<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>azzam &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/azzam/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "azzam"</description>
	<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 04:05:34 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ketika Cinta Bertasbih]]></title>
<link>http://dickyfs.wordpress.com/?p=19</link>
<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 00:15:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dicky Firmansyah</dc:creator>
<guid>http://dickyfs.wordpress.com/?p=19</guid>
<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wr wb
Akhirnya selesai juga membaca novel karangan Habiburrahman El Shirazy y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu'alaikum wr wb</p>
<p>Akhirnya selesai juga membaca novel karangan Habiburrahman El Shirazy yang berjudul "Ketika Cinta Bertasbih" (KCB) seri 1 dan 2.</p>
<p>Novel dwilogi ini menurut saya, ceritanya sangat mengguggah hati dan sangat memberikan motivasi kepada para pembaca nya untuk bisa senantiasa mempersembahkan yang terbaik dalam hidupnya sesuai dengan syariat Islam.</p>
<p>Kedua novel tersebut memiliki setting latar yang berbeda. Untuk KCB seri 1, setting latar yang digunakan adalah Mesir. Disini diceritakan tentang perjuangan Khairul Azzam (tokoh utama) yang harus menyelesaikan S1 nya di universitas terkemuka Al-Azhar sembari berjualan tempe dan bakso untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya yang ada di Indonesia.</p>
<p>Sedangkan KCB seri 2, menggunakan setting latar di Indonesia. Pada seri ke dua ini, diceritakan bagaimana perjuangan Azzam dalam menjemput jodohnya. Dan di seri ini pula, kita para pembaca akan dibawa pada suasana yang mengharukan, yaitu ketika Azzam dan adik-adiknya harus kehilangan orang yang paling mereke cintai selama ini. Namun pada akhirnya, Azzam berhasil menemukan jodohnya yang tidak lain dan bukan adalah pujaannya ketika dia berada di Mesir. Sungguh akhir cerita yang membahagiakan sekaligus mengharukan...</p>
<p>Berdasarkan informasi yang saya dapat dari <a title="sini" href="http://www.filmketikacintabertasbih.com/" target="_blank">sini</a> , novel ini akan di film-kan oleh salah satu rumah produksi ternama di Indonesia, yaitu SINEMART. Bahkan sang penulis sendiri pun, akan dilibatkan sebagai tim kreatif untuk penggarapan film tersebut.</p>
<p>Jadi buat teman-teman yang belum baca novelnya, ayoo buruan baca... supaya kita dapat ilmu dan pemahaman yang lebih baik tentang Islam.</p>
<p>Semoga novel dan filmnya nanti bisa bermanfaat untuk kita semua ya. AMIN.</p>
<p>Kang abik, kami tunggu karya-karya mu berikutnya...  :)</p>
<p><a href="http://dickyfs.files.wordpress.com/2008/08/ketika-cinta-bertasbih.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-24" src="http://dickyfs.wordpress.com/files/2008/08/ketika-cinta-bertasbih.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selebritis yang Cocok untuk peran KCB (Ketika Cinta Bertasbih)]]></title>
<link>http://kobenkeren.wordpress.com/?p=127</link>
<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 07:05:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>kobenkeren</dc:creator>
<guid>http://kobenkeren.wordpress.com/?p=127</guid>
<description><![CDATA[Sudah tahukan Novel Ketika Cinta Bertasbih karangan Kang Abik bakal di Filmkan? Jawabannya pasti YA]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sudah tahukan <strong>Novel Ketika Cinta Bertasbih</strong> karangan <strong>Kang Abik</strong> bakal di Filmkan? Jawabannya pasti YA...sebab beritanya sudah banyak dipubikasikan di beberapa media, baik cetak maupun elektronik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span class="CommentLarge"><span style="font-family:trebuchet ms,geneva;"><strong>Sinemart Pictures</strong> selaku <em>Production House</em> yang akan membuat film tersebut melakukan proses audisi pemain yang akan memerankan 5 utama, antara lain </span></span><span class="CommentLarge"><span style="font-family:trebuchet ms,geneva;"><strong>Azzam, Eliana, Furqon, Anna </strong>dan<strong> Husna</strong>. Audisi tersebut</span></span><span class="CommentLarge"><span style="font-family:trebuchet ms,geneva;"> dimulai sejak 14 Juni dan berakhir pada 13 Juli 2008. </span></span><span class="CommentLarge"><span style="font-family:trebuchet ms,geneva;">Kota-kota yang ditetapkan sebagai tempat penyelenggaraan audisi ialah <strong>Surabaya, Medan</strong> (14-15 Juni), <strong>Padang, Yogyakarta</strong> (21-22 Juni), <strong>Semarang, Pontianak</strong> (29-30 Juni), <strong>Bandung, Makassar</strong> (5-6 Juli), <strong>Jabiodetabek</strong> (10-13 Juli). </span></span><span class="CommentLarge"><span style="font-family:trebuchet ms,geneva;">Lima calon pemeran utama akan dipilih langsung oleh <strong>Habiburrahman El Shirazy</strong> alias <strong>Kang Abik</strong> sendiri selaku penulis <strong>novel </strong><em><strong>KCB</strong>, </em><strong>Chaerul Umam</strong> (sutradara), dan satu tim juri. Tim juri terdiri dari <strong>Didi Petet, Neno Warisman </strong>dan<strong> Deddy Mizwar</strong>.</p>
<p>Menurut gue ada beberapa selebritis yang pantas untuk memerankan 5 tokoh tersebut...</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.Azzam (pemeran utama)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gue milih <strong>Sahrul Gunawan</strong>, alasannya seleb yang satu ini dikenal cukup religius dan jauh dari gossip yang tidak '<em>mengenakan</em>', terus waktu akting di sinetron Ramadhan <strong>Jalan Lain Kesana</strong> (tayang di SCTV) aktingnya cukup memukau dan menjiwai...<br />
<img class="alignnone" src="http://celebrity.okezone.com/images-data/content/2008/05/07/33/107246/zPFQldMASB.jpg" alt="" width="200" height="267" /></p>
<p style="text-align:justify;">alternatifnya adalah <strong>Dude Herlino</strong><br />
<img class="alignnone" src="http://autos.okezone.com/images-data/content/2007/11/26/86/63672/Jv43GzDiG9.jpg" alt="" width="207" height="400" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.Furqon (mantan suami anna)<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gue milih <strong>Attalarik syah</strong>, alasannya tampangnya pas banget seperti gambaran furqon di novel KCB<br />
<img class="alignnone" src="http://media.disctarra.com/assets/product_images/news/180/2_150_18028.jpg" alt="" width="140" height="199" /></p>
<p style="text-align:justify;">alternatifnya adalah <strong>Irgi Ahmad Fahrezi</strong><br />
<img class="alignnone" src="http://plinplan.com/wp-content/plugins/wp-o-matic/cache/f67ff_images-content-2008-02-26-229-irgi2d.jpg" alt="" width="200" height="281" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.Anna (istri azzam)<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gue milih <strong>Nabila Syakieb</strong>, alasannya penampilannya pas banget, aktingnya di beberapa sinetron memukau, terus jauh dari gossip yang kurang sedap<br />
<img class="alignnone" src="http://www.rmblitz.com/images/infotaint/normal/558295-02583224012008@blitz.jpg" alt="" width="170" height="220" /></p>
<p style="text-align:justify;">alternatifnya adalah <strong>Zaskia A.Mecca</strong><br />
<img class="alignnone" src="http://www.rmblitz.com/images/infotaint/normal/139126-01264312042008@zaskia.gif" alt="" width="170" height="220" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.Husna (adiknya azzam)<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gue milih <strong>Intan Nuraini</strong> , alasannya aktingnya sudah teruji terus jauh dari gossip yang kurang sedap juga...<br />
<img class="alignnone" src="http://www.detikhot.com/images/content/2007/06/06/228/intan180.jpg" alt="" width="180" height="303" /></p>
<p style="text-align:justify;">alternatifnya adalah <strong>Dhini Aminarti</strong><br />
<img class="alignnone" src="http://www.rmblitz.com/images/infotaint/normal/289242-06275605102005@dhini.gif" alt="" width="170" height="220" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.Eliana (Anak Dubes RI)<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gue milih <strong>Luna Maya</strong>, alasannya pas banget tampang dan gayanya seperti yang ada di novel KCB<br />
<img class="alignnone" src="http://hasanjunaidi.files.wordpress.com/2007/05/luna-maya-036.jpg" alt="" width="200" height="299" /></p>
<p style="text-align:justify;">alternatifnya adalah <strong>Rianty Cartwright</strong><br />
<img class="alignnone" src="http://img85.imageshack.us/img85/9150/65gg7.jpg" alt="" width="262" height="394" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>gimana menurutmu?</strong></em></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dein Herz ist die Säule deiner Anbetung]]></title>
<link>http://kitabundsunnah.wordpress.com/?p=60</link>
<pubDate>Fri, 09 May 2008 10:31:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu-Ibrahim</dc:creator>
<guid>http://kitabundsunnah.wordpress.com/?p=60</guid>
<description><![CDATA[Dein Herz ist die Säule deiner Anbetung
Von ‘Abdullah ‘Azzam
„&#8230;Das Herz ist die Maschin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><strong>Dein <span style="color:#ff0000;">Herz</span> ist die Säule deiner Anbetung</strong></h1>
<h4 style="text-align:center;"><strong><em>Von ‘Abdullah ‘Azzam</em></strong></h4>
<p style="text-align:justify;">„...Das Herz ist die Maschine, die alle Taten der Anbetung antreibt. Es ist das, was den vollständigen Körper bewegt! Solange das Herz lebt, werden die Glieder am Leben sein und die Seele sich selbst öffnen für die Anbetung. Wenn das Herz jedoch erkrankt, dann wird die Anbetung zu schwer für die Seele, was dazu führt Anbetung gegebenenfalls nicht zu mögen und zu hassen und wir suchen Zuflucht bei Allah davor. Aus diesem Grund sagte Allah, der Gepriesene und Erhabene, bezüglich des Gebets:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>„Und helft euch durch Geduld und Gebet; dies ist wahrlich schwer, außer für Demütige." (2:45)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Das Gebet ist schwer, weil es nicht die Beine und Hände sind, die für das Gebet aufstehen. Was für das Gebet aufsteht ist das <strong>Herz</strong> und die <strong>Seele</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>„Wahrlich, die Heuchler versuchen, Allah zu überlisten; doch Er wird sie überlisten. Und wenn sie sich zum Gebet hinstellen, dann stehen sie ungern auf; (sie tun dies nur), um von den Menschen gesehen zu werden, und sie gedenken Allahs nur selten." (4:142)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Auf Grund dessen ist es das Herz, das für die Anbetung aufsteht. Die Glieder sind einfach Sklaven des Herzens, die das ausführen, was das Herz ihnen befiehlt. Wenn das Herz am Leben ist, dann wird die Seele am Leben sein und Anbetung wird geliebt und versüßt für die Herzen und Seelen und sich werden sich dafür öffnen.</p>
<p style="text-align:justify;">Wenn jedoch das Herz erkrankt, dann wird ihm die Anbetung zu schwer.  Das Herz ist wie das Verdauungssystem:  Im Augenblick ist für dich die beliebteste Sache Fleisch. Wenn du jedoch ein Geschwür in deinem Verdauungssystem trägst, dann wird das Fleisch, mit all seinem Fett und Öl, zur meist gehassten Sache, da es erkrankt ist. Süßigkeiten sind ebenfalls etwas, was für die Seele geliebt ist. Wenn du z. B. im Augenblick fasten würdest und du dabei wärst dein Fasten mit einigen Desserts zu brechen, dann würde deine Seele damit befriedigt sein, richtig? Wenn jedoch jemand an Diabetes leidet, dann wird dieser nicht in der Lage sein dieses zuckerhaltige Essen zu verarbeiten, auch wenn diese von ihm geliebt werden.</p>
