
Sheikh Suleiman Al Rashudi,<br />
Sheikh Salah ben Muhammad Al Sultan<br />
Sheikh Abed Al Rahman ben Ahmed Aloosh Madkhali<br />
Sheikh Abedel Aziz Al Ghamidi<br />
Sheikh Abed Allah ben Ibrahim Al Tariqi<br />
Sheikh Abed Allah ben Azeez Al Zaiidi<br />
Shiekh Abed Allah ben Wakeel Al Sheikh<br />
Sheikh Abed Al Wahab ben Nacir Al Tariqi<br />
Sheikh Ali ben Hasan Assiri<br />
Sheikh Ali Badhadh<br />
Sheikh Awadh ben Mohammad Al Qarni<br />
Sheikh Qasim ben Ahmed Al Qatradi<br />
Sheikh Mohammad ben Hassan Al Sharif<br />
Sheikh Mohammad ben Said Al Qahtani<br />
Sheikh Mahdi Mohammad Rashad Al Hakmi<br />
Sheikh Nasir Al Omar</p>
<p>Voor de complete fatwa en meer ga naar: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/saud/etc/fatwa.html</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shaykh Ibn Jibreen's fatwa over Afghanistan]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=1083</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 15:01:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/17/shaykh-ibn-jibreens-fatwa-over-afghanistan/</guid>
<description><![CDATA[
Lof zij aan Allaah en vrede zij over Zijn gekozen dienaren.
Vervolgens,
Wanneer de Moslims in de we]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://img246.imageshack.us/img246/3370/ibnjibreen4nw2.png" alt="" width="330" height="230" /></p>
<p>Lof zij aan Allaah en vrede zij over Zijn gekozen dienaren.</p>
<p>Vervolgens,</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Wanneer de Moslims in de wereld te weten komen dat een groep van hun broederen worden onderdrukt en aangevallen, dan wordt het verplicht op hun om hun bij te staan</span>, en om te streven in het helpen zoveel zij in staat zijn qua rijkdommen, zelven, meningen en woorden.</p>
<p>En vooral nadat wij weten dat de Staat van de Taliban in Afghanistan met de wetten van Allaah regeert, de Islamitische onderwijs systeem heeft ingezet, shirk tegengaat, afgodsbeelden vernietigt, tekenen van Islaam vertoont door de roep tot het gebed te geven, de vrijdag en jumua' gebeden uitvoert, zonden en verboden daden verbiedt, en dit zijn inderdaad openlijke tekenen van hun goede intenties en juiste geloof.</p>
<p>En nu de ongelovige staten, zoals de Christenen, Joden, Communisten en Atheïsten samen tegen dit ware versie van Islaam zijn, en ook de kafir innoveerders, dan is het inderdaad verplicht op de Moslims om hun broeders in dit Moslim Staat te helpen, en om samen te werken om de plannen van hun vijanden tegen te gaan, namelijk degenen die ernaar streven om de Islamitische groepering neer te halen en te vernietigen, want Allaah de Verheven zegt:</p>
<p>"En werk samen in rechtvaardigheid en goedheid".</p>
<p>En de Hadith:</p>
<p>"Voer Jihaad tegen de mushrikien met jullie bezittingen, zelven en jullie tongen".</p>
<p>De moslims moeten hun broeders bijstaan qua rijkdommen en mannen, en zij moeten hun smeekbeden voor overwinning en overhand voor hun vermeerderen, want Allaah is de verhoorder van wie naar hem smeekbeden verricht, en waarlijk, Hij is de Alhorende, en nabij!"</p>
<p><em>Shaykh Ibn Jibreen</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Khuroojj tegen de regeringen]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=811</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 22:03:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/15/khuroojj-tegen-de-regeringen/</guid>
<description><![CDATA[
Vraag:
 هناك من يرى أن اقتراف بعض الحكام للمعاصي والكبائر ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://img67.imageshack.us/img67/9323/baazxy8.jpg" alt="" width="240" height="185" /></p>
<p><strong>Vraag:</strong></p>
<p style="text-align:right;"><span class="question"> هناك من يرى أن اقتراف بعض الحكام للمعاصي والكبائر موجب للخروج عليهم ومحاولة التغيير وإن ترتب عليه ضرر للمسلمين في البلد ، والأحداث التي يعاني منها عالمنا الإسلامي كثيرة ، فما رأي سماحتكم ؟</span></p>
