<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>akhlaq &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/akhlaq/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "akhlaq"</description>
	<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 21:29:54 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Memakai jam tangan sunnahnya di tangan kanan]]></title>
<link>http://pknh2003.wordpress.com/?p=27</link>
<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:37:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>asyakir</dc:creator>
<guid>http://pknh2003.wordpress.com/?p=27</guid>
<description><![CDATA[Memakai jam tangan sunnahnya di tangan kanan
Syaikh Al-Bany ditanya:
Kami melihat sebagian orang mem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Memakai jam tangan sunnahnya di tangan kanan</strong></p>
<p><span class="smalltype">Syaikh Al-Bany ditanya:<br />
Kami melihat sebagian orang memakai jam tangan di tangan kanan, dan mereka berkata bahwa yang demikian itu sunnah, apa dalilnya?</span><!--more--></p>
<p><strong>Syaikh Al-Bany ditanya:</strong><br />
Kami melihat sebagian orang memakai jam tangan di tangan kanan, dan mereka berkata bahwa yang demikian itu sunnah, apa dalilnya?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Kami berpegang teguh dalam masalah ini dengan kaidah umum yang terdapat dalam hadits Aisyah di dalam Ash Shahih, ia berkata:<br />
<em><br />
Rasulullah menyukai menggunakan (mendahulukan) kanan dalam segala sesuatu, yaitu ketika bersisir, bersuci, dan dalam setiap urusan.</em></p>
<p>Dan kami tambahkan dalam hal ini, hadits lain yang diriwayatkan dalam Ash Shahih, bahwa beliau bersabda:</p>
<p><em>Sesungguhnya Yahudi tidak mencelup (menyemir) rambut-rambut mereka, karena itu berbedalah dengan mereka, dengan cara menyemir rambut kalian.</em></p>
<p>Juga hadits-hadits yang lain yang di dalamnya terdapat perintah untuk berbeda dengan musyrikin.</p>
<p>Maka dari hadits-hadits tersebut dapat kami simpulkan bahwa disunnahkan bagi seorang muslim untuk bersemangat dalam membedakan diri dengan orang-orang kafir.</p>
<p>Dan sepatutnyalah untuk kita ingat bahwa membedakan diri dari orang kafir, mengandung arti bahwa kita dilarang mengikuti adat kebiasaan mereka. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai orang kafir, dan sudah selayaknya bagi kita wntuk selalu tampil beda dengan orang-orang kafir.</p>
<p>Di antara adat kebiasaan orang kafir adalah memakai jam tangan di tangan kiri, padahal kita mendapatkan pintu yang teramat luas di dalam syariat untuk menyelisihi adat ini. Walhasil mengenakan jam tangan di tangan kanan merupakan pelaksanaan kaidah umum, yaitu (mendahulukan) yang kanan, dan juga kaidah umum yang lain yaitu membedakan diri dengan orang-orang kafir.</p>
<p>Diambil dari Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin Al-Albany, Penerbit: Media Hidayah</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Tutur Katanya Menyentuh Hati..."]]></title>
<link>http://danon7.wordpress.com/?p=27</link>
<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 13:08:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>danon7</dc:creator>
<guid>http://danon7.wordpress.com/?p=27</guid>
<description><![CDATA[ 

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling fasih bicaranya. Ucapannya menawan hati dan menyentuh j]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://danon7.wordpress.com/files/2008/07/kaligrafi.jpg"> </a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a href="http://danon7.wordpress.com/files/2008/07/kaligrafi2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-30" src="http://danon7.wordpress.com/files/2008/07/kaligrafi2.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Rasulullah SAW adalah manusia yang paling fasih bicaranya. Ucapannya menawan hati dan menyentuh jiwa. Perkataannya bersih, indah, teratur dan halus namun menyimpan makna yang agung. Tutur katanya paling mengagumkan. Ungkapannya paling menggetarkan hati. Ucapannya yang singkat mengandung mu’jizat dari yang Maha Indah. Dalam hal ini beliau bersabda :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><em> “Aku telah diberi jawmi’ul kalim (ungkapan singkat namun bermakna luas)”. (HR. Bukhari dan Muslim).</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Demikian halnya tutur kata Rasulullah SAW kepada para sahabatnya, mampu melelehkan air mata orang yang mendengarnya hingga membasahi jenggot-jenggot mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Suatu ketika Rasullullah SAW membagi harta rampasan yang jumlahnya banyak sekali kepada kaum Quraisy dan beberapa kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak diberi bagian walau sepeserpun. Melihat kenyataan ini, marahlah sebagian dari mereka, sampai-sampai ada yang berkata, “Demi Allah, Rasulullah SAW kini telah menjumpai kaumnya sendiri.” Sampai kemudian Sa’ad bin Ubadah datang menjumpai Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sebagian dari kaum Anshar keberatan dengan keputusanmu dalam masalah harta rampasan yang engkau peroleh. Engkau telah membaginya pada kaummu dan kepada kabilah-kabilah Arab dalam jumlah yang sangat besar. Sementara kaum Anshar tidak mendapatkan sedikitpun. “Rasululluh SAW bertanya, <em>“Wahai Sa’ad, kamu sendiri bagaimana?” Sa’ad menjawab, “Wahai Rasul, aku tiada lain kecuali bagian dari kaumku.” </em>Rasulullah SAW pun menjawab<em>,”Kumpulkanlah kaummu di tempat ini”.</em><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Sa’ad lalu keluar dan mengumpulkan kaum Anshar. Setelah terkumpul, Rasulullah SAW berbicara di hadapan mereka. Dengan terlebih dahulu mengucapkan pujian kepada Allah, beliau bersabda, <em>“Wahai sekalian Anshar, telah sampai kepadaku berita bahwa kalian marah atas apa yang telah aku putuskan. Bukankah aku telah datang kepada kalian ketika kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kalian lewat aku?, ketika itu kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mencukupi kalian dengan sebabku, ketika itu kalian dalam keadaan saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian dengan sebab aku?”</em> mereka menjawab,”Benar, Allah dan Rasu-Nya lebih banyak pemberiannya dan lebih utama.” Lalu Rasulullah SAW bertanya, <em>“Wahai kaum Anshar mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?” </em>Mereka berkata, “Wahai Rasulullah<span> </span>dengan apalagi kami harus menjawab pertanyaanmu? Sungguh bagi Allah dan Rasul-Nyalah segala pemberian dan keutamaan.” Rasulullah SAW kemudaian berkata, <em>“Demi Allah, seandainya kalian mau, kalian bisa menjawab dengan mengatakan sesuatu tersebut. Kalian bisa mengatakan kepadaku, ‘bukankah engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan lalu kami membenarkanmu, engkau datang dalam keadaan terhina lalu kami menolongmu, engkau terusir dari kampung halamanmu lalu kami menampungmu, engkau datang dalam keadaan fakir lalu kami menyantunimu? Wahai sekalian orang Anshar, apakah kalian mempersoalkan harta yang sedikit jumlahnya itu, yang dengannya hati suatu kaum bisa bersatu lalu masuk islam? Adapun kalian, saya serahkan kalian pada keislaman kalian. Wahai sekalian orang Anshar, tidak relakah kalian jika orang lain pulang membawa kambing dan unta, sementara kalina pulang ke tempat tinggal kalian dengan membawa Rasulullah? Demi Dzat Yang Jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, jika bukan karena hijrah, niscaya aku adalah bagian dari kaum Anshar. Seandainya suatu kaum melewati suatu lembah, sedangkan kaum Anshar melewati lembah yang lain, niscaya aku akan berjalan di lembah yang dilalui oleh kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, putra-putra Anshar, dan anak cucu Anshar.”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Seketika itu, menangislah mereka hingga membasahi jenggot-jenggotnya sembari berkata, “Kami rela Rasulullah sebagai jatah pembagian kami.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Dalam peristiwa tersebut terdapat pelajaran yang amat berharga yang harus diperhatikan. Rasulullah SAW tidak mencela Sa’ad karena ia tidak menginkari dirinya sebagai bagian dari kaum Anshar yang marah. Beliau juga tidak mempersoalkan perkataan mereka, bahkan beliau tidak bertanya lebih jauh siapa yang mengatakan, “Demi Allah, Rasulullah telah menjumpai kaumnya sendiri.” Padahal ucapan tersebut mengandung makna bahwa Rasulullah SAW ketika memberi mereka dengan jumlah yang melebihi hak mereka, karena didorong oleh fanatisme kesukuan. Beliau hanya bertanya dengan pertanyaan umum, agar kata-katanya bisa didengar oleh semuanya dan dapat mengatasi permasalahan secara menyeluruh dari akarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Beliau memulai dengan pertanyaan yang bernada mencela mereka, lalu memuji hal itu dengan menyebut keutamaan besar yang diperoleh kaum Anshar. Mereka telah masuk islam, berpindah dari kesesatan menuju petunjuk, dari kemiskinan menuju kekayaan, dan dari permusuhan menuju persatuan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Wajar jika dalam benak orang-orang anshar muncul perasaan bahwa mereka juga telah memberikan jasa kepada Rasulullah SAW karena merekalah yang telah membela dan membenarkan risalahnya. Semua ini adalah keistimewaan mereka yang benar adanya. Ini diucapkan oleh Nabi sendiri yang seakan-akan ingin mewakili kaum Anshar untuk menyatakan bahwa mereka telah membenarkannya ketika beliau didustakan, mereka telah menolongnya ketika beliau didustakan, mereka telah menampungnya ketika beliau terusir dan mereka telah membantunya ketika beliau dalam keadaan miskin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Setelah mereka ditegur di satu sisi dan dibesarkan hatinya di sisi yang lain, beliau mengakhiri ucapannya dengan pengakuan atas kedudukan mereka yang tinggi dalam islam. Oleh karena itulah, beliau menyerahkan mereka kepada ke-Islaman mereka. Lalu beliau menjelaskan kepada mereka tentang pemberian besar yang mereka dapatkan. Orang lain pulang membawa unta dan kambing, sedangkan kaum Anshar pulang membawa Nabi penutup para nabi dan manusia yang paling utama. Beliau lalu berdo’a, <em>“Semoga Rahmat Allah menyertai kaum Anshar dan anak cucu kaum Anshar.”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Karena itu, tidaklah mengherankan jika kaum Anshar menangis sembari berkata dengan penuh kerelaan dan kebahagiaan, “Kami rela Rasulullah SAW sebagai jatah pembagian kami.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Sungguh ucapan Rasulullah SAW mampu menghilangkan sekat-sekat diri dan melampaui jiwa, menembus ke dalam relung-relung hati. Lisannya sangat tajam, bagaikan ujung pedang yang memotong apa yang disentuhnya. Tutur katanya ibarat fajar atau hujan deras. Lafaznya terukir indah di lembar ingatan, mengubah hati yang marah menjadi penuh kerelaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Demikianlah sikap hikmah Rasulullah dan tutur kata beliau yang sangat menyentuh hati dan berbekas pada jiwa orang yang mendengarnya hakikat cintanya yang jujur kepada kaum Anshar,sekaligus alasan kenapa Rasulullah tidak memberikan kepada mereka sedikitpun dari harta ghanimah. <strong><em>(Yanuar : Majalah Indonesia Islami: edisi II-Rabi'ul awal 1427 H/April 2006 Masehi)</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa itu salaf]]></title>
<link>http://anggasyahrian.wordpress.com/?p=102</link>
<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 17:39:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid>http://anggasyahrian.wordpress.com/?p=102</guid>
<description><![CDATA[Apa itu salaf
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesunguhnya sebaik-bai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Apa itu salaf</strong></p>
<p><strong>Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:</strong> "Sesunguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah aku". [Hadits Shahih, Riwayat Muslim (no. 1450)]</p>
<p><strong>Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:</strong> Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu. [Hadits Shahih, dikeluarkan Oleh Muslim dari Tsauban. Dan hadits semakna diriwayatkan Bukhari &#38; Muslim, muttafaqun 'alaih].<br />
<!--more selengkapnya--><br />
<strong>Imam Ibnul Mubarak (wafat 181 H) berkata: </strong>Tinggalkanlah hadits Amr bin Tsabit karena ia mencerca para ulama salaf. [ Muqoddimah Shohih Muslim jilid 1 hal. 16]</p>
<p><strong>Al-Imam Al-Auza'i (wafat 198 H) berkata:</strong> "Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah)." [Asy-Syari'ah, Al-Ajurri hal. 63]</p>
<p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H) berkata:</strong> "Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar." [Majmu' Fatawa 4/155]. Beliau juga berkata: "Bahkan syi'ar ahlul bid'ah adalah meninggalkan manhaj salaf." [Majmu' Fatawa 4/155]</p>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<hr size="2" /></div>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu "alaihi wa sallam dan membangkitkan para sahabat sebagai pendamping dan pembela dakwah beliau. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad, keluarga dan para pengikutnya yang setia hingga akhir masa. Amma ba'du...</p>
<p>Kaum muslimin, semoga Allah melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita...</p>
<p>Berkembangnya dakwah Salafiyah di kalangan masyarakat dengan pembinaan yang mengarah kepada perbaikan ummat di bawah tuntunan Rasulullah shollallahu alaihi wa alihi wa sallam adalah suatu hal yang sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain, orang-orang menyimpan dalam benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang pengertian Salafiyah itu sendiri sehingga bisa menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang mengamatinya, maka untuk itu dibutuhkan penjelasan yang jelas tentang hakikat Salafiyah itu.</p>