<p style="text-align:justify;">Das Herz ist gleich dem: Es muss stark sein, so dass es Anbetung verrichten kann, die stark ist. Je stärker dein Herz wird, desto mehr Anbetung, soviel wie du willst, kannst du auf ihm werfen. Du solltest aufstehen zum Gebet in der Nacht und du wirst dieses Gebet schätzen und den Schlaf als deinen Feind betrachten:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>„Ihre Seiten halten sich fern von (ihren) Betten; sie rufen ihren Herrn in Furcht und Hoffnung an..." (32:16)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Er beginnt sich davon fernzuhalten, weil eine Feindschaft entsteht zwischen ihm und seinem Bett. Er betet hinter dem Imam und sagt zu sich selbst, „Wenn er nur das Gebet länger machen würde", so dass er sich steigert in seiner Hingabe zur Anbetung und dem Kosten seiner Süße.</p>
<p style="text-align:justify;">Zeitweise würde ich ein normales Gebet mit den Leuten hinter mir beten. Die Jugend würde dann zu mir kommen und (den Hadith) sagen: <strong>„Wer auch immer die Leute im Gebet leitet, sollte es ihnen erleichtern", </strong>die Jugend! Und es wäre ein alter Mann hinter mir, der zwischen 90 und 100 Jahre alt wäre, dessen Gesicht mit weißem Licht erfüllt ist, der zu mir sagen würde: „Verlängere weiter das Gebet und antworte ihnen nicht." Ein Mann von 90 Jahren erlangt den Genuss eines langen Gebets und ein Junge von 20 Jahren, der vielleicht Karate und Judo praktiziert, kann das gleiche Gebet nicht verarbeiten.</p>
<p style="text-align:justify;">Warum?</p>
<p style="text-align:justify;">Wenn er das Fußballfeld betritt und dort zwei Stunden verbringt ohne Müde zu werden, warum wird er dann Müde vom 5 minütigen Hören des Qur'an? Der Unterschied zwischen einem kurzen Gebet und einem langen Gebet ist lediglich fünf Minuten, also warum wird er Müde von diesen fünf Minuten des Qur'ans, wo er doch von zwei Stunden Fußball nicht Müde wurde? Warum wird er nicht Müde durch das zweistündige Stehen und Starren auf ein aufgepumptes Stück Leder, dessen Herz dem zugeneigt ist?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Weil das, was zum Gebet aufsteht, das Herz ist</strong> und was aufsteht für Sport lediglich der Körper und die Muskeln sind."</p>
<p style="text-align:justify;"><em>[Aus einem Vortrag, gehalten von ‘Abdullah ‘Azzam am 15. Juni, 1988, mit dem Titel, „Die wahre Vorbereitung", zu finden in der Sammlung, „at-Tarbiyah al-Jihadiyyah wal-Bina"; 1/220]</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tegar Dalam Menghadapi Ujian]]></title>
<link>http://misbahonline.wordpress.com/?p=34</link>
<pubDate>Fri, 11 Apr 2008 11:25:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>misbahonline</dc:creator>
<guid>http://misbahonline.wordpress.com/?p=34</guid>
<description><![CDATA[Mungkin akan ada yang bertanya, “Saya adalah seorang yang baru saja serius dalam berislam. Saya ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin akan ada yang bertanya, “Saya adalah seorang yang baru saja serius dalam berislam. Saya takut saya tidak bisa tegar dalam menghadapi berbagai cobaan, atau tidak sabar menghadapinya.”</p>
<p>Untuknya saya katakan, “Nabi saw bersabda: ‘’Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar niscaya Allah akan menjadikannya sabar.’’ Juga, ‘‘Barangsiapa berusaha untuk selalu mengerjakan kebaikan niscaya Dia akan memberikannya, dan barangsiapa menjaga diri dari keburukan niscaya Dia akan menjaganya.”<!--more--><br />
Oleh karena itu, siapa saja yang mengusahakan faktor-faktor kesabaran, niscaya Allah akan merizkikan sabar kepadanya. Dan barangsiapa mengusahakan faktor-faktor <em>wahn</em>, gelisah, dan kehinaan, niscaya Dia akan tertimpa sesuatu yang faktor-faktornya telah diusahakannya.<br />
وَمَا ظَلَمَهُمُ اللهُ وَلَكِنْ كَانُوْا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ<br />
“ Dan tidaklah Allah berbuat dzalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berbuat dzalim (kepada Allah)” (an-Nahl : 33)<br />
Untuk itu wahai saudaraku seislam, berusahalah untuk bersabar. Sabarkanlah diri Anda untuk masa tertentu, niscaya Anda akan mendapati diri Anda dalam keadaan sabar setelahnya. Bahkan bisa jadi telah menjadi pribadi yang ridla, insya Allah. Salah seorang salaf berkata, “Aku giring diriku kepada Allah dalam keadaan menangis. Aku terus menggiringnya sampai ia kembali kepadaku dalam keadaan tertawa.”<br />
Adapun jika hal-hal yang melelahkan Anda semakin menghebat, ujian semakin bertambah, musibah semakin dahsyat, dan nafsu ammarah bis suu’ (nafsu yang mngajak kepada kejelekan) berbisik supaya Anda cenderung kepada dunia -meski sesaat- atau Anda dapati nafsu ammarah bis suu’ itu menyesatkan diri Anda, maka berusahalah terus untuk membinanya sampai ia benar-benar tunduk kepada Anda, menyerahkan semua urusannya kepada Anda, dan menjawab seruan dari Allah dalam keadaan ridla setelah sebelumnya ia membencinya.<br />
Jika Anda mulai menginginkan dunia katakan kepada diri Anda sendiri, “Wahai diri, sungguh kamu telah menghabiskan separuh lebih dari perjalananmu menuju Allah, sisanya hanyalah tinggal sedikit saja. karenanya, bersabarlah di atasnya. Wahai diri, janganlah kamu sia-siakan amal shalih yang telah kau kerjakan, juga bangunmu di waktu malam dan siang, juga kelelahanmu selama bertahun-tahun di jalan Allah dalam masa yang hanya sebentar ini. Hanya saja kesabaran ini tidak akan lama Bersabarlah. Sesungguhnya kedudukan cobaan itu seperti tamu, ia pasti akan segera berlalu. Nikmat sekali memujinya di ruangan perjamuan di hadapan tuan rumah. Wahai kaki-kaki penopang kesabaran teruslah bergerak. Sungguh, tiada yang tersisa kecuali sedikit saja.</p>
<p>Terhadap nafsunya seorang aktifis mestinya melakukan hal yang dilakukan oleh Bisyr al-Hafiy bersama salah seorang muridnya yang turut serta dalam salah satu perjalanannya. Saat itu si murid dilanda dahaga dalam perjalanannya. Ia minta kepada Bisyr, “Mari kita minum air sumur itu!” Bisyr menjawab, “Bersabarlah, sampai kita bertemu dengan sumur yang lain.” Lalu ketika keduanya telah sampai ke sumur berikutnya, Bisyr berkata lagi, “Sampai sumur berikutnya.” Begitulah, Bisyr terus mengatakan untuk bersabar sampai sumur berikutnya dan akhirnya ia katakan, “Demikianlah dunia itu akhirnya akan terhenti.”<br />
Ibnu al-Jauziy berkata, “Inilah fajar pahala mulai menjelang malam cobaan mulai menghilang sang pejalan disambut dengan pujian, hampir menuntaskan gulitanya malam Matahari pahala tiada sedikit pun menghadirkan bayang-bayang hingga sang pejalan telah sampai ke rumah keselamatan.”<br />
Ada satu ungkapan dari Imam Ahmad yang sungguh sangat membuat saya terkagum-kagum. Ungkapan pendek yang membutuhkan tadabbur dan tafakkur yang panjang. Berulang-ulang beliau katakan, “Hanya saja itu adalah makanan yang bukan makanan, minuman yang bukan minuman. Hanya saja itu adalah hari-hari yang sedikit.”<br />
Lalu, bersama nafsunya seorang aktifis harus merenung sejenak, dan berbicara kepadanya, “Tidakkah kau lihat, ahli dunia itu ditimpa musibah dan cobaan berlipat-lipat daripada musibah yang menimpamu. Padahal mereka tidak mendapatkan pahala untuk itu dan tidak pula diberi rizki oleh Allah yang berupa kesabaran. Dikala tertimpa musibah, kebanyakan mereka berada dalam kesempitan, kesusahan, kegelisahan, kegundahan, dan bahkan menjadi gila karena musibah itu. Pernahkah kau dengar ada sebuah mobil berisi satu keluarga lengkap yang tenggelam dan semua yang ada di dalamnya meninggal dunia? Bandingkan musibah yang menimpamu dengan musibah yang menimpa mereka! Sesungguhnya puncak musibah yang menimpamu adalah kamu dibunuh oleh musuh-musuhmu. Dan itu bukan musibah! Bukan! Itu adalah kemuliaan bagimu, dan bahkan itulah kehidupan yang paling berharga, paling mahal. Sesudah itu kamu tiada lagi merasakan derita atau pun luka. Ya sebutir atau beberapa butir peluru yang menembus jasadmu dan tiada rasa bagimu melainkan serasa dicubit, seperti dikatakan oleh Rasulullah saw<br />
Kemudian bertanyalah kepada nafsu, “Apa lagi yang bisa dilakukan oleh musuhmu kepadamu? Memenjarakanmu sebulan, dua bulan, setahun, bertahun-tahun, atau bahkan seumur hidupmu? Sungguh adalah menjadi kemuliaan bagimu dengan dapat menghabiskan umurmu di jalan Allah. Adalah menjadi suatu kemuliaan bagimu dengan mengikuti jejak Yusuf as yang dipenjarakan selama beberapa tahun!”<br />
Katakan juga kepada nafsu ammarah bis suu’ yang ada padamu, “Wahai nafsu, tidakkah kau lihat ribuan orang menjadi penghuni hotel prodeo karena bermaksiat kepada Allah?! Cukuplah menjadi suatu kemuliaan bagimu bahwa kamu ditimpa ujian karena ketaatanmu kepada Allah ‘azza wa jalla. Ada di antara mereka yang divonis hukuman mati karena memenuhi syahwat sesaat, memperkosa seorang gadis. Ada juga yang dipenjara seumur hidup karena memenuhi seruan setan, terperosok dalam dunia narkoba. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Lalu pikirkan juga tentang ribuan pecinta dunia dan orang-orang kafir yang ditimpa musibah berupa cacat tetap (invalid) atau buta. Mereka semua jauh lebih menderita dibandingkan dengan dirimu. Musibah yang menimpa mereka beratus kali lipat jika dibandingkan dengan yang menimpa dirimu. Belum lagi jika beberapa bulan atau tahun ini justru menjadi sebab dari keberhasilanmu mencapai imamah fiddien, menggapai ma’rifatullah dan perintah-Nya, serta sampainya dirimu ke derajat ‘abidin (ahli ibadah), zahidin (orang-orang yang zuhud), dan khasyi’in (orang-orang yang khusyu’). Berapa banyak ikhwah yang baru merasakan hakekat bangun malam di kala kondisi benar-benar berat.<br />
Berapa banyak mereka yang baru memahami dan mengerti maksud dari ayat-ayat tertentu dan kedalaman hikmah yang ada di dalamnya pada kondisi yang berat pula, disamping dapat menghapal dan mengkaji tafsirnya. Semuanya masih ditambah dengan pencapaian terhadap satu derajat ilmiah yang tidak dapat dipelajari dari buku-buku dan literatur yang ada serta pemahaman terhadap makna-makna yang rasa manisnya tiada pernah dapat dikecap meski teks-teksnya dibaca, dikaji, atau pun dihapal. Itu seperti makna tawakkal, inabah, khasyyah, taubat, yaqin, dan ridla. Semoga Allah senantiasa merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang berkata, “Aku, surga dan tamanku ada di dalam dadaku, ke mana pun aku pergi ia selalu bersamaku, tidak meninggalkanku. Jika aku dipenjara, bagiku itu adalah khalwah. Jika aku dibunuh, bagiku itu adalah syahadah. Dan jika aku diusir dari negeriku, bagiku itu adalah siyahah, jalan-jalan.”<br />
Hendaknya seorang aktifis mengucapkan perkataan Ibnul Jauziy yang mengadu kepada Rabbnya, “Betapa beruntungnya diriku atas apa yang direnggut dariku, ketika buahnya adalah aku bersimpuh di hadapan-Mu. Betapa lapangnya penawananku kala buahnya adalah aku berkhalwah dengan-Mu. Betapa kayanya diriku ketika aku faqir kepada-Mu. Betapa lembutnya diriku kala Engkau jadikan ciptaan-Mu berlaku zhalim kepadaku. Ah.. sia-sialah masa yang hilang bukan dalam rangka berkhidmah kepada-Mu, begitu pun waktu yang berlalu bukan dalam ketaatan kepada-Mu. Kala aku bangun menjelang fajar, tidurku sepanjang malam tidak lagi menyiksa diriku. Kala siang beranjak lepas, hilangnya seluruh hari itu tidak lagi melukaiku. Aku tidak tahu bahwa diriku yang mati rasa ini dikarenakan sakit yang dahsyat. Kini, hembusan angin kesejahteraan telah bertiup, aku telah dapat merasakan derita, dan aku tahu diriku kini sehat. Wahai Dzat yang Maha Agung anugerahnya, sempurnakanlah kesejahteraan bagi diriku.”</p>
<p>(diambil dari buku Penawar Lelah Pengemban Dakwah, Uswah)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[As-Syaheed Dr. Sheikh Abdullah Azzam]]></title>
<link>http://misbahonline.wordpress.com/?p=27</link>
<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 13:16:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>misbahonline</dc:creator>
<guid>http://misbahonline.wordpress.com/?p=27</guid>