<p>"Er zijn mensen die denken dat omdat sommige heersers ongeloof en zonden hebben begaan, en dat wij verplicht zijn om in opstand tegen hen te komen en dat we dingen moeten veranderen, zelfs als het schade brengt aan de moslims in dat land. Ze zeggen deze dingen in een tijd waarin veel problemen zijn ontstaan in de moslim landen. Wat is uw mening hierover?"</p>
<p><strong>Antwoord:</strong></p>
<p style="text-align:right;">الحمد لله<br />
القاعدة الشرعية المجمع عليها : ( أنه لا يجوز إزالة الشر بما هو أشر منه ، بل يجب درء الشر بما يزيله أو يخففه ) . أما درء الشر بشرٍ أكثر فلا يجوز بإجماع المسلمين ، فإذا كانت هذه الطائفة التي تريد إزالة هذا السلطان الذي فعل كفراً بواحاً عندها قدرة تزيله بها ، وتضع إماماً صالحاً طيباً من دون أن يترتب على هذا فساد كبير على المسلمين ، وشر أعظم من شر هذا السلطان فلا بأس ، أما إذا كان الخروج يترتب عليه فساد كبير ، واختلال الأمن ، وظلم الناس واغتيال من لا يستحق الاغتيال ... إلى غير هذا من الفساد العظيم ، فهذا لا يجوز ، بل يجب الصبر والسمع والطاعة في المعروف ، ومناصحة ولاة الأمور ، والدعوة لهم بالخير ، والاجتهاد في تخفيف الشر وتقليله وتكثير الخير . هذا هو الطريق السوي الذي يجب أن يسلك ؛ لأن في ذلك مصالح للمسلمين عامة ، ولأن في ذلك تقليل الشر وتكثير الخير ، ولأن في ذلك حفظ الأمن وسلامة المسلمين من شر أكثر .</p>
<p>"Lof zij aan Allaah,</p>
<p>De basis principe en een zeer begrijpbare principe van de Shariah is dat het niet toegestaan is om een slechtheid door iets dat nog slechter is te verwijderen. Slechtheid moet verwijderd worden door iets dat het verwijderd en verminderd. Het verwijderen van slechtheid door iets dan nog slechter is, is niet toegestaan volgens de Ijma van de moslim geleerden.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Als dat groep die van de heerser, die openlijk ongeloof heeft begaan af wilt komen, hem kan verplaatsen <strong>dan is dat iets goeds</strong>. Maar als het opstand tegen de heerser slechtere gevolgen zal hebben en tot chaos, onderdrukking en het doden van degenen die de dood niet verdienden en tot andere vormen van dit soort grote slechtheden zal leiden, dan is dat niet toegestaan</span>.</p>
<p>Integendeel, dan is het essentiel om geduld te hebben en te luisteren en de gehoorzamen in goede dingen, en om eerlijke adviezen te geven aan de autoriteiten, en om te bidden dat zij naar goedheid geleidt zullen worden. En men moet streven om het kwaadheid te verminderen en goedheid te vermeerderen. Dit is de juiste weg die gevolgd moet worden, omdat dit in het voordeel van de moslims is, en omdat dit slechtheid zal verminderen en goedheid zal vermeerderen, <span style="text-decoration:underline;">en omdat dit de vrede zal bewaren en de moslims zal beschermen tegen grotere slechtheden</span>".</p>
<p><em>Shaykh Abdul Aziz Ibn Baaz</em><br />
<em>"Majmoo' Fatawa Wa Maqaalaat Mutanaawi'ah", Deel 8, Blz. 202.</em></p>
<p>(Bron: <a href="http://www.islam-qa.com/index.php?ref=9911&#38;ln=eng&#38;txt=ruler">http://www.islam-qa.com/index.php?ref=9911&#38;ln=eng&#38;txt=rule</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Umrah of Jihaad?]]></title>
<link>http://islamiway.wordpress.com/?p=800</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 21:55:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamiway</dc:creator>
<guid>http://islamiway.de.wordpress.com/2008/09/15/umrah-of-jihaad/</guid>
<description><![CDATA[Vraag:
حججت الفريضة والحمد لله واعتمرت ، فهل الأفضل أن أسا]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Vraag:</strong></p>
<p style="text-align:right;">حججت الفريضة والحمد لله واعتمرت ، فهل الأفضل أن أسافر للعمرة ، أو أتصدق بهذا المال للمجاهدين في سبيل الله ؟</p>
<p>"Ik heb mijn verplichte Hajj al verricht, lof zij aan Allaah, en ik heb ook de Umrah verricht. Is het beter om op Umrah te gaan of om dit geld aan de Mujahidien die voor de zaak van Allaah strijden te geven?"</p>
<p><strong>Antwoord:</strong></p>
<p style="text-align:right;">الحمد لله<br />
"كل من السفر للعمرة والإنفاق في سبيل الله عمل طيب مشكور، لكن العمرة نفعها قاصر على المؤدي لها، وأما الإنفاق في الجهاد فنفعه متعدي؛ فيكون البذل فيه أولى وأفضل.<br />
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم".</p>
<p>"Lof zij aan Allaah,</p>