<p>Seringkali masyarakat dibingungkan oleh sebuah istilah yang belum mereka mengerti dengan baik. Sayangnya, dibangun di atas kebingungan inilah kemudian muncul berbagai persangkaan dan bahkan tuduhan bukan-bukan kepada sesama saudara seiman. Perlu kita ingat bersama bahwa cek dan ricek merupakan bagian dari keindahan ajaran Islam yang harus kita jaga.</p>
<p>Dikatakan dalam sebuah sya'ir,</p>
<p class="style178" style="text-align:center;" align="center"><strong>و كم من عائب قولا صحيحا و آفته من الفهم السقيم</strong></p>
<p class="style182" style="text-align:center;" align="center">Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar<br />
Sebabnya karena pemahaman yang buruk</p>
<p>Dewasa ini, di hadapan kita ada istilah yang cukup populer namun sering disalahpahami oleh sebagian orang. Istilah yang dimaksud adalah kata salaf atau salafi dan salafiyah. Banyak orang yang tidak mengetahui apa makna salafi, sehingga beropini negatif terhadap segala sesuatu yang "berbau" salafi. Sebenarnya apakah salaf / salafi / salafiyah itu?</p>
<p>Selain itu, ada pula istilah lain yang populer yaitu Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Banyak orang yang salah memahami Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sehingga mereka beranggapan bahwa yang dimaksud ASWJ adalah orang yang bertasawuf Al-Ghazali + bermadzhab Asy-Syafi'i + ber'aqidah Al-Asy'ari, padahal sangatlah jauh makna Ahlus Sunnah dari apa yang mereka sangka tersebut.</p>
<p>Menimbang pentingnya hakikat permasalahan ini untuk diungkap dan dijelaskan maka kami memohon pertolongan kepada Allah ta'ala untuk turut berpartisipasi mengurai "benang kusut' ini.</p>
<p>Melalui link yang disediakan di bawah, insyaaAllah tersedia rangkaian artikel yang menjelaskan tentang masalah-masalah tersebut... silakan diklik &#62;&#62;</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><a href="http://www.driveway.com/l5p7l9i8a9" target="_blank">http://www.driveway.com/l5p7l9i8a9      &#62;&#62; paket pembahasan lengkap</a></strong></li>
</ul>
<p><strong>InsyaaAllah bermanfaat untuk memberikan penjelasan tentang :</strong></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Makna manhaj, makna salaf,      makna manhaj salaf, wajibnya mengikuti jalan salafush shalih, mengapa      memilih manhaj salaf, tanya jawab ttg manhaj salaf, penjelasan bahwa      salafiyah = Ahlus Sunnah, dll...</li>
<li class="MsoNormal">Makna ASWJ, ciri-ciri dan      sifat ASWJ, prinsip-prinsip ASWJ dalam aqidah-muamalah-dakwah, penjelasan      Asy'ariyyah bukan Ahlus Sunnah, penjelasan Salafiyah = Ahlus Sunnah, dll...</li>
<li class="MsoNormal">Klarifikasi atas berbagai      tuduhan dusta terhadap dakwah salaf (misal : tuduhan antek penguasa,      tuduhan agen Yahudi, tuduhan anti jihad, tuduhan anti politik (syar'i),      tuduhan ghibah, tuduhan jumud, tuduhan keras, tuduhan menang sendiri,      tuduhan mudah mengkafirkan, tuduhan pemecah-belah, tuduhan antek Saudi,      tuduhan murji'ah, tuduhan salafi = sekte baru, tuduhan hizbiyyah, tuduhan      tidak kreatif (karena tidak berbuat bid'ah), tuduhan Wahhabi, tuduhan      tidak peduli urusan ummat Islam, dan berbagai tuduhan lainnya..</li>
<li class="MsoNormal">Kumpulan kisah mereka yang      beralih kepada manhaj salaf setelah sebelumnya berkecimpung di berbagai      harakah. (seperti yang dialami webmaster situs ini)</li>
<li class="MsoNormal">Manhaj (metode) nasehat &#38;      kritik Ahlus Sunnah yang sering disalahfahami banyak orang sebagai manhaj      pecah belah / ghibah</li>
<li class="MsoNormal">Kondisi ummat Islam yang      terpecah belah. Realita perpecahan, sabda nabi ttg perpecahan ummat,      penyebab perpecahan, serta solusi untuk mempersatukan ummat di atas      sunnah.</li>
</ul>
<p>Semoga Allah membalas usaha kecil kami ini dengan balasan yang berlipat ganda, dan semoga Anda mendapat manfaat dari usaha yang sederhana ini. Wa akhiiru da'waana 'anil hamdu lillaahi rabbil 'aalamiin.</p>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<hr size="2" /></div>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<hr size="2" /></div>
<p class="style401"><strong>Penjelasan ringkas istilah-istilah yang dipakai dalam pembahasan ::</strong></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span class="style40">Manhaj</span> = Metode / cara / prinsip / jalan. Dalam konteks bahasan di atas, adalah      jalan memahami Islam.</li>
<li class="MsoNormal"><span class="style40">Salafush      Shalih </span>= Para pendahulu yang      shalih. Dalam konteks ini maksudnya adalah pendahulu ummat Islam, yaitu      para sahabat Nabi serta generasi yang mengikuti mereka dan berjalan di      atas manhaj mereka.<br />
"Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi'in dan      para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan      (sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in, -red). Dan setiap orang yang      meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di sepanjang masa disebut      sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka." (Mujmal      Ushul Ahlis Sunnah wal Jama'ah fil "Aqidah, hal. 5-6)</li>
<li class="MsoNormal"><span class="style40">Manhaj      Salaf</span> = Metode memahami, mengamalkan dan mendakwahkan Islam seperti      yang difahami, dimalkan dan didakwahkan oleh para sahabat nabi, para      penerus mereka, dan para imam yang berada di atas sunnah dari zaman ke      zaman.</li>
<li class="MsoNormal"><span class="style40">Salafi</span> = Orang-orang yang berusaha [bukan mengklaim] mengikuti jejak para salaf,      para sahabat dan salafush shalih. Dan sebaik-baik salaf adalah Nabi      Muhammad shallallahu ' alaihi wa sallam.</li>
</ul>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<hr size="2" /></div>
<p><strong>Manhaj salaf salafi salafy salafiyah salafiyyah salafiyin salafiyyin salafiyun salafiyyun salafyoon. Manhaj ahlussunnah ahlu ahlus sunah sunnah wal jamaah jama'ah.</strong> <strong>Fitnah wahab wahhab wahabi wahaby wahhabi wahhaby</strong>.</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sesuatu tentang ghibah]]></title>
<link>http://catatanpengajian.wordpress.com/?p=5</link>
<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 01:10:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>adityahadi</dc:creator>
<guid>http://catatanpengajian.wordpress.com/?p=5</guid>
<description><![CDATA[SESUATU TENTANG GHIBAH
Ini adalah sebuah catatan dari pengajian akhlaq yang merujuk pada kitab ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>SESUATU TENTANG GHIBAH</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Ini adalah sebuah catatan dari pengajian akhlaq yang merujuk pada kitab "Meraih Surga Tertinggi dengan Akhlak yang Mulia" oleh Ust. Abu Haidar As-Sundawy di Masjid At-Taqwa, Lippo Cikarang.</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Akhlaq yang buruk merupakan lawan dari akhlak yang baik. Dan akhlak yang buruk dapat merusak kemuliaan akhlak dan menimbulkan kerusakan baik bagi diri maupun orang lain.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Lisan adalah salah satu nikmat Allah, karena itu kita wajib mensyukurinya.</p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center">أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ <a name="90-9"></a> وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ</p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="color:black;">Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata,</span></em><a name="table11"></a><em><span style="font-size:2pt;color:black;"> </span></em><em><span style="color:black;">lidah dan dua buah bibir. </span></em></p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="color:black;">(QS Al Balad : 8-9)</span></em></p>
<p class="TableContents" style="text-align:justify;">
<p class="TableContents" style="text-align:justify;">
<p class="TableContents" style="text-align:justify;">Yang dimaksud dengan syukur adalah menggunakan nikmat yang kita peroleh sesuai dengan kehendak Allah. Jangan hanya kita ungkapkan syukur dengan lisan, tapi buktikan pula dengan amal perbuatan. Dan yakinlah bahwa nikmat kita akan ditambah bila kita bersyukur.</p>
<p class="TableContents" style="text-align:justify;">
<p class="TableContents" style="text-align:center;">
<p class="TableContents" style="text-align:center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا <a name="33-71"></a> يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ  وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا</p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><a name="table1"></a><em><span style="color:black;">Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. </span></em></p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="color:black;">(QS Al-Ahzab : 70-71)</span></em></p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Yang dimaksud dengan perkataan yang benar dan baik di sini adalah perkataan yang lurus, bebas dari kebohongan, ghibah, namimah, dan tidak mengundang sedikit pun dosa. Di sini ada 2 manfaat / faidah dari perkataan yang baik :</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>Allah akan memperbaiki amalan-amalan kita </strong>(Dengan cara : <span> </span>Memberikan hidayah untuk melakukan ketaatan, dan memberi ilham untuk bertaubat bila berbuat dosa)<strong><br />
</strong></li>
<li class="MsoNormal"><strong>Allah akan mengampuni dosa-dosa kita</strong></li>
</ol>
<p><!--more--></p>
<p class="TableContents" style="text-align:justify;">Cara Allah memberikan hidayah bagi kita adalah dengan memberikan / menimbulkan keinginan dalam hati untuk melaksanakan suatu ketaatan, lalu diberinya kemampuan kepada kita untuk melaksanakan ketaatan itu. Dan ingatlah bahwa Allah sangat membanci orang yang bicaranya kotor dan keras.</p>
<p class="TableContents" style="text-align:justify;">
<p class="TableContents" style="text-align:center;">مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ <a name="74-43"></a> قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ  الْمُصَلِّينَ <a name="74-44"></a> وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ <a name="74-45"></a> وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ <a name="74-46"></a> وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ <a name="74-47"></a> حَتَّى أَتَانَا  الْيَقِينُ</p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><a name="table13"></a><em><span style="color:black;">"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian".</span></em></p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><em>(QS Al-Mudatstsir : 42-47)</em></p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><em> </em></p>
<p class="TableContents">
<p class="TableContents">Yang dimaksud dengan membicarakan yang batil di sini adalah berbicara tanpa ilmu yang merupakan dosa besar. Bisa pula bermakna menceritakan sesuatu tanpa konfirmasi sebelumnya di mana ini sangat dibenci Allah. Padahal Allah berfirman :</p>
<p class="TableContents"><span style="color:black;"> </span></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:black;"> </span></em>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا  أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ</p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><a name="table14"></a><em><span style="color:black;">Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.</span></em></p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="color:black;">(QS Al-Hujuurat : 6)</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="TableContents" style="text-align:justify;">
<p class="TableContents" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Di antara dosa yang dapat ditimbulkan dari lisan dan wajib kita jauhi adalah :</span></p>
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:StarSymbol;color:black;"><span>●<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Ghibah</span></span></p>
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:StarSymbol;color:black;"><span>●<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Mengumpat</span></span></p>
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:StarSymbol;color:black;"><span>●<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Berbicara tentang sesuatu yang tidak kita ketahui</span></span></p>
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:16pt;font-family:Traditional Arabic;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ  آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا  تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ  لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ  رَحِيمٌ</span><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Traditional Arabic;"> </span></strong></p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><a name="table15"></a><em><span style="color:black;">Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang</span></em></p>
<p class="TableContents" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="color:black;">(QS Al-Hujuurat : 12)</span></em></p>
<p class="TableContents"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="TableContents">
<p class="TableContents"><span style="color:black;">Namun bagaimanapun, dosa ghibah masih dapat dihapus dosanya di antaranya dengan :</span></p>
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:StarSymbol;color:black;"><span>●<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Meminta ampun kepada Allah atas diri kita dan orang yang kita ghibahi</span></span></p>