<description><![CDATA[(Orang yang Paling Bertanggung Jawab Terhadap bangkitnya Jihad di Abad 20)
Abdullah Yusuf Azzam dila]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>(Orang yang Paling Bertanggung Jawab Terhadap bangkitnya Jihad di Abad 20)</strong></em></p>
<p><img class="alignleft" style="float:left;border:1px solid black;margin:6px 10px;" src="http://forum.takva.com/images/avatars/Ornek_Sahsiyetler/azzam2.jpg" border="1" alt="Azzam" width="100" height="100" align="left" />Abdullah Yusuf Azzam dilahirkan di sebuah kampung di Utara Palestin yang dikenali sebagai Selat al-Harithia di daerah Genine pada tahun 1941. Bapaknya bernama Mustaffa yang meninggal dunia setahun selepas pembunuhan anaknya. Ibunya pula bernama Zakia Saleh yang meninggal dunia setahun sebelum Sheikh Abdullah Azzam dibunuh. Ibunya dikebumikan di kamp Pabi.<!--more--><br />
Beliau dari keluarga yang baik latar-belakang keagamaannya. Keluarga beliau gembira mempunyai anak lelaki, Abdullah Yusuf Azzam, yang istimewa di kalangan kanak-kanak lain dan mula menyebarkan dakwah pada usia yang muda. Rakan-rakan beliau mengenali beliau sebagai seorang yang warak. Beliau menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan pada usia muda. Guru-guru beliau melihat keistimewaan ini sejak beliau di bangku sekolah lagi. Beliau menyertai al-Ikhwan-ul-Muslimin sebelum mencapai usia baligh. <!--more--><br />
Sheikh Abdullah Azzam telah dikenali kerana ketabahan dan sifat beliau yang serius sejak beliau masih kecil lagi. Beliau menerima pendidikan awal peringkat sekolah rendah dan menengah di kampung beliau sebelum menyambung pelajaran beliau di Kolej Pertanian Khadorri sehingga ke peringkat Diploma. Walaupun beliau merupakan pelajar termuda di kalangan rakan-rakan beliau, beliau merupakan yang paling pandai dan bijak. Setelah menamatkan pengajian di Kolej Khadorri beliau bekerja sebagai seorang guru di sebuah kampung bernama Adder di Selatan Jordan. Kemudian beliau menyambung pengajian di Kolej Shariah di Universiti Damascus sehingga memperolehi Ijazah B.A. dalam Shariah pada 1966. Selepas pihak Yahudi menawan Tebing Barat pada tahun 1967, Sheikh Abdullah Azzam berhijrah ke Jordan, kerana beliau tidak mahu tinggal di bawah penjajahan Yahudi di Palestin. Pengalaman melihat kereta-kereta kebal Israel bergerak masuk ke Tebing Barat tanpa apa-apa tentangan meningkatkan azam beliau untuk berhijrah bagi mendapatkan kemahiran yang diperlukan untuk berperang.<br />
Pada lewat 1960-an beliau menyertai Jihad menentang penjajahan Israel di Palestin dari Jordan. Pada ketika itu juga beliau menerima Ijazah Masters di dalam bidang Shariah dari Unversiti al-Azhar. Pada tahun 1970 sesudah Jihad terhenti kerana kekuatan PLO dipaksa keluar dari Jordan, beliau menjadi seorang pensyarah di Universiti Jordanian di Amman. Pada tahun 1971 beliau dianugerahkan biasiswa ke Universiti al-Azhar di Kaherah di mana beliau memperolehi Ijazah Kedoktoran di dalam bidang Ussul al-Fiqh pada 1973. Ketika di Mesir beliau telah berkenalan dengan keluarga Syed Qutb.<br />
Pada tahun 1979 beliau meniggalkan universiti tersebut lantas berpindah ke Pakistan untuk hampir dengan Jihad di Afghanistan. Di sana juga beliau mengenali pemimpin-pemimpin Jihad. Semasa mula-mula tiba ti Pakistan beliau telah dilantik sebagai pensyarah di Universiti Islam Antarabangsa di Islamabad. Selepas beberapa ketika beliau mengambil keputusan untuk berhenti dari tugas universiti untuk menumpukan keseluruhan masa dan tenaga beliau kepada Jihad di Afghanistan.<br />
Abdullah Azzam sangat banyak dipengaruhi oleh Jihad di Afghanistan dan Jihad di Afghanistan juga sangat banyak dipengaruhi oleh beliau sejak beliau menumpukan seluruh masa beliau untuk Jihad. Beliau menjadi seorang yang disegani di arena Jihad Afghanistan disamping para pemimpin Afghan sendiri. Beliau menumpahkan seluruh daya usaha untuk menyebarkan dan memahamkan Jihad di Afghanistan ke seluruh dunia, terutamanya melalui Ummah Islam. Beliau mengubah pandangan umat Islam tentang Jihad di Afghanistan dan menyedarkan bahawa Jihad adalah tuntutan Islam yang dipertanggung-jawabkab pada semua umat Islam di seluruh dunia. Berkat hasil usaha beliau, Allah menjadikan Jihad Afghan satu Jihad universal yang disertai oleh umat Islam dari serata pelosok dunia.<br />
Jihad di Afghanistan telah menjadikan Abdullah Azzam tunggak pergerakan Jihad zaman ini. Melalui usaha beliau menyertai Jihad ini, menyebarkan dan memahamkan Jihad ini, membuang halangan-halangan pada Jihad ini, beliau berperanan penting dalam mengubah pemikiran umat Islam tentang Jihad dan keperluan Ummah ini pada Jihad. Beliau menjadi idola generasi muda yang menyahut seruan Jihad. Beliau sangat menghargai Jihad dan keperluan Ummah ini pada Jihad. Pernah beliau berkata, ‘Aku rasa seperti baru berusia 9 tahun, 7 setengah tahun di Jihad Afghan, 1 setengah tahun di Jihad Palestin dan tahun-tahun yang selebihnya tidak bernilai apa-apa.<br />
Beliau juga melatih keluarga beliau dengan kefahaman dan semangat yang sama. Isteri beliau contohnya, terlibat dengan penjagaan anak-anak yatim dan lain-lain kerja kebajikan di Afghanistan. Beliau sendiri menolak jawatan pensyarah dari beberapa buah universiti sambil berikrar bahawa beliau tidak akan meninggalkan Jihad sehingga beliau gugur Shahid. Beliau juga selalu mengatakan bahawa matlamat utama beliau adalah untuk membebaskan Palestin. Tentu sekali komitmen yang sebegitu tinggi pada Islam menimbulkan keresahan di kalangan musuh-musuh agama ini. Mereka bersekongkol untuk membunuh beliau. Pada tahun 1989, sebuah periuk-api anti kereta-kebal diletakkan di bawah mimbar yang beliau gunakan untuk menyampaikan khutbah Jumaat. Bahan letupan tersebut adalah sangat merbahaya dan sekira meletup akan memusnahkan masjid tersebut bersama-sama dengan segala-gala benda dan para jemaah di dalamnya. Tetapi dengan perlindungan Allah, periuk-api tersebut tidak meletup dan ratusan orang Islam terselamat.<br />
Musuh-musuh Islam ini terus berusaha; Pada hari Jumaat, 24 November 1989 di Peshawar, Pakistan, mereka telah menanam tiga buah bom di sebatang jalan yang sempit. Beliau meletak kereta di kedudukan bom pertama dan kemudian berjalan ke masjid untuk bersolat Jumaat. Beliau telah dibunuh bersama-sama dengan dua orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, beserta dengan anak lelaki al-marhum Sheikh Tamim Adnani (seorang lagi perwira di Afghan) dengan 20kg TNT (Dinamit) yang diletupkan dengan alat kawalan jauh. Selepas letupan yang kuat itu itu orang ramai keluar beramai-ramai dari masjid dan kelihatanlah satu keadaan yang mengerikan. Hanya bahagian kecil dari kereta tersebut yang kelihatan. Anak beliau, Ibrahim, melambung 100 meter; begitu juga dengan dua orang anak-anak lagi. Cebisan mayat mereka berteraburan di atas pokok-pokok dan wayar-wayar elektrik. Sheikh Abdullah Azzam pula, tubuh beliau dijumpai bersandar pada sebuah tembok, dalam keadaan sempurna dan tiada luka atau kecederaan walau sedikitpun melainkan sedikit darah yang mengalir dari bibir beliau. Begitulah tamatnya kehidupan seorang Mujahid di dunia ini dan insha-Allah menyambung pula kehidupannya di sisi Allah.<br />
Beliau dikebumikan di Tanah Perkuburan Shuhada Pabi di mana beliau menyertai ribuan para Shuhada.</p>
<p><strong>(Sumber: sabiluna.net, dari Azzam Publications www.azzam.com)</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cita-cita itu masih ada, Sayang…]]></title>
<link>http://hasanmiftah.wordpress.com/2008/03/11/cita-cita-itu-masih-ada-sayang%e2%80%a6/</link>
<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 08:34:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Hasan</dc:creator>
<guid>http://hasanmiftah.wordpress.com/2008/03/11/cita-cita-itu-masih-ada-sayang%e2%80%a6/</guid>
<description><![CDATA[Esok adalah hari terakhir batas waktu habisnya sewa kontrakan mungil kita. Kemarin aku sempat mengha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#4f81bd;">Esok adalah hari terakhir batas waktu habisnya sewa kontrakan mungil kita. Kemarin aku sempat menghadirkan awan kelabu di mata indahmu, bidadariku. Mungkin saat itu dirimu sedang lelah, atau bingung mau bagaimana. Tapi aku harus secepatnya mengambil keputusan. Dengan terpaksa aku mengkonfirmasi menerima tawaran seorang teman untuk menempati salah satu rumahnya yang sudah cukup lama tidak terhuni dan juga tidak terawat. Aku dan dirimu sempat berselisih mengenai keputusan itu, tatkala keputusan itu harus ku ambil yang mungkin tidak terlalu sesuai dengan konsep kemandirian yang sejak awal kita usung. Mungkin banyak yang seharusnya ku sampaikan padamu sebelum memberitahukan keputusanku untuk menerima tawaran itu…<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#4f81bd;">Cinta, maafkan daku tidak memberitahukan dirimu dulu alasanku untuk mengambil keputusan ini. Ku tahu dirimu sangat disibukkan oleh semua aktifitas rumah tangga dan mengayomi dua '<i>aktivis</i>' kecil dirumah kontrakan mungil kita. Aku juga tahu jika ini tidak sesuai dengan cita-cita kita dulu. Keputusanku untuk menerima tawaran itu harus cepat aku lakukan. Dua hari lagi setelah diskusi kita adalah hari terakhir jatah sewa kontrakan kita sementara dana yang tersisa hanya cukup untuk makan kita beberapa hari ke depan saja. Jangankan untuk membayar kontrakan, untuk membeli susu putri sulung kita pun entah bagaimana. Kita mungkin bisa menceritakan masalah keuangan ini ke saudara-saudara kita, dan pasti mereka bisa segera membantu secepatnya. Tapi aku adalah laki-laki yang masih memiliki harga diri untuk tidak meminta dan merepotkan orang lagi. Kita yang seharusnya lebih pandai lagi menyiasati keterbatasan kondisi kita. Kontrakan kita saat ini cukup mahal untuk kita yang masih belum berpenghasilan pasti. Dirimu pasti mengenal aku yang tidak mungkin berbagi <i>qodhoya</i> (masalah) dengan orang lain. Aku hanya ingin menebar senyum meski pahit yang sedang kita rasakan.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#4f81bd;">Mentariku, kita memiliki harta yang paling berharga di dunia ini, kedua anak kita tercinta. Mereka adalah investasi akhirat kita kelak. Pendidikan mereka adalah tanggung jawab kita berdua. Mereka adalah kertas putih dan kitalah yang akan menulis dan mewarnainya. Apalagi saat ini adalah masa yang penting menanamkan akar yang kuat pada diri mereka. Sehingga kita pun harus sedapatnya melindunginya dari hama dan hewan pengerat yang akan habis menggerogoti pola pikir mereka. Dengan batas waktu 1x24 jam yang diberikan itu mungkin kita memang harus secepatnya menemukan tempat tinggal sementara tanpa memiliki banyak waktu memilih kontrakan yang akan kita tempati. Kontrakan kita saat ini meski mahal bagi kita, tidaklah baik untuk perkembangan anak kita. Bagaimana kita bisa meminta putri kita untuk mengenakan jilbabnya jika selepas dari pintu yang mereka lihat adalah para wanita tetangga kita yang berada di rumah ketika siang dan meninggalkan rumah menjelang malam, yang mengenakan pakaian tidur minim dan sangat tidak pantas apalagi pada siang hari. Apa yang putra-putri kita lihat adalah contoh yang akan mereka lakukan baik berwarna putih, hijau, merah, atau bahkan hitam sekalipun.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#4f81bd;">Bidadari kehidupanku, keinginan dan cita-citaku untuk hidup mandiri masih tetap besar dan kokoh seperti dulu. Bahkan cita-cita itu makin terpatri ketika putri pertama kita terlahir ke dunia. Aku ingin anakku melihat bahwa ayahnya adalah orang yang memiliki izzah yang besar yang hanya menggantungkan hidup pada Rabb-nya semata seperti yang dilafadzkan dalam setiap rakaat sholat-sholatnya meski dalam kondisi sulit seperti saat ini. Tapi jangan sampai idealisme kita berubah menjadi egoisme pribadi hingga yang hadir adalah pemaksaan kehendak pada diri sendiri dan orang lain. Idealisme adalah kondisi ideal yang ingin kita raih tapi egoisme bisa mengarahkan kita pada mendzalimi diri kita dan orang lain.