<p>Op Umrah gaan en het geld uitgeven op de weg van Allaah zijn beiden goede daden, maar het voordeel van de Umrah is slechts beperkt tot degene die dat daad verricht, <span style="text-decoration:underline;">terwijl het voordeel van het uitgeven voor Jihaad veel verder reikt, dus het uitgeven voor dit is passender en krijgt voorrang</span>.</p>
<p>En Allaah is de bron van alle kracht. Moge de vrede en zegeningen van Allaah over onze Profeet Muhammad en zijn familie en zijn metgezellen zijn".</p>
<p>Getekend door:</p>
<p>Shaykh ‘Abd al-‘Azeez ibn ‘Abd-Allaah ibn Baaz,<br />
Shaykh ‘Abd al-Razzaaq ‘Afeefi,<br />
Shaykh ‘Abd-Allaah ibn Ghadyaan.</p>
<p><em>("Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah li’l-Buhooth al-‘Ilmiyyah wa’l-Ifta", 11/328).</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tata Cara Wudhu dan Do’a Setelahnya]]></title>
<link>http://abdulloh.wordpress.com/?p=229</link>
<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 14:46:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hasyim Prayogi Saputra</dc:creator>
<guid>http://abdulloh.de.wordpress.com/2008/10/11/tata-cara-wudhu-dan-do%e2%80%99a-setelahnya/</guid>
<description><![CDATA[
Penulis: Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Iftaa
Soal: Amalan apakah yang dianjur]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<div class="article-index-meta" style="text-align:justify;"><em>Penulis: Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Iftaa</em></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong></strong></span><strong><span style="text-decoration:underline;">Soal</span></strong><em><strong>:</strong></em> Amalan apakah yang dianjurkan ketika berwudhu’, dan apakah doa yang mesti diucapkan setelahnya?</p>
<div class="article-index-meta" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Jawab</strong></span> :</div>
<p style="text-align:justify;"><em>Alhamdulillah</em>, tatacara wudhu’ menurut syariat adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>- </em>Menuangkan air dari bejana (gayung) untuk mencuci telapak tangan sebanyak tiga kali ;</p>
<p style="text-align:justify;">- Kemudian menyiduk air dengan tangan kanan lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya sebanyak tiga kali ;<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">- Kemudian membasuh wajah sebanyak tiga kali ;</p>
<p style="text-align:justify;">- Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku sebanyak tiga kali ;</p>
<p style="text-align:justify;">- Kemudian mengusap kepala dan kedua telinga sekali usap ;</p>
<p style="text-align:justify;">- Kemudian mencuci kaki sampai mata kaki sebanyak tiga kali. Ia boleh membasuhnya sebanyak dua kali atau mencukupkan sekali basuhan saja.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Setelah itu hendaknya ia berdoa:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“<strong>Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, Allahummaj ‘alni minat tawwabiin waj’alni minal mutathahhiriin.”</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Artinya</strong></em>: <em>“Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Yaa Allah jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.</em>“</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun sebelumnya hendaklah ia mengucapkan <em><strong>‘bismillah’ </strong></em>berdasarkan hadits yang berbunyi:</p>
<p style="text-align:justify;"><em> “Tidak sempurna wudhu’ yang tidak dimulai dengan membaca asma Allah (bismillah).”(H.R At-Tirmidzi 56)</p>
<p></em>
</p>
<p style="text-align:justify;">(Dinukil dari Fatawa Lajnah Daimah juz V/231. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa)</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber : <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&#38;id_artikel=520">Amalan saat berwudhu dan doa setelahnya</a></p>
<p style="text-align:justify;">Diambil <a href="http://najiyah1400h.wordpress.com/2008/02/18/tata-cara-wudhu-dan-doa-setelahnya-2/">Dari</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