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:StarSymbol;"><span>●<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Meminta maaf kepada orang yang kita ghibahi.</span></span></p>
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;">
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;">
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;text-align:center;"><strong><em>Taqoballahu a'maalana waj'alna minal muttaqiin</em></strong></p>
<p class="TableContents" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;text-align:center;"><strong>Abu Utsman Abdul Haadi Al-Atsary</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lihatlah Hatimu]]></title>
<link>http://mbahtuek.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 10:02:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>mbahtuek</dc:creator>
<guid>http://mbahtuek.wordpress.com/?p=9</guid>
<description><![CDATA[Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Ses]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (Yang lebih benar untuk penyebutan segumpal darah (القلب ) tersebut adalah jantung, akan tetapi di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan القلب dengan “hati”).</p>
<p>Maka hati bagaikan raja yang menggerakkan tubuh untuk melakukan perbuatan-perbuatannya, jika hati tersebut adalah hati yang baik maka seluruh tubuhnya akan tergerak untuk mengerjakan hal-hal yang baik, adapun jika hatinya adalah hati yang buruk maka tentunya juga akan membawa tubuh melakukan hal-hal yang buruk. Hati adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!!<!--more--><!--more--></p>
<p>Ketahuilah, hati ini merupakan penggerak bagi seluruh tubuh, ia merupakan poros untuk tercapainya segala sarana dalam terwujudnya perbuatan. Hati laksana panglima yang memompa pasukannya untuk melawan musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur dari medan peperangan. Karena hati disifatkan dengan sifat kehidupan dan kematian, maka hati ini juga dibagi dalam tiga kriteria yakni hati yang mati, hati yang sakit dan hati yang sehat.</p>
<p>1. Hati yang Sehat</p>
<p>Yaitu hati yang selamat, hati yang bertauhid (mengesakan Alloh dalam setiap peribadatannya), di mana seseorang tidak akan selamat di hari akhirat nanti kecuali ia datang dengan membawa hati ini. Alloh berfirman dalam surat as-Syu’ara ayat 88-89:</p>
<p>يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ</p>
<p>“(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).” (QS. Asy Syu’ara: 88,89)</p>
<p>Hati yang sehat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Alloh, selamat dari setiap syubhat (kerancuan-kerancuan dalam pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Alloh dan berhukum kepada hukum selain hukum Rosul-Nya. Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada Alloh dalam keinginannya, dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam kecintaannya Jika ia mencintai ia mencintai karena Alloh, jika ia membenci ia membenci karena Alloh, jika ia memberi ia memberi karena Alloh, jika ia menolak ia menolak karena Alloh. Hati ini terbebas dari berhukum kepada hukum selain Alloh dan Rosul-Nya. Hati ini telah terikat kepada suatu ikatan yang kuat, yakni syariat agama yang Alloh turunkan. Sehingga hati ini menjadikan syariat sebagai panutan dalam setiap perkataan dan perbuatannya.</p>
<p>Alloh berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap mendahului Alloh dan Rosul-Nya, bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurot: 1)</p>
<p>Pemilik hati yang sehat ini akan senantiasa dekat dengan Al Quran, ia senantiasa berinteraksi dengan Al Quran, ia senantiasa tenang, permasalahan apapun yang dihadapinya akan dihadapi dengan tegar, ia senantiasa bertawakal kepada-Nya karena ia mengetahui semua hal berasal dari Alloh dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Di manapun ia berada zikir kepada Alloh senantiasa terucap dari lisannya, jika disebut nama Alloh bergetarlah hatinya, jika dibacakan ayat-ayatNya maka bertambahlah imannya. Pemilik hati inilah seorang mukmin sejati, orang yang Alloh puji dalam Firman-Nya:</p>
<p>يُنَزِّلُ الْمَلآئِكَةَ بِالْرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُواْ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنَاْ فَاتَّقُونِ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ تَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allohlah mereka bertawakkal (berserah diri).” (QS. An-Nahl: 2-3)</p>
<p>2. Hati yang Mati</p>
<p>Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Robbnya, ia tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya, ia tidak menghadirkan setiap perbuatannya berdasarkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati ini senantiasa berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan dunia walaupun di dalamnya ada murka Alloh, akan tetapi hati ini tidak memperdulikan hal-hal tersebut, baginya yang terpenting adalah bagaimana ia bisa melimpahkan hawa nafsunya. Ia menghamba kepada selain Alloh, jika ia mencinta maka mencinta karena hawa nafsu, jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsu.</p>
<p>Alloh berfirman:</p>
<p>أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ</p>
<p>“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jaatsiyah: 23)</p>
<p>Pemilik hati ini jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran maka dirinya tidak tergetar, ia senantiasa ingin menjauh dari Al Quran, ia lebih senang mendengar suara-suara yang membuatnya lalai, ia lebih senang mendengar nyanyian, mendengar musik, mendengar suara-suara yang menggejolakkan hawa nafsunya. Pemilik hati ini senantiasa gelisah, ia tidak tahu harus kepada siapa ia menyandarkan dirinya, ia tidak tahu kepada siapa ia berharap, ia tidak tahu kepada siapa ia meminta, kehidupannya terombang-ambing, ke mana saja angin bertiup ia akan mengikutinya, ke mana saja syahwat mengajaknya ia akan mengikutinya, wahai betapa menderitanya pemilik hati ini!</p>
<p>3. Hati yang Sakit</p>
<p>Hati ini adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Hati ini akan mengikuti unsur kuat yang mempengaruhinya, terkadang hati ini cenderung kepada “kehidupan” dan terkadang cenderung kepada “penyakit”. Pada hati ini ada kecintaan kepada Alloh, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya. Akan tetapi pada hati ini juga terdapat kecintaan kepada syahwat, ketamakan, hawa nafsu, dengki, kesombongan dan sikap bangga diri.</p>
<p>Ia ada di antara dua penyeru, penyeru kepada Alloh, Rosul dan hari akhir dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab kepadanya.</p>
<p>Pemilik hati ini akan senantiasa berubah-ubah, terkadang ia berada dalam ketaatan dan kebaikan, terkadang ia berada dalam maksiat dan dosa. Amalannya senantiasa berubah sesuai dengan lingkungannya, jika lingkungannya baik maka ia berubah menjadi baik adapun jika lingkungannya buruk maka ia akan terseret pula kepada keburukan.</p>
<p>Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu’, tawadhu’, lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati. Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.</p>
<p>Maka wahai kaum muslimin! hendaknya kita menginterospeksi diri kita sendiri, termasuk dalam golongan yang manakah hati kita? apakah hati kita termasuk dalam hati yang sehat, hati yang sakit atau malah hati kita telah mati? Maka renungkanlah Firman Alloh dalam surat Al-Kahfi ayat 49:</p>
<p>وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِراً وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً</p>
<p>“Dan diletakkanlah kitab (kitab amalan perbuatan), lalu kamu akan melihat orang-orang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan hadir (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. Al Kahfy: 49)</p>
<p>Dan sebaliknya Firman-Nya dalam Surat Al-Kahfi ayat 29-30:</p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً أُوْلَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَاباً خُضْراً مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقاً</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (QS. Al Kahfy: 29,30)</p>
<p>Wahai zat yang membolak-bolakkan hati, teguhkanlah hati kami diatas agamamu, wahai zat yang membolak-balikkan hati tuntunlah hati kami teguh di atas ketaatan kepada-Mu…</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Sa’id Satria Buana<br />
Murojaah: Ustadz Abu Sa’ad</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kekuatan Akhlaq]]></title>
<link>http://firdausabadi.wordpress.com/?p=30</link>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 13:52:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>firdausabadi</dc:creator>
<guid>http://firdausabadi.wordpress.com/?p=30</guid>
<description><![CDATA[Suatu hari amirul mukminin Abu Bakar r.a. yang telah menjabat sebagai khalifah pertama bertanya kepa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari amirul mukminin Abu Bakar r.a. yang telah menjabat sebagai khalifah pertama bertanya kepada putrinya Aisyah r.a. yang juga merupakan istri dari Rasulullah S.A.W.<br />
Abu Bakar r.a: Wahai anakku, aku telah menjadi khalifah menggantikan Rasulullah S.A.W, menurutmu apa yang telah Rasulullah S.A.W perbuat semasa hidupnya yang belum pernah aku perbuat?<br />
Aisyah r.a. kemudian berpikir sejenak kemudian menjawab pertanyaan ayahnya<br />
Aisyah r.a: Wahai ayah, sesungguhnya apa yang telah Rasulullah S.A.W perbuat telah engkau perbuat juga, tapi ada suatu hal yang belum engkau perbuat, yaitu, setiap hari biasanya Rasulullah S.A.W menghampiri pengemis tua yang berada di dekat pasar tersebut kemudian memberinya sepotong roti.<br />
Mendengar jawaban tersebut kemudian Abu Bakar r.a bergegas untuk menemui pengemis yang dimaksudkan oleh putrinya tersebut.<br />
Ketika menemukan pengemis tersebut kemudian Abu Bakar r.a mendekatinya, seketika itu juga alangkah kagetnya Abu Bakar r.a karena pengemis tersebut ternyata buta dengan keadaan yang memprihatinkan dan berasal dari kalangan bangsa yahudi.<br />
Lebih dari itu ada yang membuat hati Abu Bakar r.a penuh amarah karena ketika ditemukan pengemis tersebut sedang memfitnah dan memaki-maki Rasulullah S.A.W ketika sedang meminta kepada setiap orang yang melintasinya. Namun, Abu Bakar r.a menahan amarahnya kemudian berjalan menghampiri sang pengemis untuk memberinya roti seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah S.A.W.<br />
Ketika tepat dihadapan pengemis tua tersebut Abu Bakar r.a langsung memberikan roti tersebut dan meletakkannya di tangan pengemis tua tersebut. Pengemis tua tersebut kemudian merasa heran kemudian bertanya kepada orang yang memberinya roti kepadanya.<br />
Pengemis: Siapakan anda?<br />
Abu Bakar r.a merasa kaget dan heran dengan pengemis tersebut kemudian menjawab pertanyaan pengemis tersebut.<br />
Abu Bakar r.a: Saya adalah orang yang setiap hari memberimu roti ini<br />
Pengemis: (dengan yakin menjawab) bukan, anda bukanlah orang yang biasa memberiku makanan<br />
Abu Bakar r.a: (masih dengan perasaan heran) Wahai pak tua, bagaimana engkau tahu bahwa aku bukanlah orang yang biasa memberimu roti?<br />
Pengemis: Orang yang biasa memberiku roti memiliki tangan yang halus, dan roti yang diberikannya adalah roti yang terbaik yang ada di pasar ini.<br />
Pengemis: Dia tau gigiku sudah hampir tanggal semua, karena itu, dia melunakkan potongan roti tersebut kemudian dengan penuh kasih sayang menyuapkannya dengan sabar kemulutku, sepotong demi sepotong sampai roti tersebut habis.<br />
Secara tidak sadar Abu Bakar r.a menitikkan air matanya mendengar penuturan pengemis tua tersebut.<br />
Pengemis: (melanjutkan perkataanya) katakan kepadaku, dimanakah orang yang baik hati tersebut?, aku ingin sekali menjumpainya karena sudah lama orang tersebut tidak datang menemuiku.<br />
Abu Bakar r.a semakin yakin bahwa setiap kali Rasulullah S.A.W menemui pengemis tersebut dan memberinya roti tidak pernah sekalipun memberitahukan namanya.<br />
Abu Bakar r.a: Wahai pengemis tua, ketahuilah bahwa seseorang yang selalu memberimu makanan telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.<br />
Abu Bakar r.a: Beliau adalah Muhammad Rasulullah S.A.W, orang yang selalu engkau fitnah dan engkau caci maki<br />
Mendengar jawaban dari Abu Bakar, Pengemis tersebut secara spontan menangis tersedu-sedu, tidak disangka ternyata orang yang selalu memperhatikannya, memberinya kasih sayang dan makanan adalah orang yang selama ini paling ia benci, yang selalu ia fitnah dan caci maki, yaitu Muhammad S.A.W.<br />
Kemudian diriwayatkan bahwa akhirnya pengemis tersebut mengucapkan syahadat langsung didepan Abu Bakar r.a.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Halalkah Bekicot?]]></title>
<link>http://pkslawang.wordpress.com/?p=98</link>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 06:28:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>heri</dc:creator>
<guid>http://pkslawang.wordpress.com/?p=98</guid>
<description><![CDATA[
Assalamualaikum wr wb
Ustadzyangdi rahmati Allah, 
Saya mau tanya tentang halal/haramnya bekicot da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>
Assalamualaikum wr wb</p>
<p>Ustadzyangdi rahmati Allah, </p>
<p>Saya mau tanya tentang halal/haramnya bekicot dan bagaiman penjelasannya.</p>
<p>Atas jawabannya saya ucapkan jazakAllah</p>
<p>Yuli<!--more--><br />
Jawaban</p>
<p>Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, </p>
<p>Di Perancis ada masakan yang kondang disebut escargot yang berbahan baku daging bekicot. Di Jepang pun bekicot juga digemari. Kedua negara itu banyak mengimpor daging bekicot.</p>
<p>Beberapa negara lain juga selalu mengimpor daging bekicot, seperti Hongkong, Belanda, Taiwan, Yunani, Belgia, Luxemburg, Kanada, Jerman dan Amerika Serikat.</p>