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#4f81bd;">Duhai penyejuk hatiku, aku tetaplah menjadi nahkoda dari bahtera rumah tangga ini. Terkadang aku harus memutuskan bahtera ini untuk sedikit ke Barat atau ke Timur meski Utara yang kita tuju, atau berhenti dan menurunkan jangkar atau mungkin malah harus kembali ke Selatan. Aku tidak mungkin membiarkan sikap egoisku mendominasi, aku tidak mungkin memaksakan bahtera ini untuk terus melaju ke Utara meski ada topan badai yang sangat besar atau batu karang besar di depan mata yang pasti tidak mungkin kita lewati. Aku tidak mungkin menempatkan bahtera ini beserta penumpang di atasnya dalam bahaya yang justru menyebabkan tidak tercapainya tujuan akhir kita. Aku adalah pilot dari pesawat terbang kecil kita yang terkadang harus bermanuver ke Barat atau Timur, terpaksa mendarat di landasan terdekat, kembali ke landasan semula, atau mungkin mendarat darurat dimana juga yang paling baik untuk semuanya. Aku tidak bisa memaksakan kehendak untuk tetap menerbangkan pesawat ini ke Utara dan menempatkan semua penumpang dalam bahaya hanya untuk idealisme yang telah bergeser menjadi egoisme semata. Bahkan mungkin aku harus cepat mengambil keputusan itu tanpa sempat memberitahukan alasannya kepada setiap penumpang. Aku tidak mungkin mendzalimi diri kita dan anak-anak harapan masa depan akhirat kita. Kita masih akan tetap ke Utara meski itu harus tertunda entah untuk berapa lama, tetapi <i>azzam</i> itu masih ada. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#4f81bd;">Rembulanku, aku terpaksa lebih memilih menerima apa yang sudah ditawarkan daripada harus meminta yang bisa menyulitkan orang lain dan belum tentu tersedia. Aku lebih memilih tinggal bersama kadal, ular sawah, lipan, dan ratusan ulat bulu yang masih memenuhi kebun depan dan belakang rumah yang sudah lama tidak terawat itu daripada harus tinggal dilingkungan yang bisa jadi lebih berbahaya untuk anak-anak kita. Itu memang bukan rumah kontrakan kita sendiri tapi meminta malah akan semakin membuat <i>izzah</i>-ku lebih terhina. Kita pun sudah sepakat untuk tidak akan pernah lagi berhutang. Aku pun menerima tawaran fasilitas tinggal gratis rumah ini dengan berat dan terasa pahit. Tapi aku harus menebar senyum, menyegarkan kepala dan menyingkirkan fikiran-fikiran yang menyesakkan dada. Delapan puluh tiga ribu yang tersisa, entah harus dimana mencari kontrakan di daerah industri seperti ini seharga itu, lalu bagaimana dengan susu dan makanan anak-anak kita, apalagi aku masih belum bisa juga bekerja. …"<i>Ya, Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami…</i>" (QS.3:147)<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#4f81bd;">Maafkan aku, Cinta. Tapi tak usah ragu cita-cita itu masih ada, Sayang… <i>Hasbunallahu ni'mal wakiil, ni'mal mawla wa ni'man nashiir…</i><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">&#160;</p>
<p><span style="color:#4f81bd;">~Abu Hasan~<br />
</span></p>
<p><span style="color:#4f81bd;">&#60;Dari catatan harian seorang teman&#62;<br />
</span></p>
<p><span style="color:#4f81bd;">Semoga senyuman dapat selalu hadir dalam hidup mereka. Semoga tawa dan canda putra-putri mereka mampu membuka mata hati seseorang pencinta mereka yang memposisikan mereka dalam kondisi seperti saat ini. Semoga Allah Yang Maha Adil mengangkat mereka sekeluarga dalam syurga-Nya.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wolves Still Prowlin']]></title>
<link>http://pubwisdom.wordpress.com/?p=119</link>
<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 18:19:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pub Wisdom</dc:creator>
<guid>http://pubwisdom.wordpress.com/?p=119</guid>
<description><![CDATA[Riverside King went into the vaunted house of fabled Westchester and shot the Comets down. Down 16-6]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Riverside King went into the vaunted house of fabled Westchester and shot the Comets down. Down 16-6 early, the Wolves roared back to close the first half with momentum, then held off the inevitable home-team surge down the stretch for the tuff 77-75 victory. Whew...</p>
<p>Full coverage, including props from Westchester's Coach Azzam, <a target="_blank" href="http://www.latimes.com/sports/highschool/la-spw-hsboysbkbrup5mar05,0,3997043.story"><strong>here. </strong></a></p>
<p>Up next: The giant-hunting continues as MLK tries to creep Taft of Woodland Hills in the semi-fuggin-finals.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sheikh Abdullah Azzam Bersama Kafilah Para Syuhada]]></title>
<link>http://pemudakahfi.wordpress.com/2008/01/24/sheikh-abdullah-azzam-bersama-kafilah-para-syuhada/</link>
<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 11:06:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pasukan Badar</dc:creator>
<guid>http://pemudakahfi.wordpress.com/2008/01/24/sheikh-abdullah-azzam-bersama-kafilah-para-syuhada/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Sheikh Abdullah Azzam bukanlah orang biasa. Dia mewakili satu bangsa, satu Ummat. Tubuh Ummat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>"Sheikh Abdullah<a href="http://imageshack.us/"><img src="http://img95.imageshack.us/img95/2052/storiesazzam19fc.jpg" alt="Image Hosted by ImageShack.us" align="left" border="0" width="150" /></a> Azzam bukanlah orang biasa. Dia mewakili satu bangsa, satu Ummat. Tubuh Ummat ada di dalam dirinya. Setelah kematiannya, para muslimah sejauh ini gagal melahirkan seorang laki-laki yang mampu menggantikan Beliau".  [Usama bin Ladin, wawancara dengan TV Al-Jazeera, 1999] "Dialah yang bertanggung jawab membangkitkan kembali Jihad di abad 20 ini".<br />
[Majalah Time] "Dia tidak hanya mewakili dirinya sendiri, melainkan seluruh Ummat. Ucapannya tidaklah seperti ucapan orang biasa. Sedikit bicaranya, namun kandungannya sangat dalam. <!--more-->Jika engkau menatap matanya, hatimu akan terpenuhi dengan iman dan cinta kepada Allah SWT".</p>
<p>[Ulama Mujahid asal Mekkah] " Tidak satupun Tanah Jihad di seluruh dunia, tidak seorangpun Mujahid yang berjuang di Jalan Allah, yang tidak terinspirasi oleh hidup, ajaran dan karya Sheikh Abdullah Azzam".</p>
<p>[Azzam Publications] " Pada dekade 1980-an, Syuhada Sheikh Abdullah Azzam mencetuskan satu kalimat yang maknanya bergaung di seluruh medan pertempuran Chechnya saat ini. Sheikh Abdullah Azzam Rahmatullah 'Alaihi menggambarkan bahwa Para Mujahid yang gugur dalam pertempuran bergabung bersama "Kafilah Para Syuhada".</p>
<p>[Ibnu Al-Khattab, Panglima Mujahidin Chechnya]</p>
<p>Abdullah Yusuf Azzam lahir pada tahun 1941 di Desa Asba'ah Al-Hartiyeh, Propinsi Jiniin, Tanah Suci Palestina yang diduduki Israel. Beliau dibesarkan di sebuah rumah yang bersahaja dimana Beliau dididik agama Islam, ditanamkan kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya SAW, terhadap Mujahid yang berjuang di Jalan-Nya dan terhadap orang-orang yang shaleh yang mencintai kehidupan akhirat.Semasa masih kanak-kanak, Abdullah Azzam sangat menonjol di antara anak-anak lainnya. Beliau sudah mulai menyiarkan dakwah Islam semenjak masih sangat muda. Teman-teman sepergaulan mengenal Beliau sebagai seorang anak yang shaleh.</p>
<p>Beliau telah menunjukkan tanda-tanda yang luar biasa sejak muda dan guru-guru Beliau telah mengenali tanda-tanda ini sejak Beliau masih di Sekolah Dasar. Sheikh Abdullah Azzam dikenal karena ketekunan dan kesungguhannya bahkan sejak masih kecil, Beliau memperoleh pendidikan dasar dan menengah di desanya dan kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Pertanian Khadorri hingga memperoleh gelar. Meskipun Beliau yang termuda di antara teman-temannya, namun Beliau adalah yang terpandai dan terpintar. Setelah menamatkan pendidikannya di Khadorri Beliau bekerja sebagai guru di Desa Adder, Yordania Selatan. Kemudian Beliau menuntut ilmu di Fakultas Syariah, Universitas Damaskus Suriah hingga memperoleh gelar B.A. di bidang Syariah pada tahun 1966.</p>
<p>Ketika tentara Yahudi merebut Tepi Barat pada tahun 1967, Sheikh Abdullah Azzam memutuskan untuk pindah ke Yordania, karena Beliau tidak ingin hidup di Palestina yang berada di bawah pendudukan Yahudi. Melihat bagaimana tank-tank Israel maju memasuki Tepi Barat tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti, menimbulkan perasaan bersalah dalam diri Beliau, sehingga membuat Beliau semakin mantap untuk hijrah dengan maksud agar dapat mempelajari ilmu perang.</p>
<p>Pada akhir dekade 1960-an, dari Yordania Beliau bergabung dalam Jihad menentang pendudukan Israel atas Palestina. Tidak lama kemudian Beliau pergi belajar ke Mesir dan memperoleh gelar Master dalam bidang Syariah di Universitas Al-Azhar, Kairo. Pada tahun 1970, setelah Jihad terhenti karena kekuatan PLO diusir keluar dari Yordania, Beliau menjadi dosen di Universitas Yordania di Amman. Setahun kemudian, tahun 1971, Beliau memperoleh beasiswa dari Universitas Al-Azhar dimana Beliau melanjutkan pendidikan S3 dan memperoleh gelar Ph.D dalam bidang Pokok-Pokok Hukum Islam (Ushul-Fiqh) tahun 1973. Selama di Mesir inilah Beliau mengenal keluarga Syuhada Sayyid Qutb (1906-1966). Sheikh Abdullah Azzam cukup lama turut serta dalam Jihad Palestina. Namun ada hal yang tidak disukainya, yaitu orang-orang yang terlibat di dalamnya sangat jauh dari Islam. Beliau menggambarkan bagaimana orang-orang ini berjaga-jaga sepanjang malam sambil bermain kartu dan mendengarkan musik, dan menganggap bahwa mereka sedang menunaikan Jihad untuk membebaskan Palestina. Sheikh Abdullah Azzam menyebutkan juga meskipun ada ribuan orang di basis-basis pemukiman, tetapi jumlah orang yang hadir untuk shalat berjama?ah bisa dihitung dengan satu tangan saja. Beliau berusaha mendorong mereka untuk menerapkan Islam sepenuhnya, namun mereka bertahan untuk menolak. Suatu hari Beliau bertanya kepada seorang "Mujahid" secara retoris, agama apa yang ada di belakang revolusi Palestina, "Mujahid" itu menjawab dengan jelas dan gamblang, "Revolusi ini tidak memiliki dasar agama apapun".</p>
<p>Habislah sudah kesabaran Abdullah Azzam. Beliau kemudian meninggalkan Palestina, pindah ke Saudi Arabia dan mengajar di berbagai universitas di sana.Saat Sheikh Abdullah Azzam menyadari bahwa hanya dengan kekuatan yang terorganisir Ummat ini bisa menggapai kemenangan, lalu Jihad dan senjata adalah kesibukan dan pengisi waktu luangnya.</p>
<p>"Jihad hanya dengan senjata. TIDAK dengan Negosiasi, TIDAK dengan Perundingan Damai, TIDAK dengan Dialog", kalimat tersebut menjadi semboyan Beliau. Beliau praktekkan apa yang selalu Beliau kumandangkan, sehingga membuat Beliau menjadi salah satu di antara orang Arab pertama yang bergabung dalam Jihad di Afghanistan melawan Uni Soviet yang komunis. Pada tahun 1980, ketika masih di Saudi Arabia, Abdullah Azzam memperoleh kesempatan berjumpa dengan satu delegasi Mujahidin Afghanistan yang datang untuk menunaikan ibadah Haji. Segera Beliau tertarik dengan kelompok ini dan ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai Jihad Afghanistan. Ketika dijabarkan kepadanya, Beliau merasa inilah yang sudah sejak lama sekali Beliau cari-cari.Beliau segera melepaskan jabatannya sebagai dosen di Universitas King Abdul-Aziz Jeddah Saudi Arabia, dan berangkat menuju Islamabad Pakistan supaya dapat ikut serta dalam Jihad. Beliau pindah ke Pakistan agar dapat lebih dekat dengan Jihad Afghanistan, dan di sanalah Beliau mengenal pemimpin-pemimpin Mujahidin. Saat-saat pertama berada di Pakistan, Beliau ditunjuk untuk memberikan kuliah di International Islamic University di Islamabad. Namun tidak lama hal ini berlangsung, karena Beliau memutuskan untuk meninggalkan universitas agar bisa mencurahkan seluruh waktu dan energinya untuk Jihad Afghanistan. Pada permulaan dekade 1980-an, Sheikh Abdullah Azzam langsung turun ke medan Jihad Afghanistan. Di Jihad inilah Beliau merasa puas bisa memenuhi kerinduan dan cinta yang tak terlukiskan untuk berjuang di Jalan Allah, persis seperti suatu kali Rasulullah SAW bersabda : <i>"Berdiri satu jam dalam pertempuran di Jalan Allah lebih baik daripada berdiri menunaikan shalat selama enam puluh tahun".<br />
</i><br />
Terinspirasi oleh Hadits ini, Sheikh Abdullah Azzam beserta keluarganya memutuskan pindah ke Pakistan agar lebih dekat dengan medan Jihad. Tidak lama setelah itu Beliau pindah lagi dari Islamabad ke Peshawar supaya bisa lebih dekat lagi dengan medan Jihad dan Syahid.Di Peshawar, bersama dengan Usama bin Ladin yang juga teman dekatnya, Sheikh Abdullah Azzam mendirikan Baitul-Anshar (Mujahideen Services Bureau atau Kantor Pelayanan Mujahidin) dengan tujuan untuk menawarkan semua bantuan yang memungkinkan bagi Jihad Afghanistan dan Para Mujahid dengan cara mengadakan dan me-manage berbagai proyek yang menunjang Jihad. Kantor ini juga menerima dan melatih para sukarelawan (Foreign Mujahideen) yang berbondong-bondong datang ke Pakistan untuk ikut serta dalam Jihad dan mengatur penempatan mereka di garis depan.</p>
<p>Dapat diduga, semua hal ini masih belum cukup memuaskan keinginan Sheikh Azzam yang menggebu-gebu berjihad. Keinginan inilah yang akhirnya membawanya pergi ke garis depan. Di medan pertempuran Sheikh Abdullah Azzam mengambil peranan dengan sikap ksatria dalam perjuangan yang penuh dengan pengorbanan yang besar. Di Afghanistan Beliau jarang menetap di suatu tempat. Beliau selalu berkeliling ke seluruh pelosok negeri mengunjungi hampir seluruh propinsi dan wilayah seperti Logar, Kandahar, Pegunungan Hindukush, Lembah Panshir, Kabul dan Jalalabad. Dalam kunjungan ini, Sheikh Abdullah Azzam menyaksikan secara langsung kepahlawanan orang-orang awam yang telah mengorbankan segala apa yang dimiliki termasuk jiwa mereka demi jayanya Dien Islam. Di Peshawar, setelah kembali dari berkeliling, Sheikh Azzam selalu berbicara tentang Jihad secara kontinyu. Beliau selalu berdo'a agar Para Komandan Mujahidin yang terpecah belah dapat bersatu padu. Beliau selalu mengundang orang-orang yang belum bergabung dalam pertempuran untuk memanggul senjata dan maju ke garis depan sebelum terlambat.</p>
<p>Abdullah Azzam sangat dipengaruhi oleh Jihad Afghanistan dan Beliaupun sangat besar pengaruhnya pada Jihad ini sejak Beliau mengabdikan diri sepenuhnya dalam perjuangan ini. Beliau menjadi salah satu tokoh yang paling menonjol dan berpengaruh bersama dengan pemimpin-pemimpin bangsa Afghanistan lainnya. Beliau tidak tanggung-tanggung mempromosikan perjuangan Afghanistan ke seluruh dunia, khususnya ke kalangan Ummat Islam. Beliau berkeliling dunia, menyampaikan panggilan kepada Kaum Muslimin untuk beraksi mempertahankan agama dan Tanah Muslim. Beliau menulis sejumlah buku tentang Jihad, seperti Join the Caravan, Signs of Ar-Rahman in the Jihad of the Afghan, Defence of the Muslim Lands dan Lovers of the Paradise Maidens. Bahkan Beliau turun langsung ke medan Jihad Afghanistan, meskipun usia Beliau telah lebih dari 40 tahun. Beliau menjelajahi Afghanistan, dari utara ke selatan, dari timur ke barat, menembus salju, mendaki pegunungan, di bawah panas terik matahari dan dingin yang membekukan tulang, dengan menunggang keledai maupun berjalan kaki. Banyak Pemuda yang bersama Beliau kelelahan, namun Sheikh Abdullah Azzam tidak. Beliau merubah pandangan Ummat Islam terhadap Jihad di Afghanistan dan menjadikan Jihad ini sebagai perjuangan yang Islami yang merupakan kewajiban seluruh Ummat Islam di dunia. Hasil dari usaha ini adalah Jihad Afghanistan menjadi universal dimana Ummat Islam dari seluruh dunia turut serta. Para Pejuang Muslim dari seluruh penjuru dunia secara sukarela berdatangan ke Afghanistan untuk memenuhi kewajiban Jihad dan membela Saudara-saudara Muslimin dan Muslimah mereka yang tertindas.</p>
<p>Kehidupan Sheikh Azzam berkisar hanya kepada satu tujuan, yakni menegakkan Hukum Allah di muka bumi ini, yang merupakan tanggung jawab yang pasti bagi setiap dan segenap Ummat Muslim. Dalam rangka melaksanakan tugas suci dalam hidup ini yaitu menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah (negara yang berdasarkan pada hukum Islam), Sheikh Azzam mengkonsentrasikan kepada Jihad (perjuangan bersenjata untuk menegakkan Islam). Beliau berkeyakinan bahwa Jihad wajib dilaksanakan sampai Khilafah Islamiyyah ditegakkan sehingga cahaya Islam menerangi seluruh dunia.</p>
<p>Beliau juga menjaga dan memelihara keluarganya dengan semangat perjuangan yang sama, sehingga istrinya, sebagai contoh, aktif mengurus anak-anak yatim piatu dan aktif dalam berbagai tugas kemanusiaan di Afghanistan. Beliau menolak jabatan di beberapa universitas dengan menyatakan bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan Jihad kecuali jika gugur di medan perang atau terbunuh. Beliau selalu menekankan kembali bahwa tujuannya yang terakhir adalah membebaskan Tanah Suci Palestina. Dalam hal ini Beliau menyatakan: "Saya tidak akan meninggalkan Tanah Jihad kecuali karena tiga hal. Pertama, saya terbunuh di Afghanistan. Kedua, saya terbunuh di Pakistan. Ketiga, saya diborgol dan diusir dari Pakistan"</p>
<p>Jihad di Afghanistan telah membuat Abdullah Azzam menjadi penyangga utama dalam gerakan Jihad di jaman modern sekarang. Dengan turun langsung dalam Jihad ini dan dengan mempromosikannya serta menjelaskan kendala-kendala yang menghambat gerakan Jihad, Beliau memiliki peranan yang sangat berarti dalam meluruskan pendapat Ummat Islam tentang Jihad dan perlunya menegakkan Jihad. Beliau menjadi panutan bagi generasi muda yang menyambut panggilan Jihad. Beliau amat mementingkan Jihad dan butuh akan Jihad. Sekali waktu Beliau berkata :<i>"Saya merasa seolah-olah berumur 9 tahun. Tujuh setengah tahun dalam Jihad di Afghanistan dan satu setengah tahun dalam Jihad di Palestina. Sisa tahun lainnya tidak berarti sama sekali".<br />
</i><br />
Dari atas mimbar Sheikh Azzam berulangkali menekankan keyakinannya : <i>"Jihad tidak boleh ditinggalkan sampai hanya Allah SWT saja yang disembah. Jihad akan terus berlangsung sampai Kalimat Allah ditinggikan. Jihad sampai semua orang yang tertindas dibebaskan. Jihad untuk melindungi kehormatan kita dan merebut kembali Tanah kita yang dirampas. Jihad adalah Jalan untuk mencapai kejayaan abadi?.<br />
</i><br />
Sejarah dan semua orang yang mengenal dekat Sheikh Abdullah Azzam mencatat keberanian Beliau dalam berbicara tentang kebenaran, dengan mengabaikan segala konsekuensi yang ada.Setiap saat Sheikh Abdullah Azzam mengingatkan seluruh Kaum Muslimin bahwa :<i>"Ummat Islam tidak dapat dikalahkan oleh ummat lainnya. Kita Ummat Islam tidak akan dikalahkan oleh musuh-musuh kita, namun kita bisa dikalahkan oleh diri kita sendiri".<br />
</i><br />
Sheikh Abdullah Azzam adalah contoh seorang yang berperilaku Islami dengan baik, dengan amal shalehnya, dengan ketaqwaannya kepada Allah SWT dan dengan kesederhanaannya dalam segala hal. Beliau tidak pernah mencemari hubungan baiknya dengan orang lain. Sheikh Azzam selalu mendengarkan pendapat Para Pemuda, Beliau amat disegani dan tidak terbersit sedikitpun rasa takut di dalam hatinya. Beliau selalu berpuasa selang seling hari seperti yang dilakukan Nabi Daud AS. Dan juga selalu menghimbau yang lainnya untuk berpuasa hari Senin dan Kamis. Sheikh Azzam adalah orang yang selalu berterus terang, tulus dan mulia. Beliau tidak pernah mencaci orang lain atau berbicara yang tidak baik mengenai orang lain.Satu saat sekelompok Muslim yang tidak puas di Peshawar mencap Sheikh Azzam sebagai kafir dan menuduhnya meminta uang dari Kaum Muslimin untuk dihambur-hamburkan. Ketika Sheikh Azzam mendengar hal ini, Beliau tidak mencari dan mendebat mereka, malah mengirimi mereka berbagai hadiah. Namun kelompok tersebut tetap saja mencaci maki, mengumpat dan memfitnah Beliau, dan Beliau terus saja mengirimi mereka hadiah lainnya. Bertahun-tahun kemudian, ketika akhirnya menyadari kesalahannya, mereka berkomentar :</p>
<p>"Demi Allah, kami belum pernah menemui seseorang seperti Sheikh Abdullah Azzam. Beliau tetap saja memberi kami uang walaupun kami selalu mengutuk dan mencaci Beliau"</p>
<p>Selama Jihad Afghanistan berlangsung, Beliau telah berhasil menyatukan berbagai kelompok Mujahidin dalam Jihad ini. Dan tentu saja kebanggaan Beliau terhadap Islam menimbulkan rasa benci di kalangan musuh agama, sehingga musuh membuat rencana untuk menghabisi nyawa Beliau. Pada November 1989, sejumlah bahan peledak TNT diletakkan di bawah mimbar dimana Beliau selalu menyampaikan khutbah setiap hari Jum?at. Demikian besar jumlah peledak tersebut sehingga seandainya meledak akan menghancurkan seluruh Masjid termasuk apa saja dan siapa saja yang ada di dalamnya. Ratusan Muslimin dapat terbunuh. Namun Allah memberikan perlindungan-Nya dan bom tersebut tidak meledak.</p>
<p>Musuh-musuhpun semakin berhasrat melaksanakan rencana gilanya. Mereka mencobanya sekali lagi di Peshawar, tidak lama berselang setelah kejadian tersebut. Ketika itulah Allah SWT berkehendak agar Sheikh Abdullah Azzam meninggalkan dunia ini menuju haribaan-Nya (kita berharap demikian Insya Allah). Dan Sheikh wafat dengan cara yang gemilang pada hari Jum'at 24 November 1989 pukul 12.30 siang.Musuh-musuh Allah meletakkan tiga bom di jalan yang sempit dimana hanya bisa dilewati satu mobil saja. Jalan tersebut adalah jalan yang biasa dilalui oleh Sheikh Abdullah Azzam untuk menunaikan shalat Jum'at. Pada hari Jum'at itu, Sheikh Azzam bersama dengan dua anaknya, Ibrahim dan Muhammad, serta salah seorang anak Syuhada Sheikh Tamim Adnani (salah seorang Pahlawan Jihad Afghanistan lainnya), melalui jalan tersebut. Mobil pun berhenti di mana bom yang pertama berada, dan Sheikh Azzam turun untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Musuh-musuh yang sudah menanti segera memicu bom yang telah mereka persiapkan tersebut. Bunyi ledakan dahsyat mengguncang hebat terdengar di seluruh penjuru kota.</p>
<p>Orang-orang berhamburan keluar dari Masjid, dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Hanya sedikit saja yang tersisa dari kendaraan yang hancur lebur. Tubuh anaknya yang kecil, Ibrahim, terlempar ke udara sejauh 100 meter, demikian pula dengan kedua anak lainnya, beterbangan pada jarak yang hampir sama. Potongan-potongan tubuh mereka tersebar di pohon-pohon dan kawat-kawat listrik. Sementara tubuh Syahid Sheikh Abdullah Azzam tersandar di dinding, tetap utuh dan tidak cacat sama sekali, kecuali sedikit darah terlihat mengalir dari mulut Beliau.</p>
<p>Ledakan itu telah mengakhiri perjalanan hidup Sheikh Abdullah Azzam di dunia, yang telah Beliau lalui dengan baik melalui perjuangan, daya upaya sepenuhnya, dan pertempuran di Jalan Allah SWT. Hal ini semakin menjamin kehidupannya yang sebenarnya dan abadi di Taman Surga -kita memohon kepada Allah demikian, dan menikmatinya bersama dengan teman-teman yang mulia yakni : <i>"Dan barangsiapa yang mena?ati Allah dan Rasul-Nya mereka ini akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Para Rasul, Para Shiddiqiin, Orang-orang yang mati Syahid dan Orang-orang Shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" </i>[QS An-Nisaa:69]</p>