<p>Dan Indonesia termasuk salah satu negara eksportir bekicot. Tapi volume dan kontinuitasnya belum memenuhi kebutuhan pasar importir. Sehingga mengekspor bekicot memang sebuah peluang tersendiri yang bepotensi mendatangkan devisa.</p>
<p>Di daerah Kediri, banyak penduduk yang membudidayakan bekicot ini. Ada yang mengolah jadi keripik bekicot, sate bekicot, rempeyek bekicot, dan sebagainya.</p>
<p>Kandungan Gizi</p>
<p>Ada beberapa penelitian yang umumnya menyebutkan bahwa bekicot mengandung protein yang tinggi. Sedangkan cangkang bekicot kaya kalsium, dan dalam daging tersebut masih terdapat banyak asam-asam amino.</p>
<p>Sumber data lain menunjukkan, protein yang terkandung sekitar 12 gram per 100 gram dagingnya. Kandungan lain adalah lemak 1%, hidrat arang 2%, kalsium 237 mg, fospor 78 mg, Fe 1, 7 mg serta vitamin B komplek terutama vitamin B2.</p>
<p>Selain itu kandungan asam amino daging bekicot cukup menonjol. Dalam 100 gr daging bekicot kering antara lain terdiri atas leusin 4, 62 gr, lisin 4, 35 gr, arginin 4, 88 gr, asam aspartat 5, 98 gr, dan asam glutamat 8, 16 gr.</p>
<p>Temuan di Kediri, menurut mereka yang biasa makan daging bekicot, daging itu dapat menyembuhkan penyakit gatal-gatal, batuk, kudis dan sebagainya. Tidak jelas sumbernya, karena belum diteliti secara ilmiyah.</p>
<p>Hukum Bekicot</p>
<p>Lepas dari masalah kandungan gizi, khasiat atau pun peluang bisnis mengekspor bekicot, sebagai muslim kita harus berhadapan terlebih dahulu dengan hukum halal haram.</p>
<p>Apakah hukum bekicot itu? Halalkah atau haram? Bagaimana dalil yang terkait dengan masalah ini.</p>
<p>Jawabnya, ternyata terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama tentang hukum makan bekicot. Ada sebagian kalangan ulama yang tegas mengharamkannya. Namun setelah diteliti, ternyata ada sebagian lainnya yang berpedapat tidak cukup dalil untuk mengharamkannya.</p>
<p>Kenapa bisa begitu?</p>
<p>Penjelasannya, ternyata perbedaan pendapat ini dipicu dari tidak ditemukannya dalil yang tegas menyebutkan bahwa hewan yang namanya bekicot itu haram.</p>
<p>Seandainya ada ayat yang mengharamkan dengan menyebut nama bekicot sebagai hewan yang haram dimakan, tentu saja tidak akan terjadi perbedaan pendapat. Seperti ketika Allah SWT mengharamkan babi, yang secara tegas disebut di dalam Al-Quran.</p>
<p>Namun kita memang tidak menemukan kata 'bekicot' baik di dalam Al-Quran maupun di dalam hadits nabawi. Walhasil, masalah ini menyisakan ruang buat para mujtahid untuk berbeda pendapat.</p>
<p>1. Pendapat Yang Mengharamkan</p>
<p>Sebagian ulama mengharamkan bekicot dengan dasar bahwa hewan itu menjijikkan. Dan secara umum memang setiap orang akan merasakan hal yang sama, yaitu perasaan jijik kalau melihat bekicot.</p>
<p>Coba saja seandainya di dalam rumah kita ada sepuluh bekicot nempel di dinding ruang tamu, pasti kesan jorok, kotor dan jijik langsung muncul. Perasaaan inilah yang kemudian dijadikan landasan untuk mengharamkan makan bekicot.</p>
<p>Pendapat ini dikuatkan oleh penjelasan dalam kitab 'kuning', yaitu Kitab Hayatu al-Hayawan al-Kubra juz 1 halaman 237:</p>
<p>(الْحَلَرُوْنَ)... (وَحُكْمُهُ) التَّحْرِيْمُ لاِسْتِخْبَاثِهِ. وَقَدْ الَّرافِعِى فِى السَّرَطَانِ اِنَّهُ يَحْرُمُ لِمَا فِيْهِ مِنَ الضَّرَرِ وَلاَنَّهُ دَاخِلٌ فِى عُمُوْمِ تَحْرِيْمِ الصَّدَفِ.</p>
<p>(bekicot) … (dan hukumnya) di haramkan karena menjijikkan. Ar Rafii sungguh telah berkata dalam masalah kepiting: Sesungguhnya bekicot itu haram karena di dalammnya terdapat kemudaratan, dan karena bekicot itu masuk dalam ke umuman dari keharaman rumah kerang. </p>
<p>Dengan menggunakan pendapat dari Ar-Rafi'i, kalangan Nahdliyyin di Jawa Timur dalam Bahtsul Masail tahun 1997 menetapkan keharaman bekicot.</p>
<p>2. Pendapat Yang Tidak Mengharamkan</p>
<p>Sementara kalangan ulama yang tidak mengharamkan bekicot berangkat dari kaidah fiqih, bahwa segala sesuatu termasuk makanan, punya hukum asal, yaitu halal.</p>
<p>Dan kedudukan hukum halal ini tidak bisa berubah kecuali bila telah datang dalil yang tegas untuk mengharamkannya. Dalil itu bisa saja berupa ayat Quran ataupun hadits nabawi yang menyebutkan keharamannya secara langsung, namun bisa juga secara tidak langsung, kecuali hanya dengan menyebutkan kriterianya saja.</p>
<p>Nah, menurut mereka, tidak ada satu pun ayat atau hadits yang menyebutkan keharaman bekicot secara langsung. Dan ternyata dalil yang mengharamkan secara tidak langsung pun juga tidak ditemukan. Tidak ada satu pun kriteria keharaman makanan yang termasuk di dalamnya daging bekicot</p>
<p>Kriteria Hewan Yang Haram Dimakan<br />
Bangkai, yaitu hewan berkaki empat atau dua (al-an'am) yang tidak matinya tidak disembelih secara syar'i.<br />
Hewan yang diharamkan untuk membunuhnya.<br />
Hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya.<br />
Hewan yang bercakar dan berkuku, di mana cakar dan kukunya digunakan untuk memangsa buruannya.<br />
Al-Jallaalah, yaitu hewan yang makanan pokoknya benda najis dan kotoran<br />
Hewan yang hidup di dua alam (ini pun masih khilafiyah)</p>
<p>Hewan Yang Menjijikkan</p>
<p>Dari keenam kriteria di atas, ada satu kriteria yang diperdebatkan oleh para ulama, yaitu tentang hewan yang menjijikkan.</p>
<p>Masalah pertama, manakah dalil yang menyebutkan bahwa bila seseorang merasa jijik atas suatu hewan, maka hewan itu hukumnya haram.</p>
<p>Masalah kedua, bila memang benar ada dalil yang menyebutkan bahwa rasa jijik = haram, lalu rasa jijik menurut standar siapa?</p>
<p>Sebab tiap orang ternyata punya standar rasa jijik yang berbeda-beda. Apakah standar untuk memberikan batasannya?</p>
<p>Karena itu pada akhirnya urusan bekicot ini tetap menjadi polemik di kedua belah pihak, masing-masing bersikeras untuk mempertahankan pendapatnya.</p>
<p>Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p><a href="http://www.eramuslim.com/ustadz/mkn/8422145204-halalkah-bekicot.htm">sumber: Eramuslim</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Makan di Standing Party]]></title>
<link>http://pkslawang.wordpress.com/?p=97</link>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 06:25:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>heri</dc:creator>
<guid>http://pkslawang.wordpress.com/?p=97</guid>
<description><![CDATA[Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Mau tanya, gimana hukumnya makan di acara stand]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, </p>
<p>Mau tanya, gimana hukumnya makan di acara standing party yang sekarang banyak dilakukan saat resepsi pernikahan? Padahal di situ kan minim tempat duduk. Gimana?</p>
<p>Ning<!--more--><br />
Jawaban</p>
<p>Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, </p>
<p>Kami mungkin tidak akan menjawab apa yang anda tanyakan tentang istilah standing party. Yang ingin kami jawab adalah apa hukum makan dan minum sambil berdiri.</p>
<p>Lho apa bedanya?</p>
<p>Mungkin begitu Anda akan balik bertanya. Kami katakan bahwa keduanya beda. Standing party tidak semata-mata hanya urusan makan atau minum sambil berdiri, tetapi ada istilah party, yaitu pesta. Maka jelas ada beda antara standing party dengan sekedar makan atau minum sambil berdiri.</p>
<p>Setidaknya, sebuah standing party sejak awal memang diniatkan agar para tamu sengaja tidak duduk ketika makan dan minum. Sedangkan makan dan minum sambil berdiri, bisa saja dilakukan karena kebetulan, bukan semata-mata disengaja sejak awal.</p>
<p>Hukum Makan dan Minum Sambil Berdiri</p>
<p>Dari umumnya tulisan para ulama dan literatur yang kita baca di mana-mana, kalau ada pertanyaan seperti itu, jawabannya mudah ditebak.</p>
<p>Ya, benar, hukumnya haram.</p>
<p>Dan dalilnya adalah dalil yang juga sering kita temukan dalam berbagai situs keIslaman. Salah satunya adalah dalil berikut ini:</p>
<p>Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sambil minum berdiri. (HR Muslim no. 2024, Ahmad no. 11775 dll)</p>
<p>Dari Abu Sa’id al-Khudriy, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri. (HR Muslim no. 2025)</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR Ahmad no 8135)</p>
<p>Sehingga dengan banyaknya literatur yang menyebutkan keharaman makan dan minum sambil berdiri, keseringan kita pun juga akan mengatakan hal yang sama, yaitu makan dan minum sambil berdiri hukumnya haram.</p>
<p>Hadits-hadits Yang Membolehkan</p>
<p>Ternyata setelah ditelurusuri baik-baik di beberapa kitab hadits, kita menemukan juga hadits-hadits yang sekiranya malah membolehkan makan dan minum sambil berdiri. Dan hadits itu juga kuat dari segi sanadnya. Antara lain:</p>
<p>Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.” (HR Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)</p>
<p>Dari An-Nazal, beliau menceritakan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu mendatangi pintu ar-Raghbah lalu minum sambil berdiri. Setelah itu beliau mengatakan, “Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sebagaimana yang baru saja aku lihat.” (HR Bukhari no. 5615)</p>
<p>عن ابن عمر ض قال: كنا نأكل على عهد رسول الله ص و نحن نمشي و نشرب و نحن قيام (رواه الترمذي 4:300 وقال حسن صحيح)</p>
<p>Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Dahulu kami makan di zaman Rasulullah SAW sambil berjalan, juga kami minum sambil berdiri. (HR At-Tirmizy 4/300 dengan status Hasan Shahih)</p>
<p>عن ابن عباس قال: شرب النبي ص من زمزم وهو قائم (رواه الترمذي 4:301 وقال حسن صحيح)</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, "Nabi SAW minum air zamzam dalam keadaan berdiri (HR At-Tirmizy 4/301 dengan status Hasan Shahih)</p>
<p>Maka kalau kita simpulkan, ternyata memang ada hadits-hadits yang menyebutkan bahwa para shahabat makan sambil berjalan, atau minum sambil berdiri. Bahkan Rasulullah SAW pun disebutkan minum air zamzam sambil berdiri.</p>
<p>Lepas dari masalah pro dan kontra, kenyataannya hadits-hadits itu memang nyata ada. Dan At-Tirmizy yang meriwayatkannya tegas menyatakan bahwa statusnya adalah Hasan Shahih.</p>
<p>Maksudnya?</p>
<p>Menurut sebagian ulama, kalau Al-Imam At-Tirmizy mengatakan suatu hadits berkekuatan hasan shahih, maka ada dua kemungkinan.</p>
<p>1. Kemungkinan pertama, hadits itu punya 2 sanad. Sanad pertama hasan dan sanad kedua shahih.</p>
<p>2. Kemungkinan kedua, hadits itu punya 1 sanad saja, oleh sebagian ulama dikatakan hasan dan oleh ulama lain disebut shahih.</p>
<p>Hadits Lainnya</p>
<p>Dalam riwayat Ahmad dinyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan:</p>
<p>“Apa yang kalian lihat jika aku minum sambil berdiri. Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum sambil berdiri. Jika aku minum sambil duduk maka sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk.” (HR Ahmad no 797)</p>
<p>Dari Ibnu Umar beliau mengatakan, “Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan.” (HR Ahmad no 4587 dan Ibnu Majah no. 3301 serta dishahihkan oleh al-Albany)</p>
<p>Di samping itu Aisyah dan Said bin Abi Waqqash juga memperbolehkan minum sambil berdiri, diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Zubaer bahwa beliau berdua minum sambil berdiri. (lihat al-Muwatha, 1720 - 1722)</p>
<p>Beda Pendapat</p>
<p>Mungkin anda akan balik bertanya, kenapa kalau bertanya di rubrik ini, selalu malah tambah bingung, karena selalu disuguhi dengan perbedaan pendapat dan dalil yang saling bertentangan.</p>
<p>Kenapa tidak ditampilkan satu dalil saja yang paling kuat lalu yang lain ditolak? Juga kenapa tidak diambil satu pendapat saja, lalu yang lain dibuang, biar tidak selalu dalam keadaan bimbang?</p>
<p>Jawabnya, kami tidak pernah dididik untuk membuang suatu dalil yang sekiranya masih dijadikan landasan oleh para ulama. Kami juga tidak diajarkan untuk terlalu mudah menafikan jawaban para ulama.</p>
<p>Rupanya pendidikan di Fakultas Syariah LIPIA selalu mengajarkan bahwa kita harus jujur dengan ilmu. Apa yang memang dikatakan oleh para ulama, lepas apakah kita sepakat atau tidak dengan pendapat mereka, harus secara ikhlas kita sampaikan. Bahwa kemudian kita sepakat dengan pendapat mereka, atau tidak sepakat, lain urusannya.</p>
<p>Tentunya kami pun tahu bahwa sekian banyak pembaca rubrik tercinta ini terdiri dari beragam latar belakang paham dan mazhab fiqih. Rasanya bukan pada tempatnya untuk menggiring opini pribadi kepada suatu pendapat pribadi.</p>
<p>Mungkin hal itu memang tidak bisa dihindari 100%, namun setidaknya upaya untuk bersikap seimbang, balance, dan adil, tetap harus dijunjung tinggi.</p>
<p>Untuk itu kami tampilkan juga hadits-hadits dan pendapat-pendapat yang sekiranya membolehkan makan dan minum sambil berdiri.</p>
<p>Pendapat 4 Ulama Mazhab Tentang Makan dan Minum Sambil Berdiri</p>
<p>1. Mazhab Al-Hanafiyah</p>
<p>Menurut pandangan mazhab ini, makan dan minum sambil berdiri hukumnya adalah karahah tanzih. Maksudnya dibenci atau tidak disukai.</p>
<p>Namun mazhab ini mengecualikannya dengan mengatakan bahwa dibolehkan minum air zamzam atau air bekas wudhu sambil berdiri.</p>
<p>Pendapat mazhab ini bisa kita lihat dalam Ibnu Abidin jilid 1 halaman 387.</p>
<p>2. Mazhab Al-Malikiyah </p>
<p>Dalam pandangan mazhab ini, hukum makan dan minum sambil berdiri dibolehkan, tidak ada larangan. Jadi siapa pun boleh untuk makan atau minum sambil berdiri.</p>
<p>Kalau kita teliti kitab-kitab seperti Al-Fawakih Ad-Dawani jilid 2 halaman 417 dan Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 288, maka kita akan dapat keterangan seperti itu.</p>
<p>3. Mazhab As-Syafi'iyah </p>
<p>Mazhab ini mengatakan bahwa minum sambil berdiri adalah khilaful aula (menyalahi keutamaan). Jadi bukan berarti haram hukumnya secara total.</p>