<p>Dengan cara seperti inilah Pahlawan Besar dan Penggerak Kebangkitan Islam meninggalkan medan Jihad dan dunia ini, dan tidak akan pernah kembali lagi. Beliau dimakamkan di Makam Para Syuhada Pabi di Peshawar Pakistan, dimana Beliau bergabung bersama-sama dengan ratusan Syuhada lainnya. Semoga Allah menerima Beliau sebagai Syuhada dan menganugerahinya tempat tertinggi di Surga. Pertempuran yang telah Beliau lalui dan telah Beliau perjuangkan tetap berlanjut melawan musuh-musuh Islam. Tidak satupun Tanah Jihad di seluruh dunia, tidak seorangpun Mujahid yang berjuang di Jalan Allah, yang tidak terinspirasi oleh hidup, ajaran dan karya Sheikh Abdullah Azzam Rahmatullah 'Alaihi.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah SWT untuk menerima amal ibadah Beliau dan menempatkan Beliau di Surga Tertinggi. Kita memohon kepada Allah SWT untuk membangkitkan dari Ummat ini Ulama-Ulama lain sekaliber Beliau, yang menerapkan pengetahuannya di medan perjuangan, bukan hanya menyimpannya di dalam buku dan di dalam Masjid saja.Melalui biografi ini, kami merekam kejadian-kejadian dalam sejarah Islam selama sepuluh tahun terakhir dari tahun 1979 hingga 1989, dan akan terus berlanjut sebagaimana Sheikh Abdullah Azzam berkata :</p>
<p>"Sesungguhnya sejarah Islam tidaklah ditulis melainkan dengan darah Para Syuhada, dengan kisah Para Syuhada, dengan teladan Para Syuhada"<i>"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai"</i> [QS At-Taubah:32-33].</p>
<p>Sumber : Unknown</p>
<p>Orisinil in english : www.azzam.com</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[unjuk gIg!..]]></title>
<link>http://ummunadia.wordpress.com/2008/01/23/unjuk-gig/</link>
<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 16:24:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>-ingga-</dc:creator>
<guid>http://ummunadia.wordpress.com/2008/01/23/unjuk-gig/</guid>
<description><![CDATA[  


Jarang ada niy tulisan tentang anakku yang satu lagi, Hasan Abdullah Azzam, my cute boy, sekara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">  <a href="http://ummunadia.wordpress.com/files/2008/01/hasan-alone.jpg" title="Hasan"><img src="http://ummunadia.wordpress.com/files/2008/01/hasan-alone.thumbnail.jpg" alt="Hasan" /></a></p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Jarang ada niy tulisan tentang anakku yang satu lagi, Hasan Abdullah Azzam, <i>my cute boy,</i> sekarang Hasan umurnya 1 tahun 4 bulan, sedang lucu-lucunya, dan sedang "galak-galak"nya paling seneng nggigit, masih inget dunk dengan <a href="http://ummunadia.wordpress.com/2007/11/21/potong-gigi/">tulisan ini</a>, dan sekarang sang Kakak hanya bisa pasrah saja dan menangis, padahal dulu sang Kakak yang seneng banget nggigit si adik..<i>-pelajaran 1, setiap anak selalu ada fase yang dinamakan mgigit :D -</i></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">"..Hasan dengan <b>unjuk gigi</b> nya.." :D kata-kata itu terlontar oleh seorang teman, dikarenkan setiap temu pekanan <i>my cute boy</i> selalu nggigit anak-anak temanku yang usianya di bawahnya, bagaimana tidak mereka menangis atau bahkan sedikit "trauma" ketika melihat Hasan :P , jadilah suasana temu pekanan yang ramai dan heboh dikarenakan <i>my cute boy</i> ini..</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Wajah polosnya tidak menunjukkan rasa bersalah ketika "korban" nya menangis tak berdaya :D , but yang jelas ini semua adalah merupakan salah satu "komunikasinya" <i>-pelajaran 2, dan mgiggit itu adalah komunikasi buah hati kita untuk mengungkapkan keinginannya :D -</i></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Dibanding Nadia <i><a href="http://gaulgayarasul.wordpress.com/2008/01/23/bully-free-home/">-ups aku tidak sedang membandingkan my cute boy dengan d'sister-</a></i> cuma mau ngasih tau aja, klo diumurnya ini Hasan belum bisa "bicara"manggil namaku "ummi" saja belum, paling "Baaaa..", "te..te..te..", "waaaaa.." itu yang dia bisa sedangkan d'sister diumurnya yang sama dengan Hasan, dia sudah bisa memanggil "Abi" dan "Ummi" atau sekedar mengungkapkan apa yang dia mau..<i>-pelajaran 3, setiap anak itu memiliki keunikan yang berbeda, dan kelebihan-kelebihan yang berbeda pula-</i></p>
<p align="justify">Tapi meski belum terampil "berbicara" Hasan cukup mengerti apa yang sedang kita bicarakan, apa yang sedang kita perintahkan..<i>-pelajaran 4, so don't worry, secara kata orang anak laki-laki memang agak telat dalam berbicara..-</i></p>
<p align="justify">So, ami+ati, doakan Hasan yaaa menjadi anak yang sholih, penyejuk mata dan hati keluarga, dan ketika nanti sudah bicara dan besar kelak, jadikanlah lisan yang senantiasa membawa keberkahan dan bermanfaat bagi umat..<i>-amiiinnn-</i></p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><i> </i></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i> </i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Cinta]]></title>
<link>http://tedyinblog.wordpress.com/2008/01/23/surat-cinta/</link>
<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 10:41:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tedy Winanto</dc:creator>
<guid>http://tedyinblog.wordpress.com/2008/01/23/surat-cinta/</guid>
<description><![CDATA[Suatu hari saya mendapat sebuah email ~ dari calon istri sich  ~ nah email tersebut berisi surat cin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div>Suatu hari saya mendapat sebuah email ~ dari calon istri sich :-) ~ nah email tersebut berisi surat cinta, saya pikir itu dari dia untuk saya, ternyata..... hm... silahkan di baca ajah, surat itu penuh makna, sangat penuh ilmu.</div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div><i>Surat Cinta</i></div>
<div></div>
<div><i>Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.</i></div>
<div><i>Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.</i><i>Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus.<br />
Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen.<br />
Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.</i><i>Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang.<br />
Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.</i><i>Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.</i><i>"Mengapa?", tanya suami saya dengan terkejut.<!--more--><br />
"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya.</i><i>Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.</i><i>Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?</i><i>Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?"</i></p>
<p><i>Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :</i></p>
<p><i>"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung.<br />
Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.<br />
Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"</i></p>
<p><i>Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."</i></p>
<p><i>Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.</i></p>
<p><i>Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ......</i></p>
<p><i>"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."</i></p>
<p><i>Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.</i></p>
<p><i>Saya melanjutkan untuk membacanya.</i></p>
<p><i>"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."</i></p>
<p><i>"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu<br />
akan menjadi 'aneh'.<br />
Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."</i></p>
<p><i>"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."</i></p>
<p><i>"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu."</i></p>
<p><i>"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.</i></p>
<p><i>"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."</i></p>
<p><i>Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.</i></p>
<p><i>"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.</i></p>
<p><i>Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."</i></p>
<p><i>"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."</i></p>
<p><i>Saya <span style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;" class="yshortcuts">segera</span> berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.</i></p>
<p><i>Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.</i></p>
<p><i>Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.</i></p>
<p><i>Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.</i></p>
<p><i>Semoga bermanfaat, Alhamdulillah sudah temukan jawabannya!</i></p>
<p><i> </i></p>
<p>Dan dia mendapatkan surat cinta ini dari : <span style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;" class="yshortcuts">sobat-azzam@yahoogroups.com.</span></p>
<p>Sekali lagi semoga bermanfaat.</p></div>
<p><!--~-&#124;**&#124;PrettyHtmlStart&#124;**&#124;-~-->         <span style="color:white;">__._,_.___</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Untukmu Wahai Saudaraku...]]></title>
<link>http://hasanmiftah.wordpress.com/2008/01/17/untukmu-wahai-saudaraku/</link>
<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 05:33:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Hasan</dc:creator>
<guid>http://hasanmiftah.wordpress.com/2008/01/17/untukmu-wahai-saudaraku/</guid>
<description><![CDATA[Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin terasa hamba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="color:#5f497a;font-family:Arial Unicode MS;font-size:10pt;">Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin terasa hambar. Ukhuwah makin kering, bahkan ana melihat ternyata banyak ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u (murid) kepada murabbi (guru) nya di suatu malam. Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'u-nya. "Lalu apa yang ingin antum (kamu) lakukan setelah merasakan semua itu?" Sahut sang murrabi setelah sesaat termenung. "Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku, dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja." Jawab ikhwah itu.</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#5f497a;font-family:Arial Unicode MS;font-size:10pt;">Sang murabbi termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. <img src="http://hasanmiftah.files.wordpress.com/2008/01/011708-1233-untukmuwaha1.jpg" align="left" height="239" width="334" />"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos, bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?" Tanya seorang murabbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad'u terdiam berpikir.Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam dengan kiasan yang amat tepat. "Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?" Sang murabbi mencoba memberi opsi. "Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana bila hiu datang? Dari mana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang bagaimana antum mengatasi hawa dingin?"<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#5f497a;font-family:Arial Unicode MS;font-size:10pt;">Serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang ikhwah tersebut. Tak ayal, sang ikhwah menangis tersedu. Tak kuasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya. "Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho ALLAH SWT?" Pertanyaan yang menohok ini menghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk." Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya? " Tanya sang murabbi lagi. Sang ikhwah tetap terdiam dalam seunggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya; "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, InsyaALLAH ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan. "Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya ALLAH saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- NYA. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana." Sang mad'u berazzam dihadapan sang murabbi yang semakin dihormatinya.<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#5f497a;font-family:Arial Unicode MS;font-size:10pt;">Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan ALLAH SWT." "Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana ALLAH Ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata ALLAH, belum tentu antum lebih baik dari mereka."<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="color:#5f497a;font-family:Arial Unicode MS;font-size:10pt;">"Futur, mundur, atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidakkesepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka apakah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" Sambungnya panjang lebar. "Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu orang kafir pun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh ALLAH untuk membenahi masalah-masalah dimuka bumi. Bukan hanya meng"ekspose" nya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah." Sang mad'u termenung sampai merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal yang tetap bergelayut di hatinya. "Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" Sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga. "Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah ALLAH mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa melihat bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!". Sahut sang murabbi. "Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah tausyiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gossip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala bakhil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaanya. " Malam itu sang mad'u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah untuk tetap mengarungi jalan dakwah.</span></p>
<div align="justify"><span style="color:#5f497a;font-family:Arial Unicode MS;font-size:10pt;">Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang, ditelan gersangnya debu yang menerpa. Biarlah itu semua menjadi saksi sampai kita diberi dua kebaikan oleh ALLAH SWT : Kemenangan atau Mati Syahid. Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Ikhlas adalah motivasi yang kuat agar amal kita tetap terjaga berlanjut, tidak usang karena kepanasan dan tidak luntur karena kehujanan,tidak ghurur karena pujian, dan tidak prustasi karena cacian. Terus bergerak kearah tujuan yang paling puncak dari cita-cita. Melihat sesuatu yang paling indah dibalik setiap amal, selalu mampu menghadirkan sang Kholiq yang tak pernah salah dalam menilai.</span></div>
<p><span style="color:#5f497a;font-family:Arial Unicode MS;font-size:10pt;">(DR. M Adih Amin, M. Dosen STAI BANI SALEH) </span></p>
<p><span style="color:#5f497a;font-family:Arial Unicode MS;font-size:10pt;">~Abu Hasan~</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ASY-SYAHID SHEIKH ABDULLAH AZZAM]]></title>
<link>http://shaheedan.wordpress.com/2007/12/29/asy-syahid-sheikh-abdullah-azzam/</link>
<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 19:20:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>shaheedan</dc:creator>
<guid>http://shaheedan.wordpress.com/2007/12/29/asy-syahid-sheikh-abdullah-azzam/</guid>
<description><![CDATA[Dr. Sheikh Abdullah Yusuf Azzam. Palestinian.      Assassinated on 24 November 1989 in Peshawar, Pak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><b><font color="#cc0000">Dr. Sheikh Abdullah Yusuf Azzam. Palestinian.      Assassinated on 24 November 1989 in Peshawar, Pakistan, Aged 48. 1st Hand      Accounts. </font></b></p>
<p align="center"><img src="http://shaheedan.wordpress.com/files/2007/12/azzam1.jpg" alt="azzam1.jpg" /></p>
<p align="left"><b><font color="#cc0000"> </font><i>Time Magazine</i> wrote about      him that <i>' he was the reviver of Jihad in the 20th Century'.</i></b> Abdullah      Yusuf Azzam was born in the village of Ass-ba'ah Al-Hartiyeh, province of      Jineen in the occupied sacred land of Palestine in 1941 CE. He was brought      up in a humble house where he was taught Islam, and was fed with the love      of Allah, His Messenger (SAW), those striving in the Way of Allah, the righteous      people and the desire for the Hereafter.</p>
<p align="left">&#160;</p>
<div align="left"><font color="#000000">Abdullah Azzam was a distinguished kid      who started propagating Islam at an early age. His peers knew him as a pious      child. He showed signs of excellence at an early age. His teachers recognized      this while he was still at elementary school. </font></div>
<p align="left"><font color="#000000">Sheikh Abdullah Azzam was known for his      perseverance and serious nature ever since he was a small boy. He received      his early elementary and secondary education in his village, and continued      his education at the agricultural Khadorri College where he obtained a Diploma.      Although he was the youngest of his colleagues, he was the cleverest and the      smartest. After he graduated from Khadorri College, he worked as a teacher      in a village called Adder in South Jordan. Later he joined Sharia College      in Damascus University where he obtained a B.A. Degree in Shariah (Islamic      Law) in 1966. After the Jews captured the West Bank in 1967, Sheikh Abdullah      Azzam decided to migrate to Jordan, because he could not live under the Jews'      occupation of Palestine. The sin of the Israeli tanks rolling into the West      Bank without any resistance made him even more determined to migrate in order      to learn the skills necessary to fight. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">In the late 1960's he joined the Jihad      against the Israeli occupation of Palestine from Jordan. Soon after that,      he went to Egypt and graduated with a Masters Degree in Shariah from the University      of Al-Azhar. In 1970 and after Jihad came to a halt by forcing PLO forces      out of Jordan, he assumed the position of teaching in the Jordanian University      in Amman. In 1971 he was awarded a scholarship to Al-Azhar University in Cairo      from which he obtained a Ph.D Degree in Principles of Islamic Jurisprudence      (Usool-ul-Fiqh) in 1973. During his stay in Egypt he came to know the family      of Shaheed Sayyed Qutb. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">Sheikh Abdullah Azzam spent a long time      participating in the Jihad in Palestine. However, matters there were not to      his liking, for the people involved in the Jihad were far removed from Islam.      He told of how these people used to spend the nights playing cards and listening      to music, under the illusion that they were performing Jihad to liberate Palestine.      Sheikh Abdullah Azzam mentioned that, out of the thousands in the camp he      was in, the number of people who offered their Salah in congregation were      so few that they could be counted on one hand. He tried to steer them towards      Islam, but they resisted his attempts. One day he rhetorically asked one of      the <u>'</u>Mujahideen<u>' </u>what the religion behind the Palestinian revolution      was, to which the man replied, quite clearly and bluntly, </font></p>
<p><font color="#000000"><i>"This revolution has no religion behind it."</i>      </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">This was the last straw. Sheikh Abdullah      Azzam left Palestine, and went to Saudi Arabia to teach in the universities      there. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">When Sheikh Azzam realised that only by      means of an organised force would the Ummah ever be able to gain victory,      then Jihad and the Gun became his pre-occupation and recreation. <i>"Jihad      and the rifle alone: no negotiations, no conferences and no dialogues,"</i>      he would say. By practising what he was preaching, Sheikh Abdullah Azzam was      one of the first Arabs to join the Afghan Jihad against the communist USSR      </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">In 1979, when he learned about the Afghan      Jihad, he left his teaching position at King Abdul-Aziz University in Jeddah,      Saudi Arabia and went to Islamabad, Pakistan, in order to be able to participate      in the Jihad. He moved to Pakistan to be close to the Afghan Jihad, and there      he got to know the leaders of the Jihad. During the early time of his stay      in Pakistan, he was appointed a lecturer in the International Islamic University      in Islamabad. After a while he had to quit the University to devote his full      time and energy to the Jihad in Afghanistan. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">In the early 1980's, Sheikh Abdullah Azzam      came to experience the Jihad in Afghanistan. In this Jihad he found satisfaction      of his longing and untold love to fight in the Path of Allah, just as Allah's      Messenger (SAW) once said, <i>"One hour spent fighting in the Path of Allah      is worth more than seventy years spent in praying at home."</i> [Authentic,      At-Tirmithi and Al-Hakem]. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">Inspired by this Hadith, Sheikh Abdullah      Azzam immigrated with his family to Pakistan in order to be closer to the      field of Jihad. Soon after, he then moved from Islamabad to Peshawar to be      even closer to the field of Jihad and Martyrdom. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">In Peshawar, Sheikh Abdullah Azzam founded      the Bait-ul-Ansar (Mujahideen Services Bureau with the aim of offering all      possible assistance to the Afghani Jihad and the Mujahideen through establishing      and managing projects that supported the cause. The Bureau also received and      trained volunteers pouring into Pakistan to participate in Jihad and allocating      them to the front lines.</font></p>
<p><font color="#000000">Unsurprisingly, this was not enough to satisfy Sheikh Azzam's burning desire      for Jihad. That desire drove him finally to go to the front-line. On the battlefield,      the Sheikh gracefully played his destined role in that generous epic of heroism.</font></p>
<p><font color="#000000">In Afghanistan he hardly ever settled in one place. He travelled throughout      the country, visiting most of its provinces and states such as Lujer, Qandahar,      Hindukush Heights, the Valley of Binjistr, Kabul and Jalalabad. These travels      allowed Sheikh Abdullah Azzam to witness first hand the heroic deeds of these      ordinary people, who had sacrificed all that they possessed -including their      own lives - for the Supremacy of the Deen of Islam.</font></p>
<p><font color="#000000">In Peshawar, upon his return from these travels, Sheikh Azzam spoke about      Jihad constantly. He prayed to restore the Unity among the divided Mujahideen      commanders; called upon those who had not yet joined the fighting to take      up arms and to follow him to the front before it would be too late. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">Abdullah Azzam was greatly influenced by the      Jihad in Afghanistan and the Jihad was greatly influenced by him since he      devoted his full time to its cause. He became the most prominent figure in      the Afghani Jihad aside from the Afghan leaders. He spared no effort to promote      the Afghan cause to the whole world, especially through the Muslim Ummah.      He travelled all over the world, calling on Muslims to rally to the defence      of their religion and lands. He wrote a number of books on Jihad, such as      Join the Caravan </font><font color="#000000">and Defence of Muslim Lands.</font><font color="#000000"> Moreover, he himself participated bodily in the Afghan Jihad,      despite the fact that he was in his forties. He traversed Afghanistan, from      north to south, east to west, in snow, through the mountains, in heat and      in cold, riding donkeys and on foot. Young men with him used to tire from      such exertions, but not Sheikh Abdullah Azzam. </font></p>
<div align="left"><font color="#000000"><br />