<p>Silahkan periksa kitab Asy-Syafi'iyah, semisal kitab Raudhatuttalibin jilid 7 halaman 340 dan kitab lainnya seperti Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 250.</p>
<p>4. Mazhab Al-Hanabilah</p>
<p>Dalam pandangan salah satu riwayat mazhab ini, dikatakan bahwa mazhab ini cenderung tidak mengatakan ada karahah (kebencian) untuk minum dan makan sambil berdiri.</p>
<p>Namun dalam riwayat yang lain malah disebutkan sebaliknya, yaitu mereka mengatakan justru ada karahah (kebencian).</p>
<p>Silahkan periksa Kitab Kasysyaf Al-Qinna' jilid 5 halaman 177 dan juga kitab Al-Adab Asy-Syar'iyah jilid 3 halaman 175-176.</p>
<p>Kesimpulan:</p>
<p>Jadi kesimpulannya, makan dan minum sambil berdiri ada yang mengatakan haram, makruh dan ada yang mengatakan boleh tanpa karahah. Intinya, hukumnya khilafiyah juga.</p>
<p>Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, </p>
<p>Ahmad Sarwat, Lc</p>
<p><a href="http://www.eramuslim.com/ustadz/mkn/8523091841-makan-standing-party.htm">Sumber Eramuslim</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Infakkan yang Baik]]></title>
<link>http://mardee19.wordpress.com/?p=90</link>
<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 16:11:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>mardee</dc:creator>
<guid>http://mardee19.wordpress.com/?p=90</guid>
<description><![CDATA[Allah subhanahu wata’ala adalah Dzat yang Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik-baik. Ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:verdana;color:#003300;">Allah <em>subhanahu wata’ala</em> adalah Dzat yang Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik-baik. Manusia dengan fithrahnya juga demikian, senantiasa menghendaki dan menginginkan yang baik. Jika kita -misalnya- merupakan salah seorang yang kebetulan diberi karunia oleh Allah dengan harta yang banyak (kaya), maka janganlah kita berpikiran bahwa selain kita (orang miskin) hanya berhak mendapatkan sesuatu yang sudah usang atau sesuatu yang sudah tidak berguna lagi. Sekali-kali jangan! Karena manusia pada dasarnya mempunyai perasaan yang sama. Jika seseorang tidak mau disakiti, maka yang lain pun demikian, jika kita tidak mau diberi sesuatu yang buruk, maka orang lain juga demikian, jika kita ingin diperlakukan dengan baik, maka orang lain juga demikian dan seterusnya.</p>
<p>Di antara kita mungkin pernah mendengar tentang seseorang atau suatu perusahaan yang memberikan bantuan kepada orang lain, baik orang miskin atau orang yang sedang terkena musibah dengan memberikan makanan atau kue yang sudah kedaluarsa (habis masa berlakunya), memberikan beras yang sudah berbau busuk, pakaian yang sudah tidak layak pakai, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dalam kaca mata syari'at, hal ini merupakan perbuatan tercela dan bertentangan dengan makna infak itu sendiri. Sebab infak akan memiliki makna jika harta yang diinfakkan adalah sesuatu yang masih atau sangat berguna dan bermanfaat bagi si penerima. Dan yang ke dua, infak akan memiliki makna, jika si penginfak sendiri sebenarnya masih menganggap apa yang dia infakkan itu sebagai sesuatu yang berharga bagi dirinya. Sebab infak merupakan sebuah pengorbanan, yakni mengorbankan sesuatu yang kita cintai atau kita butuhkan agar dimanfaatkan oleh pihak lain yang lebih membutuhkan, semata-mata karena mengharap keridhaan Allah.</p>
<p>Bahkan tingkatan “birr” atau kebaikan yang hakiki tidak dapat diraih, kecuali dengan menginfakkan sebagian dari sesuatu yang kita cintai. Sebagaimana firman Allah , artinya,<br />
<em>”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”</em> (QS. Al-Imran: 92)</p>
<p>Merupakan tabiat manusia adalah mencintai sesuatu yang baik, dan enggan dengan segala sesuatu yang buruk. Maka jika kita enggan dengan yang buruk, janganlah memberikan yang buruk tersebut kepada orang lain.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman, artinya,<br />
<em>“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."</em> (Surat Al-Baqarah: 267)</p>
<p>Apakah layak jika ada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, kekurangan makanan, rumahnya rusak, kehilangan sanak kerabat dan harta, bahkan dia sendiri sedang sakit, lalu kita berikan kepadanya sesuatu yang sudah tidak berharga? Mari kita jawab bersama dengan hati nurani. </span><!--more--><br />
<span style="font-family:verdana;color:#003300;"><br />
<strong>Jangan Ikuti Bisikan Syetan</strong></p>
<p>Syetan merupakan musuh yang nyata bagi manusia, dan permusuhan tersebut tidak akan pernah berhenti hingga hari Kiamat. Dengan segala cara syetan menggoda anak cucu Adam agar mau mengikuti bisikannya. Syetan menyuruh manusia agar tidak menaati apa yang diperintahkan Allah <em>subhanahu wata’ala</em> dan melakukan apa yang Dia dilarang. Dia selalu menyuruh kemungkaran dan keburukan serta menghalangi manusia dari jalan kebaikan. Cara yang paling biasa digunakan syetan adalah dengan <em>talbis atau tazyin (kamuflase)</em>. Yaitu membuat tipuan dengan cara menghisai keburukan, sehingga kelihatan baik serta menjadikan kebaikan sebagai sesuatu yang terlihat buruk.</p>
<p>Di antara contohnya adalah dalam hal infak di jalan Allah. Allah <em>subhanahu wata’ala</em> telah memerintahkan kita untuk menginfakkan segala sesuatu yang baik dan berharga supaya memberikan mafaat bagi pihak lain. Tetapi dengan kelicikannya, syetan menggoda kita agar menginfakkan sesuatu yang buruk, yang tidak berharga yang kita sendiri sudah enggan terhadapnya. Syetan menakut-nakuti manusia bahwa jika mereka menginfakkan sesuatu yang masih berguna dan berharga, maka akan menjadikan mereka melarat dan berkurang kekayaannya. Dan jika yang diberikan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna, maka kekayaannya akan tetap utuh, sehingga terhindar dari kemelaratan. Inilah sebuah logika syetan yang kelihatannya masuk akal.</p>
<p>Di sinilah kita dituntut untuk mengambil sikap, sehingga akan diketahui antara orang mukmin yang kuat imannya dengan yang lemah imannya. Seorang mukmin yang sesungguhnya tidak akan terpengaruh dengan bujukan syetan. Mereka lebih percaya dengan janji Allah daripada mengikuti bisikan syetan atau ajakan hawa nafsunya. Mereka sadar sepenuhnya bahwa apa saja yang dia miliki tidak lain adalah karunia dari Allah <em>subhanahu wata’ala</em>. Jika mereka mampu melakukan usaha yang banyak menghasilkan uang, atau dengan kepandaiannya bisa meraih berbagai prestasi dan kenikmatan hidup, maka ia sadar bahwa yang telah memberikan kemampuan tersebut adalah Allah, bahkan Allah-lah yang telah memberikan kehidupan kepadanya. Maka dia tidak akan segan-segan memberikan yang terbaik untuk Allah <em>subhanahu wata’ala</em> Dzat yang Maha Baik, dengan cara berinfak.</p>
<p>Apalagi jika kita menyadari bahwa dengan memberikan yang baik, maka Allah akan memberikan ampunan dan karunia-Nya. Maka cukuplah janji Allah ini menjadi pendorong bagi setiap muslim untuk memberikan yang terbaik kepada orang lain. Sebab memberikan barang yang sudah tidak berguna kepada orang lain, sama halnya dengan membuang sampah dengan mengatasnamakan kebaikan (infak), sebuah tindakan yang Allah <em>subhanahu wata’ala</em> tentu Maha mengetahuinya.</p>
<p><em>Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.</em> (Surat Al-Baqarah: 268)</p>
<p><em>Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal.</em> (Surat Al-Baqarah: 269)</p>
<p><em>Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang p</em></span><span style="font-family:verdana;"><em>enolong pun baginya.</em> (Surat Al-Baqarah: 270) [Khalif Muttaqin] </span></p>
<p>alsofwah.or.id</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ICG Anggap MUI Berbahaya]]></title>
<link>http://rotigedang.wordpress.com/?p=73</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 07:09:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>rotigedang</dc:creator>
<guid>http://rotigedang.wordpress.com/?p=73</guid>
<description><![CDATA[Dalam laporan terbaru International Crisis Group (ICG) yang baru saja diluncurkan mengatakan amat be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam laporan terbaru International Crisis Group (ICG) yang baru saja diluncurkan mengatakan amat berbahaya keberadaan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Lembaga yang berkantor di Brussel ini "menuduh“ MUI disalahgunakan kelompok garis keras. ICG juga setengah memprovokasi mengadu antara Presiden SBY dengan MUI.</p>
<p>"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak tahun 2005 justru mengajak MUI untuk turut terlibat dalam pembuatan kebijakan-kebijakan pemerintahannya. Ini menjadi sangat berbahaya karena MUI dikuasai kalangan garis keras. Dan pemerintah, maaf, tidak cukup berani menghadapi mereka, dan tidak cukup berani untuk menegakkan nilai-nilai, demokrasi dan toleransi yang selama ini dianut bangsa Indonesia. Ini sangat mencemaskan masa depan Indonesia," demikian ungkap John Virgoe, Direktur program ICG untuk urusan Asia Tenggara dalam laporan terbarunya.</p>
<p>Dalam laporan itu, ICG menganggapkeluarnya SKB Tiga Menteri tentang Ahmadiyah akan disalahgunakan kaum garis keras.<!--more--></p>
<p>”Penanganan masalah Ahmadiyah menunjukan bahwa kaum garis keras Indonesia telah mencapai keberhasilan besar dalam melakukan lobi, menebarkan pengaruh besar dan lamgsung terhadap pembuatan kebijakan-kebijakan negara,” tulisnya dikutip Radio Jerman.</p>
<p>ICG mencemaskan, SKB itu disalahgunakan kaum garis keras sebagai dasar melakukan kekerasan terhadap Ahmadiyah. Meski sejak keluarnya SKB, sampai hari ini hanya beberapa kasus kecil saja skala kekerasan terjadi pada Ahmadiyah.</p>
<p>Yang agak menarik, ICG menuduh, di MUI dipenuhi kelompok kecil yang ia sebut sebagai radikal. Lebih keliru lagi ketika ia menyebut hanya sebagian kecil yang tidak menyetujui Ahmadiyah, dengan mengabaikan sikap berbagai ormas Islam termasuk Muhammadiyah dan NU soal Ahmadiyah.<br />
”Yang lebih unik, menurut ICG, sebetulnya dukungan politik masyarakat terhadap kelompok-kelompok garis keras itu sebetulnya kecil. Yang membuat mereka tampak besar hanyalah karena bereka bersuara lantang. Masalahnya, keleluasaan yang mereka peroleh, dan akses lobi langsung terhadap pemerintah membuka jalan bagi mereka untuk meluaskan pengaruhnya di kalangan masyarakat luas.”</p>
<p>Belum lama ini, Kedubes Amerika ikut campur dalam insiden Monas. Pihak Kongres Indonesia menekan kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir. Kini giliran ICG ikut mengurusi Ahmadiyah di Indonesia.</p>
<p>(rmd/hdytllh)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Siapakah Mirza Ghulam Ahmad ? : Permulaan Ketenaran Dan Dakwahnya]]></title>
<link>http://maslilik.wordpress.com/?p=110</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 00:48:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahmad Abu Yusuf</dc:creator>
<guid>http://maslilik.wordpress.com/?p=110</guid>
<description><![CDATA[SIAPAKAH MIRZA GHULAM AHMAD?-1/2-
Oleh
Muhammad Ashim
Beberapa waktu lalu, marak pemberitaan di medi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>SIAPAKAH MIRZA GHULAM AHMAD?-1/2-</p>
<p>Oleh<br />
Muhammad Ashim</p>
<p>Beberapa waktu lalu, marak pemberitaan di media massa tentang Jemaat Ahmadiyah. Berbagai polemik muncul. Banyak media memberikan pembelaan terhadap Jemaat Ahmadiyah yang berpusat di London ini, meski ia lahir di India. Berbagai kalangan yang menisbatkan diri sebagai cendekiawan muslim, ikut menyuarakan argumen pembelaan. Jaringan Islam Liberal (JIL), yang di motori Ulil Abshar Abdalla, begandeng tangan dengan sejumlah aktivis HAM dan sejumlah tokoh gereja, bahkan bermaksud mengajukan gugatan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) atas fatwa MUI yang menyatakan Jemaat Ahmadiyah Qadiyan sesat dan agar segera dibekukan. Dan fatwa ini ternyata bukan yang pertama bergulir. Sebelumnya sudah ada fatwa dengan substansi yang sama.</p>
<p>Pembelaan yang muncul, semua mengatas namakan HAM dan kebebasan beragama. Santernya sikap pro ini, sempat memojokkan MUI, yang katanya bukan sebagai otoritas yang berhak menghakimi kebenaran beragama. Sementara itu, nayris tidak satupun media massa yang melakukan balance dalam pemberitaan tersebut. Sungguh ironi.</p>
<p>Tulisan berikut, bukan bermaksud mengupas mengenai Jemaat Ahmadiyah yang tengah diperbincangkan tersebut. Banyak yang sudah membahas. Berikut kami sajikan sisi lain. Yaitu mengenal sosok pencetus Jemaat Ahmadiyah ini. Tidak lain, dia adalah Mirza Ghulam Ahmad. Siapakah dia sebenarnya? Apakah anda mengenalnya?<!--more--></p>
<p>Tulisan ini kami angat dari Al-Qadiayaniah Dirasat Wa Tahlil, karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, Idaratu Turjumani As-Sunnah, Lahore, Pakistan, tanpa tahun. Meski hanya satu refensi yang kami jadikan pegangan, namun buku yang dikarang oleh Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir ini merupakan buku yang istimewa. Beliau, yang berkebangsaan Pakistan, sangat menguasai dan memahami permasalahan tentang Ahmadiyah sebagaimana tertulis dengan bahasa aslinya, yaitu bahasa Urdu. Rujukan beliau banyak bertumpu pada karya-karya asli Jemaat Ahmadiyah, baik yang dikarang Mirza Ghulam Ahmad atau para penerusnya.</p>
<p>KELUARGA GHULAM AHMAD<br />
Dia menceritakan, namaku Ghulam Ahmad. Ayahku Atha Murthada. Bangsaku Mongol. (Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, karya Ghulam Ahmad). Namun dalam kesempatan lain, ia mengatakan, keluargaku dari Mongol… tapi berdasarkan firman Allah, tampaknya keluargaku berasal dari Persia, dan aku yakin ini. Sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui seluk-beluk keluargaku seperti pemberitaan yang datang dari Allah Ta’ala (Hasyiah Al-Arbain, no. 2 hal. 17, karya Ghulam Ahmad). Dia juga pernah berkata : “Aku membaca beberapa tulisan ayah dan kakek-kakekku, kalau mereka berasal dari suku Mongol, tetapi Allah mewahyukan kepadaku, bahwa keluargaku dari bangsa Persia” (Dhamimah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 77, karya Ghulam Ahmad). Yang mengherankan, ia juga pernah mengaku sebagai keturunan Fathimah binti Muhammad [Tuhfah Kolart, hal. 29]</p>
<p>Begitulah, banyak versi tentang asal-usul Mirza Ghulam Ahmad yang berasal dari pengakuannya sendiri. Maha Benar Allah dengan firman-Nya.</p>
<p>“Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menjumpai pertentangan yang banyak di dalamnya” [An-Nisa : 82]</p>
<p>Setelah itu, ia menceritakan tentang ayahnya : “Ayahku mempunyai kedudukan di kantor pemerintahan. Dia termasuk orang yang dipercaya pemerintah Inggris. Dia pernah membantu pemerintah untuk memberontak penjajah Inggris dengan memberikan bantuan pasukan dan kuda. Namun sesudah itu, keluargaku mengalami krisis dan kemunduran, sehingga menjadi petani yang melarat” [1] [Tuhfah Qaishariyah, hal. 16, karya Ghulam Ahmad]</p>
<p>Dari keluarga yang tidak jelas garis keturunan lagi melarat, Ghulam dilahirkan. Dia berkisah ; “Aku dilahirkan pada tahun 1839M atau tahun 1840M di akhir masa Sikh di Punjab’ [Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, karya Ghulam Ahmad]</p>
<p>MASA KECIL GHULAM AHMAD DAN PENDIDIKANNYA<br />
Tatkala mencapai usia tamyiz, ia mulai belajar sharaf, nahwu dan beberapa kitab berbahasa Arab, bahasa Persia dan ilmu pengobatan.</p>
<p>Dia berkata : “Aku belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab berbahasa Persia dengan ustadz Fadhl Ilahi. Sedangkan sharaf dan nahwu serta ilmu pengobatan, aku pelajari dari ustadz Fadhl Ahmad’. Hanya saja, sesuai dengan keterangan Mahmud Ahmad, salah seorang anaknya di Koran Al-Fadhl (5 Februari 1929), milik kelompok mereka, sebagian guru yang mengajar Ghulam Ahmad adalah pecandu opium dan ganja.</p>
<p>Selain itu, ia juga sempat mengenyam pembelajaran bahasa Inggris di sebuah madrasah khusus untuk pegawai pemerintah. Satu atau dua buku bahasa Inggris saja yang ia pelajari.</p>
<p>Pendidikan masa kecil yang dijalani Mirza Ghulam Ahmad dengan model ini (baca : yang sangat dangkal) menampakkan pengaruhnya dalam tulisan dan ucapan-ucapannya. Kesalahan-kesalahannya tidak hanya terjadi pada masalah-masalah yang pelik, tetapi juga terlihat pada perkara-perkara yang sederhana. Misalnya, ia pernah berkata : “Sesungguhnya saat Rasulullah dilahirkan, beberapa hari kemudian ayahnya meninggal” (Baigham Shulh, hal. 19, karya Ghulam Ahmad). Padahal ayah beliau meninggal dunia ketika beliau masih di dalam kandungan ibunya.</p>
<p>Contoh kekeliruan lainnya dalam kitabnya, Ainul Ma’rifah, hal. 286, Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan, bahwa Rasulullah mempunyai sebelas anak dan semuanya meninggal. Padahal yang benar berjumlah enam orang.</p>
<p>Pada waktu itu, keberanian merupakan ciri khas orang-orang yang mulia (bangsawan). Tetapi orang yang mengaku sebagai “Al-Masih” ini tidak pernah masuk dalam peperangan, tidak belajar ilmu-ilmu keperwiraan, yang dahulu dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah kemuliaan dan sikap kesatria.</p>
<p>PENYAKIT-PENYAKIT YANG DIDERITANYA<br />
Berbicara tentang penderitaan fisik (baca : penyakit) yang dialaminya sangat banyak. Tangan kanannya patah sehingga untuk mengangkat sebuah teko pun tidak mampu. (Sirah Al-Mahdi, 1/198). Dia pernah menderita penyakit TBC dan diobati selama kurang lebih enam bulan (Hayatu Ahmad, 1/79). Dia juga pernah mengakui ditimpa dua penyakit. Di bagian atas tubuh, yaitu kepala yang sering pusing dan dibagian bawah, yaitu kencing yang berlebihan. (Haqiqatul Wahyi, hal. 206, karya Ghulam Ahmad). Pusing kepalanya ini sering mengganggunya. Kadang menyebabkannya terjatuh sehingga pingsan. Oleh karena itu, ia sering tidak berpuasa pada bulan Ramadhan yang ia jumpai. [Sirah Al-Mahdi, 1/51 karya anaknya]</p>
<p>Dia juga mengalami gangguan syaraf, ingatan buruk tidak tergambarkan. Dua matanya sangat lemah. Anaknya menceritakan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad pernah ingin berphoto bersam murid-muridnya. Pemotret memintanya untuk membuka matanya sedikit saja, agar gambar menjadi baik. Dia pun berusaha dengan susah payah, tetapi gagal.[Sirah Al-Mahdi, 2/77]</p>
<p>Sebagaimana pengakuannya sendiri di dalam harian Al-Hakam, 31 Oktober 1901M, otaknya juga mengalami kelemahan.</p>
<p>PERMULAAN KETENARAN DAN DAKWAHNYA<br />
Permulaan ketenarannya dimulai dengan seolah-olah membela Islam. Setelah ia meninggalkan pekerjaan kantornya, ia mulai mempelajari buku-buku India Nasrani, sebab pertentangan dan perdebatan pemikiran begitu santer terjadi antara kaum Muslimin, para pemuka Nasrani dan Hindu. Kebanyakan kaum Muslimin sangat menghormati orang-orang yang menjadi wakil Islam dalam perdebatan tersebut. Segala fasilitas duniawi pun diberikan kepadanya. Ghulam Ahmad berfikir, bahwa pekerjaan itu sangat sederhana dan mudah, mampu mendatangkan materi lebih banyak dari pendapatannya saat bekerja di kantor.</p>
<p>Untuk mewujudkan gagasan yang terlintas dalam benaknya, maka pertama kali yang ia lakukan ialah menyebarkan sebuah pengumuman yang menentang agama Hindu. Berikutnya, ia menulis beberapa artikel di beberapa media massa untuk mematahkan agama Hindu dan Nasrani. Kaum Muslimin pun akhirnya memberikan perhatian kepadanya. Itu terjadi pada tahun 1877-1878M.</p>
<p>Pada gilirannya, ia mengumumkan telah memulai proyek penulisan buku sebanyak lima puluh jilid, berisi bantahan terhadap lontaran-lontaran syubhat yang dilontarkan oleh kaum kuffar terhadap Islam. Oleh karena itu, ia mengharapkan kaum Muslimin mendukung proyek ini secara material. Sebagian besar kaum Muslimin pun tertipu dengan pernyataannya yang palsu, bahwa ia akan mencetak kitab yang berjumlah lima puluh jilid.</p>
<p>Sejak itu pula, ia menceritakan beberapa karomah (hal-hal luar biasa) dan kusyufat tipuan yang ia alami. Sehingga orang-orang awam menilainya sebagai wali Allah, tidak hanya sebagai orang yang berilmu saja. Orang-orang pun bersegera mengirimkan uang-uang mereka yang begitu besar kepadanya guna mencetak kitab yang dimaksud. [Majmu’ah I’lanat Ghulam Al-Qadiyani, 1/25]</p>
<p>Volume pertama buku yang ia janjikan terbit tahun 1880M, dengan judul Barahin Ahmadiyah. Buku ini sarat dengan propaganda dan penonjolan karakter penulisnya. Cerita tentang alam ghaib yang berhasil ia ketahui, juga berisi karomah dan kusyufatnya.</p>
<p>Kitab-kitab volume berikutnya pun bermunculan. Namun, tatkala sampai kepada masyarakat, mereka keheranan, karena mendapat isi buku tersebut tidak seperti yang dikatakan penulis pertama kali, yaitu bantahan terhadap agama Hindu dan Nasrani, tetapi justru dipenuhi dengan cerita-cerita tentang karamah dan sanjungan terhadap kolonialis Iggris.</p>
<p>Dari sini, masyarakat kemudian mengetahui, ternyata lelaki ini hanyalah seorang pendusta dan pencuri harta manusia. Buku yang telah diterbitkan hanya untuk mendapatkan popularitas dan memanfaatkan kaum Muslimin, menguras harta mereka, bukan untuk membela Islam. Apalagi setelah kaum Muslimin menemukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dalam buku yang ia terbitkan tersebut.</p>
<p>Banyak para ulama yang mendapat informasi, bahwa lelaki itu, sebenarnya tidak mempunyai keinginan, kecuali untuk membuat sebuah toko semata. Andai ada orang lain yang mampu membayarnya dengan jumlah yang lebih besar, maka ia akan mendukungnya, meskipun dengan melakukan pelanggaran terhadap Islam. Dan memang seperti itulah yang dikatakan oleh para ulama. Sebab, pada waktu itu, penjajah Inggris membutuhkan orang yang dapat memporak-porandakan kekuatan kaum Muslimin. Sehingga sang penjajah ini mencari orang dari kalangan kaum Muslimin untuk diperalat. Tatkala sudah mendapatkannya, kolonial ini akan memanfaatkan semaksimal mungkin. Demikian yang terjadi dengan Mirza Ghulam Ahmad. Oleh karena itu, ia penuhi kitab volume ketiganya dengan pujian-pujian kepada kolonialis Inggris.</p>
<p>Perhatikan pengakuannya dalam volume tersebut, tatkala ia menghadapi penentangan dari kaum Muslimin</p>
<p>Dia menyatakan, ada sebagian orang dari kalangan kaum Muslimin yang menulis kepadaku, mengapa engkau memuji penjajah Inggris dalam volume ketiga? Mengapa engkau berterima kasih kepada pemerintah Inggris? Sebagian kaum muslimin mencaci-maki dan mecelaku karena sanjungan ini. Hendaknya setiap orang mengetahui, bahwa aku tidak memuji pemerintah Inggris, kecuali berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. [Barahin Ahmadiyah, vol.4]</p>
<p>Ringkasnya, penjajah telah memanfaatkannya dengan memberikan segala yang berharga untuknya karena pengkhianatannya kepada agama dan umat Islam. Persis seperti ayahnya yang dahulu juga berkhianat, tetapi kepada negeri India dan penduduknya.</p>
<p>Pada tahun 1885M, ia memproklamirkan diri sebagai mujaddid dengan mendapat bantuan dan dukungan penuh dari penjajah. Enam tahun berikutnya, tahun 1891M, ia mengklaim diri sebagai Imam Mahdi. Pada tahun itu juga, ia mengaku sebagai Al-Masih. Dan klimaksnya pada tahun 1901M, ia mendeklarasikan statusnya sebagai nabi yang mandiri, dan lebih mulia dari seluruh pada nabi dan rasul.</p>
<p>Sebagian ulama dapat mendeteksi keinginannya sebelum ia mengaku sebagai nabi (palsu). Tetapi dengan segera ia mencoba menepisnya dengan berkata : “Aku juga beraqidah Ahlus Sunnah. Aku berkeyakinan Muhammad adalah penutup para nabi. Barangsiapa mengaku sebagai nabi, maka ia kafir, pendusta. Karena aku beriman bahwa risalah itu bermula dari Adam dan berakhir dengan kedatangan Rasulullah Muhammad” [Pernyataan Ghulam Ahmad pada 12 Oktober 1891 yang terdapat dalam kitab Tabligh Risalah, 2/2]</p>
<p>Kemudian dengan bisikan dari penjajah ia mengatakan untuk mengecoh : “Aku bukan nabi, tetapi Allah menjadikannku orang yang diajak bicara (kalim), untuk memperbaharui agama Al-Musthafa (Muhammad)” [Mir-atu Kamalati Al-Islam, hal. 383]</p>
<p>Keterangan lain darinya ; “Aku bukan nabi yang menyerupai Muhamamd atau datang dengan ajaran yang baru. Justru yang ada dalam risalahku, aku adalah nabi yang mengikutinya (nabiyyun muttabi)” [Tatimmah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 68, karya Ghulam Ahmad]</p>
<p>Dia juga mengatakan ;” Demi Allah yang ruh-ku berada di genggaman-Nya, Dialah yang mengutusku dan menyebutku sebagai nabi…. Aku akan memperlihatkan kebenaran pengakuanku dengan mukjizat-mukjizat yang jumlahnya tidak kurang dari tiga ratus ribu mukjizat” [Tatimmah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 68, karya Ghulam Ahmad]</p>
<p>Coba perhatikan pernyataan-pernyataannya. Dia betul-betul berusaha mengecoh kaum Muslimin. Padahal sebelumnya, ia mengatakan :”Siapa saja yang mengklaim diri sebagai nabi setelah Muhammad, berarti ia saudara Musailamah Al-Kadzdzab, kafir lagi busuk” (Anjam Atsim, hal. 28, karya Ghulam Ahmad). Dia juga mengatakan : “Kami melaknat orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah Muhammad” [Tabligh Risalah, 26/2]</p>
<p>Perlu juga disebutkan, kitab yang ia janjikan berjumlah lima puluh jilid, tidak ia selesaikan kecuali lima jilid saja. Sehingga ketika ditanya oleh para donatur, ia menjawab : “Tidak ada bedanya antara angka lima dan lima puluh, kecuali pada nolnya saja” [Muqaddimah Barahin Ahmadiyah, 5/7, karya Ghulam Ahmad]</p>
<p>[Sumber Al-Qadiayaniyah Dirasat Wa Tahtil, karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, Idarati Turjuman As-Sunnah, Lahore Pakistan, tanpa tahun]</p>
<p>[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton – Gondangrejo Solo, 57183]<br />
__________<br />
Foote Note<br />
[1]. Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, penulis kitab Al-Qdiayaniyah, Dirasat Wa Tahtil mengatakan, hal itu kemungkinan lantaran pengkhianatannya kepada penduduk pribumi dan kerjasamanya dengan kekuatan kolonialis yang aniaya lagi kafir. (hal. 103)</p>
<p>sumber : almanhaj.or.id</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ok Messenger of Allah صلى الله عليه و سلم I will go I will go!]]></title>
<link>http://siraajunmuneer.wordpress.com/?p=230</link>
<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 08:31:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>siraajunmuneer</dc:creator>
<guid>http://siraajunmuneer.wordpress.com/?p=230</guid>
<description><![CDATA[
 بسم الله الرحمان الرحيم 
الحمد الله

 
Anas رضي الله عنه na]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:18pt;font-family:Andalus;"> بسم الله الرحمان الرحيم</span><span style="font-size:18pt;font-family:Andalus;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:18pt;font-family:Andalus;">الحمد الله</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Andalus;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Andalus;">Anas <span dir="rtl" lang="AR-SA">رضي الله عنه</span> narrates that once Prophet <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلى الله عليه وسلم</span> once me for an errand but for some reason I said, “I wont ago!” So Prophet <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلى الله عليه وسلم</span> replied, “No, you must go!” Then I said, “Ok, I will go. “ The I went out, on the way I found some children playing so I started playing with them. Suddenly, I felt someone pulling (slightly) my hair from behind so I turned around and saw that it was Prophet <span dir="rtl" lang="AR-SA">صلى الله عليه وسلم</span> who was smiling He then said, “O’ Anas haven’t you gone yet?” I then said, “Ok Messenger of Allah, I will go I will go!”</span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:Andalus;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[My Community Will Divide into 73 Sects]]></title>