He changed the minds of Muslims about the Jihad in Afghanistan and presented      the Jihad as an Islamic cause which concerned all Muslims around the world.      Due to his efforts, the Afghani Jihad became universal in which Muslims from      every part of the world participated. Soon, volunteer Islamic fighters began      to travel to Afghanistan from the four corners of the Earth, to fulfil their      obligation of Jihad and in defence of their oppressed Muslim brothers and      sisters. </font></div>
<div align="left"><font color="#000000"><br />
The Sheikh's life revolved around a single goal, namely the establishment      of Allah's Rule on earth, this being the clear responsibility of each and      every Muslim. So in order to accomplish his life's noble mission of restoring      the Khilafah, the Sheikh focused on Jihad (the armed struggle to establish      Islam). He believed Jihad must be carried out until the Khilafah (Islamic      Rule) is established so the light of Islam may shine on the whole world. </font></div>
<p align="left"><font color="#000000"><br />
Sheikh Abdullah Azzam made Jihad in every possible way, responding to the      call of Allah: </font></p>
<p><font color="#000000"><b><i>"Go forth, light and heavy, and strive with your      selves and your wealth in the path of Allah. That is better for you, if only      you knew."</i></b> [Quran, 9:41] </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">He reared his family also, in the same      spirit, so that his wife, for example, engaged in orphan care and other humanitarian      work in Afghanistan. He refused teaching positions at a number of universities,      declaring that he would not quit Jihad until he was either martyred or assassinated.      He used to reiterate that his ultimate goal was still to liberate Palestine.      He was once quoted as saying, </font></p>
<p align="center"><font color="#000000"><i>" Never shall I leave the Land      of Jihad, except in three circumstances. Either I shall be killed in Afghanistan.      Either I shall be killed in Peshawar. Or either I shall be handcuffed and      expelled from Pakistan."</i></font></p>
<p align="left"><font color="#000000">Jihad in Afghanistan had made Abdullah      Azzam the main pillar of the Jihad movement in the modern times. Through taking      part in this Jihad, and through promoting and clarifying the obstacles which      have been erected in the path of Jihad, he played a significant role in changing      the minds of Muslims about Jihad and the need for it. He was a role model      for the young generation that responded to the call of Jihad. He had a great      appreciation for Jihad and the need for it. Once he said, </font></p>
<p align="center"><font color="#000000"><i>" I feel that I am nine years      old: seven-and-a-half years in the Afghan Jihad, one-and-a-half years in the      Jihad in Palestine, and the rest of the years have no value."</i></font></p>
<p align="center"><font color="#000000">From his pulpit Sheikh Azzam      was always reiterating his conviction that: </font></p>
<p><font color="#000000"><i>"Jihad must not be abandoned until Allah (SWT) Alone      is worshipped. Jihad continues until Allah's Word is raised high. Jihad until      all the oppressed peoples are freed. Jihad to protect our dignity and restore      our occupied lands. Jihad is the way of everlasting glory."</i> </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">History, as well as anyone who knew Sheikh      Abdullah Azzam closely, all testify to his courage in speaking the truth,      regardless of the consequences. He always bore in mind the command of Allah      to: <b><i>"Proclaim openly that which you were commanded, and turn away from      the polytheists ( Mushrikeen)."</i></b> [Quran, 15:94].</font></p>
<p><font color="#000000">On every occasion Sheikh Abdullah Azzam reminded all Muslims that, </font></p>
<p align="left"><font color="#000000"><i>"Muslims cannot be defeated by others.      We Muslims are not defeated by our enemies, but instead, we are defeated by      our own selves."</i></font></p>
<p><font color="#000000">He was a fine example of Islamic manners, in his piety, his devotion to      Allah and his modesty in all things. He would never adulate in his relations      with others. Sheikh Azzam always listened to the youth, he was dignified and      did not allow fear to have access to his brave heart. He practised continual      fasting especially the alternate daily fasting routine of Prophet Dawud (SAW).      He strongly counselled others to practice fasting on Mondays and Thursdays.      The Sheikh was a man of uprightness, honesty and virtue, and was never heard      to slander others or to talk unpleaasently about an individual Muslim. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">As the Jihad in Afghanistan went on, he      was succeeding in uniting together all the various fighting groups in the      Afghani Jihad. Naturally, such a pride to Islam caused great distress to the      enemies of this religion, and they plotted to eliminate him. In 1989 CE, a      lethal amount of TNT explosive was placed beneath the pulpit from which he      delivered the sermon every Friday. It was such a formidable quantity that      if it had exploded, it would have destroyed the mosque, together with everything      and everybody in it. Hundreds of Muslims would have been killed, but Allah      provided protection and the bomb did not explode. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">The enemies, determined to accomplish      their ugly task, tried another plot in Peshawar, shortly after this in the      same year When Allah (SWT) willed that Sheikh Abdullah Azzam should leave      this world to be in His closest company (we hope that it is so), the Sheikh      departed in a glorious manner. The day was Friday, 24 November 1989. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">The enemies of Allah planted three bombs      on a road so narrow only a single car could travel on it. It was the road      Sheikh Abdullah Azzam would use to drive to the Friday Prayer. That Friday,      the Sheikh, together with two of his own sons, Ibrahim and Muhammad, and with      one of the sons of the late Sheikh Tameem Adnani (another hero of the Afghan      Jihad), drove along the road. The car stopped at the position of the first      bomb, and the Sheikh alighted to walk the remainder of the way. The enemies,      lying in wait, then exploded the bomb. A loud explosion and a great thundering      were heard all over the city. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">People emerged from the mosque, and beheld      a terrible scene. Only a small fragment of the car remained. The young son      Ibrahim flew 100 metres into the air; the other two youths were thrown a similar      distance away, and their remains were scattered among the trees and power      lines. As for Sheikh Abdullah Azzam himself, his body was found resting against      a wall, totally intact and not at all disfigured, except that some blood was      seen issuing from his mouth. </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">That fateful blast indeed ended the worldly      journey of Sheikh Abdullah Azzam which had been spent well in struggling,      striving and fighting in the Path of Allah (SWT). It also secured his more      real and eternal life in the gardens of Paradise - we ask Allah that it is      so -, that he will enjoy along with the illustrious company of <b><i>"those      on whom is the Grace of Allah, the Prophets, the Sincere ones, the Martyrs      and the Righteous. The Best of company are they."</i></b> [Quran, 4:69].      </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">It was in this way that this great hero      and reformer of Islam departed from the arena of Jihad and from this world,      never to return. He was buried in the Pabi Graveyard of the Shuhadaa'<u> </u>in      Peshawar, where he joined hundreds of other Shuhadaa'. May Allah accept him      as a martyr, and grant him the highest station in Paradise. The struggle which      he stood for continues, despite the enemies of Islam. There is not a Land      of Jihad today in the world, nor a Mujahid fighting in Allah's Way, who is      not inspired by the life, teachings and works of Sheikh Abdullah Azzam (May      Allah have Mercy on him). </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">We ask Allah (SWT) to accept the deeds      of Sheikh Abdullah Azzam and bring him to the Highest Part of Paradise. We      ask Allah (SWT) to raise up for this Ummah more Sheikhs of this calibre, who      take their knowledge to the battlefield rather than confining it in books.      </font></p>
<p align="left"><font color="#000000">With this article, we record the events      of Islamic history which took place in the ten years from 1979 to 1989, and      continue to happen. As Sheikh Abdullah Azzam himself once said, </font></p>
<p><i><font color="#000000">" Indeed Islamic history is not written except      with the blood of the Shuhadaa<u>'</u>, except with the stories of the Shuhadaa'<u>      </u>and except with the examples of the Shuhadaa'. "</font></i></p>
<p><i><font color="#000000"><b>"They seek to extinguish the light of Allah by      their mouths. But Allah refuses save to perfect His light, even if the disbelievers      are averse. It is He who has sent His messenger with the guidance and the      true religion, in order that He may make it prevail over all religions, even      if the pagans are averse."</b> [Quran, 9:32-33]. </font></i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Former U.S. sailor arrested on terror charges]]></title>
<link>http://bargainprofessor.wordpress.com/2007/03/08/former-us-sailor-arrested-on-terror-charges/</link>
<pubDate>Thu, 08 Mar 2007 16:11:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Author</dc:creator>
<guid>http://bargainprofessor.wordpress.com/2007/03/08/former-us-sailor-arrested-on-terror-charges/</guid>
<description><![CDATA[Police in Arizona arrested a former U.S. Navy sailor on charges of spying and providing material sup]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Police in Arizona arrested a former U.S. Navy sailor on charges of spying and providing material support to terrorists, authorities said on Wednesday.</p>
<p>The U.S. Attorney\'s office in Connecticut said Hassan Abujihaad, formerly known as Paul Hall, 31, was arrested on a federal criminal complaint in Phoenix.</p>
<p>He is suspected of providing classified information to a London-based organization called Azzam Publications and knowing that it was to be used in a conspiracy to kill U.S. citizens. Azzam was part of a conspiracy to provide material support and communications links to people engaged in terrorism, prosecutors said.</p>
<p>The charges related to disclosure a U.S. Navy battle group movements as it traveled from California to the Gulf in 2001, prosecutors said in a news release.</p>
<p>The suspected disclosures occurred just months after an attack by suicide bombers on the USS Cole during a refueling stop in Yemen in October 2000, which killed 17 sailors and injured dozens more.</p>
<p>If convicted on both charges, Abujihaad faces a maximum term of 25 years in jail.</p>
<p>The charges were brought in Connecticut because the Azzam Publications Web sites were hosted for a time on servers in the state.</p>
<p>The complaint alleged that Abujihaad sent several e-mails to members of Azzam while he was on active duty in the Middle East and stationed aboard the USS Benfold, a ship in the battle group whose movements were disclosed.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