<link>http://mustaqeem.wordpress.com/?p=122</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 19:54:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>coolguymuslim</dc:creator>
<guid>http://mustaqeem.wordpress.com/?p=122</guid>
<description><![CDATA[By Shaykh Salman al-Oadah
The Prophet (peace be upon him) said: “My community will experience ever]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>By Shaykh Salman al-Oadah</em></p>
<blockquote><p>The Prophet (peace be upon him) said: “My community will experience everything that the Children of Israel had experienced, following in their footsteps exactly, so much so that if one of their number had approached his mother publicly for sex, one of my community will do the same. The Children of Israel divided into 72 sects. My community will divide into 73 sects, and all of them will be in the Hellfire save one.”</p>
<p>The people asked him: “And which one will that be</p>
<p>He replied: “The one that follows what I and my Companions are upon right now.”</p></blockquote>
<p>This hadîth is quite famous and it is mentioned all of the time. In fact, scarcely does anyone speak on the topic of disagreement without mentioning it. This hadîth is often mentioned inappropriately and to audiences who cannot fully appreciate its implications. Therefore, I wish to discuss this hadîth and elucidate more clearly what it is telling us.</p>
<p>This hadîth is not recorded in either Sahîh al-Bukhârî or Sahîh Muslim. This by no means implies that the hadîth is unauthentic. However, it is possible that they did not mention it because it was not up to their arduous standards of authenticity.</p>
<p>The hadîth can be found in the four Sunan works and in Musnad Ahmad with different chains of transmission. Some scholars declared it to be authentic or at least good, including al-Tirmidhî, al-Hâkim, al-Dhahabî, Ibn Taymiyah, al-Shâtibî, and Ibn Hajar al-`Asqalânî. Others declared it as weak, including ibn Hazm and Ibn al-Wazîr.</p>
<p>The most correct opinion is that it is authentic; taking into consideration the large number of ways it has reached us, with some chains of transmission strengthening the deficiencies of others. Nevertheless, we should not behave as if it is the only hadîth in the world that addresses the issue of difference among Muslims.</p>
<p>We have the hadîth where the Prophet (peace be upon him) said: “This community of mine is a community blessed with mercy. It is not punished in the Hereafter. Instead, it is punished in this world with strife, instability, and bloodshed.” [Musnad Ahmad, Sunan Abî Dâwûd, and Mustadrak al-Hâkim] It is an authentic hadîth. It indicates that Allah has shown mercy on the Islamic community and that its punishment will be in this world instead of the Hereafter.</p>
<p>The Muslim community is the community most highly esteemed by Allah. The Qur’ân and Sunnah both state this fact in the most unambiguous terms. It is better than the communities that followed the previous scriptures were in their own era, namely the Jews and the Christians. This is why Allah says: “You are the best community brought forth for humanity.” [Sûrah Âl-`Imrân: 110]</p>
<p>This is also why He says: “And likewise we made you a balanced nation.” [Sûrah al-Baqarah: 143]</p>
<p>The Prophet (peace be upon him) on so many occasions emphasized the fact that the Muslim community is the best community of faith on Earth. Therefore, no one should ever infer from the hadîth about the 73 sects that the previous communities of faith were less divided amongst themselves and therefore were somehow better or less afflicted.</p>
<p>Ibn Mas`ûd relates that he was with some people when the Prophet (peace be upon him) asked them: “Would you like to be one quarter of the population of Paradise?” When they replied that they would indeed like that, the Prophet (peace be upon him) asked them: “Would you like to be one third of the population of Paradise?” When they replied that they would indeed like that, the Prophet (peace be upon him) asked them: “Would you like to be one half of the population of Paradise?” When they replied that they would indeed like that, the Prophet (peace be upon him) said: “I swear by Him in whose hand is Muhammad’s soul. Indeed, I hope that you will be half the population of Paradise. This is because none shall enter Paradise except a soul that has surrendered to Allah, and you are to the polytheists like a single white hair on the hide of a black bull or a single black hair on the hide of a red bull.” [Sahîh al-Bukhârî and Sahîh Muslim]</p>
<p>In this hadîth, the Prophet (peace be upon him) made it clear that half of the denizens of paradise will be from among his followers.</p>
<p>Allah has forgiven this community what it falls into by mistake or out of forgetfulness. We are instructed by the Qur’ân to offer the following supplication: “Our Lord, do not impose blame on us if we forget or err.” [Sûrah al-Baqarah: 286]</p>
<p>The Prophet (peace be upon him) said: ‘Allah has pardoned my community what it commits by mistake, out of forgetfulness, or out of compulsion.” This is an indisputable principle of Islamic jurisprudence recognized by all scholars and jurists.</p>
<p>Moreover, Allah has spared this community from the burdens and impositions that the previous religious communities had upon them. Allah says: “He releases them from their heavy burdens and from the yokes that are upon them.” [Sûrah al-A`râf: 157]</p>
<p>Returning to the hadîth about the 73 sects, the fact that the Muslims will divide into a larger number of sects has puzzled some scholars throughout the ages. However, there are a number of possible answers to this puzzle.</p>
<p>First of all, the Muslim era is the longest era for any religious community.</p>
<p>Secondly, the divisions within the Muslim community are by far less serious that the divisions suffered by those who have gone before. The deficiencies brought about by the divisions among Muslims are more than counterbalanced by the good and the favor that the Muslims possess. Moreover, the existence of a sect does not require that the sect has many followers. One person following his own ideas can constitute a sect. Therefore, it is quite possible for there to be 72 other sects that collectively constitute a small percentage of the entire Muslim community.</p>
<p>The real problem exists with those who fancy themselves as the “saved sect” to the exclusion of all others, declaring everyone else to be astray and damning them. The Prophet (peace be upon him) said: “If a man says that the people are damned, then he is the damnedest of them all.”</p>
<p>We must bear in mind that the Prophet (peace eb upon him) described those other 72 sects as Muslims. He said: “My community will divide into 73 sects.” This means that the followers of those sects are neither unbelievers nor polytheists. They are, in general, Muslims and believers. This does not mean that there cannot be a few hypocrites and unbelievers among them. However, the overwhelming majority of them believe, in spite of their deviance and their shortcomings. This is the way that most of the scholars have understood the hadîth of the 73 sects, including Ibn Taymiyah and al-Shâtibî.</p>
<p>The threat of the Hellfire mentioned in the hadîth does not mean that the threat is going to be carried out against everyone. Ibn Taymiyah makes the following observation:</p>
<blockquote><p>This hadîth is no graver in its threat than the verse: “Verily, those who consume the orphans’ property unjustly merely take fire into their bellies and they shall be scorched by a blazing flame.” [Sûrah al-Nisâ’:10]</p>
<p>It is no graver than the verse: “Whoever does this maliciously and wrongly We shall scorch in the Fire.” [Sûrah al-Nisâ’: 30]</p>
<p>In spite of these verses, we do not bear witness that specific people are going to Hell, since people may repent for their sins or they may have other good deeds to their credit that blot out their sins. Allah may expiate them for their wrongs by afflicting them with hardships or by other means.</p></blockquote>
<p>It was not the practice of our pious predecessors to concern themselves with identifying these sects. Al-Shâtibî makes this point clear in his book al-Muwâfaqât. Ibn Taymiyah also states this in a number of his works. He says:</p>
<blockquote><p>Anyone from one of the 72 other sects who is a hypocrite is indeed an unbeliever in his heart. Anyone from among them who is not a hypocrite but who in fact believes in Allah and His Messenger is not an unbeliever, regardless of whatever mistakes in interpretation they may have. When a believer says: “Our Lord, forgive us and our brothers who have preceded us in faith” [from Sûrah al-Hashr: 10], he means all the Muslims of the past centuries, even those who made mistakes in interpretation, acted contrary to the Sunnah, or committed some sins. They are still from his brothers who preceded him in faith and they all come under the generality of his supplication, even if they had belonged to one of the 72 other sects. Each one of these sects contains within its ranks a large number of people who are not unbelievers. They are believers who have gone somewhat astray and have sinned, making them worthy of the threat of punishment.</p></blockquote>
<p>This hadîth should be seen in the proper perspective. Though we might view it as authentic, we should not extend its meaning beyond what it actually says. We should not allow this hadîth to be used to aggravate divisions between Muslims and stir up arguments among believers.</p>
<p>Source: www.islamtoday.com</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[3 AMALAN YANG BERKAT]]></title>
<link>http://syafii.wordpress.com/?p=215</link>
<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 01:12:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>syafii</dc:creator>
<guid>http://syafii.wordpress.com/?p=215</guid>
<description><![CDATA[Dari Ibnu Mas¢ud r.a bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a..w, :&#8221;Manakah amal y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Ibnu Mas¢ud r.a bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a..w, :"Manakah amal yang lebih utama?" Beliau menjawab,:"Sembahyang dalam waktunya, berbakti kepada <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">ibu bapa</span> dan berjuang di jalan Allah."<br />
(Bukhari)</p>
<p>Di dalam al-Quran dinyatakan bahawa setiap amal perbuatan atau amal ibadah walau sekecil zarah sekalipun pasti dibalas dengan pahala oleh Allah S.W.T. Bayangkan, jika kita melakukan amal perbuatan atau amal ibadah yang paling utama tentulah jumlah pahalanya luar biasa banyaknya.<br />
Maka beruntunglah orang yang dapat melakukan amalan-amalan seperti yang disebutkan di dalam hadith di atas yang sememangnya sungguh besar ganjarannya. Hal ini disebabkan setiap sesuatu kebaikan itu sesungguhnya amat susah untuk dilakukan lantaran terlalu banyak godaan dan halangan khususnya daripada syaitan laknatullah. Berbeza pula halnya dengan kejahatan yang senang sahaja berlaku kerana ini tidak dihalang bahkan dibantu khusus oleh syaitan.<br />
Oleh yang demikian, sebagai benteng yang kukuh, manusia mestilah mempunyai keimanan yang teguh bagi melawan hasutan syaitan tersebut kerana kebiasaannya orang yang selalu tewas dan malas dalam melakukan kebajikan adalah orang yang meremehkan pembalasan daripada Allah S.W.T sama ada ia merupakan pembalasan baik atau pembalasan buruk(neraka).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kondisi Indonesia Hari Ini]]></title>
<link>http://hairudin.wordpress.com/?p=7</link>
<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 18:13:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>hairudin</dc:creator>
<guid>http://hairudin.wordpress.com/?p=7</guid>
<description><![CDATA[Dalam sejarah peradaban bangsa, Indonesia pernah menjadi sebuah negara yang besar. pernah menguasai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:7.5pt;color:#000000;font-family:Verdana;">Dalam sejarah peradaban bangsa, Indonesia pernah menjadi sebuah negara yang besar. pernah menguasai hampir  seluruh asia tenggara dan selatan China dengan kerajaan Sri Wijaya dan Mojopahitnya. Dari awal kemerdekaan hingga  tahun2 awal sebelum kerisis moneter 1998 M kita juga pernah menjadi sebuah negara yang sangat disegani diantara negara2 serumpun dan tetangga sekitar begitu juga di percaturan dunia International. </span></p>
<p><span style="font-size:7.5pt;color:#000000;font-family:Verdana;">Dengan modal luas wilayah, banyaknya pulau2 yang terdiri dari lautan berikut sumber daya alam yang terkandung di dalamnya berpotensi untuk bisa memakmurkan rakyatnya. Aneka tambang dengan Cadangan Minyak dan Gas di terbesar dunia di laut Natuna dan berbagai daerah lainnya, dengan gunung emas yang ada di Irian Jaya, Batu bara di Kalimantan dan Sumatra dan hasil laut dengan berbagai macamnya adalah suatu anugrah yang sangat besar dari Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Namun sayang-disayangkan semua itu telah di rampas oleh segelintir orang-orang kapitalis yang hanya mementingkan diri sendiri, Keluarga dan Kelompoknya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Kemeralatan dan kemiskinan terus menjadi topic pagi di Berita Nasional kita. Kerendahan moral rakyat -penguasa dan lebih parah lagi di acara-acara siaran TV yang tidak sama sekali mendidik rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Acara-acara TV nasional kita benar-benar sudah mencapai titik terendah NOL tidak ada nilai-nilai luhur tertanam di dalamnya.  Acara siraman ruhani bagi rakyat yang biasa nya jam 5 pagi sudah menghilang bergeser ke jam 4 pagi..(siapa yang akan menonton? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Padahal siraman ruhani bagi rakyat ini sangat di perlukan untuk meredam gejolak hati, mengisi kekosongan dan kegersangan jiwa, mendinginkan suasana dengan sentuhan-sentuhan Sabda Rasul dan kalam illahi. Namun di sayangkan semua itu sudah bergeser kearah yang memang di kehendaki sang Penguasa Kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Salah seorang penulis buku terlaris Dunia </span><span style="font-size:7.5pt;color:#333333;font-family:Verdana;">Stephen R Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective Families (1999) bahwa kebanyakan keluarga akan mengalami kesulitan ketika harus memilah dan memilih siaran TV yang cocok, khususnya bagi keluarga yang memiliki anak-anak dan remaja. Memilih acara TV yang cocok, sama halnya dengan memilih salad yang bercampur-aduk dari tumpukan sampah. Mungkin ada sedikit salad yang enak di sana, tetapi cukup sulit memisahkan sampahnya, kotorannya dan lalat-lalatnya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Mari kita bangkit, kita matikan TV kita yang rendahan itu, Kita ganti dengan siaran yang lebih baik dan bermoral tinggi, VCD atau program yang lebih mendidik sehingga Anak-anak kita menjadi generasi  tangguh dalam memimpin bangsa ini kedepannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">INDONESIA MAYORITAS MUSLIM</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Seluruh dunia tahu Umat Islam terbesar di Dunia adalah Indonsia, Semua Negara Kapitalis berkeinginan menjajah negeri ini dengan cara-cara modern. Di mulai dari di beri nya kita modal Utang untuk membangun negeri yang nanti nya Modal itu di korupsi oleh pejabat Negara dan Oleh pihak asing sendiri.  Sampai kapan …kita begini terus..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Kemaksiatan di badan legislative dan Judikative negeri ini dan rakyatnya hampir sampai ke langit yang ke-7. Cuma ada satu cara yang akan meluruskannya. Mungkinkah Hukuman/Ujian Allah akan mampir ke Ibukota Jakarta Raya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Padahal Negri-negeri lain sudah di percontohkan seperti di Aceh- Tsunami nya, di Yogya-Gempa nya. Mari kita sama-sama menunggu kapan Allah Akan membinasakan Kita semua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Ketahuilah kehancuran moral ini bukan salah Umat Islam, bukan salah para Da’i. Semua ulama di kalangan Islam telah berusaha memberikan masukan-masukan ke Rakyat untuk menjadi Islam yang syamil yang kafah, Yang berakhlak mulia dan Agung. Lagi-lagi Media TV kita selalu menginformasikan Islam dengan citra Negatif nya. Dengan kebencian yang sampai puncaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Ya begitulah Indonesia kurang hebat, masih harus banyak belajar dari buku-buku bermutu literatur Islamy. Para Wartawan kita masih lemah dalam pemahaman Islam, Belajarlah temukanlah titik perbedaan nya dengan Agama lain..sialakan. Islam terbuka untuk di pelajari…carilah beberapa teman berdiskusi. Pelajari lah Islam dengan para Ulama yang ahli di bidangnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Ulama yang baik adalah shalat tepat waktu Dan ada sifat-sifat lain yang luhur yang harus sesuai dengan tututunan Nabi Muhammad saw. Baru lah kita belajar Islam dari sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Kami telah meminta pada para penguasa untuk menjalankan Syariat Islam dengan baik bagi pemeluk nya. Namun karena mereka takut akan kena hukuman maka usulan itu di tolak mentah-mentah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Jadi Jangan salahkan Ulama Islam, Uruslah Negara mu ini sendiri, karena kamu lah yang memberikan pelajaran-pelajaran perusak moral pada rakyat sedikit demi sedikit lewat TV.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Entah lah bagaimana cara nya untuk meluruskan pada orang-orang kapitalis penimbun harta Negara untuk diri nya sendiri dan Keluarga nya. </span><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Sedangkan rakyat yang lain pada bunuh diri karena kurang makan. Namun mereka tetap tuli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Umar bin Khatab r.a setelah menjabat menjadi Amirul Mukmin Berkata “ Jika Rakyat ku kenyang biarlah aku yang terakhir mendapat kekenyangannya itu dan Jika rakyat ku lapar biarlah aku yang pertama merasakan kelaparan  itu” dan itu di buktikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Umar bin Khatab r.a pernah juga berpidato di pertama kali nya ketika di lantik menjadi Khalifah ke-2 “ di antara anda semua yang hadir disini siapa yang akan meluruskan aku jika aku menyimpang”….di antara kerumunan orang-orang itu ada anak muda berbicara lantang “Aku yang akan meluruskan kamu wahai Amirul mukminin dengan Pedang ini… “jika kamu menyimpang” Umar tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah masih ada orang  yang akan mengoreksi jika menyimpang dari kebenaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Umar RA tidak marah dan tidak memenjarakan anak muda tersebut. Bagaimana dengan Indonseia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Coba Bagaimana dengan Indonesia? Presiden , Gubenur, Bupati, Camat, Lurah, Pak RT????</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Anda-anda semua sudah di pilih oleh rakyat, Ikuti kata hati yang paling dalam kalian, Insya Allah tidak akan pernah berdusta,  </span><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Jangan Korupsi …</span><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Jangan Kolusi, Jangan Nepotisme….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Jabatan adalah amanah, dan janji-janji harus ditepati. Seoarang yang meninggal tapi dianya dalam keadaan menghianati rakyatnya kata nabi jangankan masuk mencium baunya surga walaupun surga saja tidak dapat  walupun surga itu sudah tercium dari jarak yang sangat jauh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;">Ingat AZAB Allah akan dating pada ANDA dan kita semua. Kapan dan dimana saja…Menyesal kemudian tiada guna…</span></p>
<p>Salah seorang Hamba Allah yang daif</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Want a House in Paradise?]]></title>
<link>http://mustaqeem.wordpress.com/?p=120</link>
<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 15:53:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>coolguymuslim</dc:creator>
<guid>http://mustaqeem.wordpress.com/?p=120</guid>
<description><![CDATA[I have not done too many posts on hadith reflections (though I have done a couple, see: http://musta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>I have not done too many posts on hadith reflections (though I have done a couple, see: <a title="The Seven Under the Shade of Allah" href="http://mustaqeem.wordpress.com/2007/04/20/the-seven-under-the-shade-of-allah/" target="_blank">http://mustaqeem.wordpress.com/2007/04/20/the-seven-under-the-shade-of-allah/</a> and <a title="Are We the People This Hadith is Referring to?" href="http://mustaqeem.wordpress.com/2008/03/30/are-we-the-people-this-hadith-is-referring-to/" target="_blank">http://mustaqeem.wordpress.com/2008/03/30/are-we-the-people-this-hadith-is-referring-to/</a>), but I really have started to love the following hadith and I feel it is something that we need to incorporate into our everyday lives if we want to be successful.</p>
<p>Rasoolullah (SAW) said, <strong>"I guarantee a house in Jannah (Paradise) for one who gives up arguing, even if he is in the right; and I guarantee a house in the middle of Jannah for one who abandons lying even when joking / for the sake of fun; and I guarantee a house in the highest part of Jannah for one who has good manners."</strong> [narrated by Abu Dawud]</p>
<p>The breakdown:</p>
<ul>
<li><strong>for one who gives up arguing, even if he is in the right</strong></li>
</ul>
<p>So basically any house in paradise is amazing even if it is in the lowest parts of paradise for we know we will not be jealous of one another in paradise, insh'Allah. </p>
<p>Imam Shafii (rahimullah) stated, "I have never disputed anyone in order to overcome him, and whenever I dispute anyone, I love that the truth should become manifest at his hands."  Look at the wisdom of Imam Shafii, he would love to lose a debate as long as the truth prevailed!  Subhan'Allah, many of us become a part of some movement and we defend our stances even if we know we are wrong.  Are we to be given a house in paradise then? </p>
<p>Imam Shafii further stated, "I debated a scholar and beat him. Then I debated a layman and that layman beat me - he had no knowledge of the principles and texts. I had nothing to say." </p>
<p>Nowadays, knowledge is only with few as the one of the signs of the Day of Judgement is that knowledge will be lost.  Therefore, my brother or sister in Islam, avoid confrontation and debating.</p>
<ul>
<li><strong>for one who abandons lying even when joking / for the sake of fun</strong></li>
</ul>
<p>People love to joke and have fun.  However, Rasoolullah (SAW) stated <span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">“If you knew what I know, you would laugh little and weep much.”  Laughing and joking in Islam are, of course, permissible, but to an extent.  </span></p>
<p><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">Imaam al-Nawawi (rahimullah) said: “The kind of joking which is forbidden is that which is excessive and persistent, for it leads to too much laughter and hardening of the heart, it distracts from remembrance of Allaah, and it often leads to hurt feelings, generates hatred and causes people to lose respect and dignity. But whoever is safe from such dangers, then that which the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) used to do is permissible for him.”</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">Joking and laughter has its limits and one of those limits is that we do not lie when we joke.</span></p>
<ul>
<li><strong>for one who has good manners</strong></li>
</ul>
<p>Good manners were studied by the scholars of the past twice as long as knowledge was.  Indeed, one's manners can be the means by which one has a house in the highest part of paradise!  What is our relationship with our parents, with our friends, with ourselves, and most importantly, with ALLAH?</p>
<p>Subhana'Allah, many people exert poor manners when they are trying to prove something and their entire message is lost in their actions.  I want to give a small personal example that irritates me.  Many people put the mus'haf on the ground and though this may be something that is permissible (Allahu Alim), but we should not do it out of respect for kalaam Allah (the Speech of Allah - the Quran).  We should respect our hearts out with the Quran.  We should love the Quran and not let it sit on the ground when we are not reading it.  Furthermore, out of respect for the Quran, we should not have ayaats of it scribbled on our clothing or on some necklase that we wear, but we should recite it more than anything.  This gives the proper respect to the Quran.</p>
<p>Another example that can be used is how we enter the masjid.  There is no specific hadith that says enter the masjid with the right foot (as far I know), but we know of the hadith that says to enter the bathroom with the left foot.  From this hadith and out of respect for the place we worship Allah, we should enter the masjid with our right foot, if possible.  I know of a couple brothers who would enter the masjid specifically with the left foot to make a point.  This is not respect.  Respect is something we, as Muslims, need to work on.</p>
<p>The good in this article is from Allah and the bad is from me and the rejected shaytaan.</p>
<p>May Allah SWT guide us all to the truth.  Ameen.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HARAMNYA NYANYIAN DAN LAGU]]></title>
<link>http://anggasyahrian.wordpress.com/?p=77</link>
<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 13:58:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid>http://anggasyahrian.wordpress.com/?p=77</guid>
<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum warohmatullahi wabarokatuh
IBLIS Laknatullah telah mengetahui bahwa bahwa por]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">IBLIS Laknatullah telah mengetahui bahwa bahwa poros segala urusan adalah HATI,jika Hati itu sehat dan Istiqamah,maka Istoqamah pulalah seluruh anggota tubuh kepada Rabbnya,dan jika Hati itu bengkok, maka menyimpanglah anggota tubuh kepada jalan Kebinasaan. Maka HATI adalah Raja, sementara anggota badan adalah Bala Tentaranya, jika Sang Raja baik maka Bala Tentara pun menjadi baik, namum jika Raja buruk maka Bala Tentara akan menjadi buruk pula.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketahuilah, mudah-mudahan ALLAH SAW memberi rahmat-Nya kepadaku, keluargaku, teman-temanku, dan anda sekalian. Bahwa termasuk musibah yang merata, yang dengannya hati diuji dengan keras adalah rasa cinta terhadap nyanyian dan musik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">MENDENGARKAN NYANYIAN MENJADI LEBIH DINCINTAI MAYORITAS MANUSIA DARIPADA MENDEGARKAN AYAT-AYAT AL-QUR'AN. SEANDAINYA SALAH SEORANG DIANTARA MEREKA MENDENGARKAN AL-QUR'AN DARI AWAL SAMPAI AKHIR MAKA TIDAKLAH AL-QUR'AN ITU AKAN MENGUNDAH HATI MEREKA DENGAN TENANG,MALA SAMPAI DIBILANG KOLOT DAN KAMPUNGAN MENDENGARKAN AL-QUR'AN ITU. Nauzubillah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">TETAPI JIKA DIBACAKAN KEPADANYA NYANYIAN-NYANYIAN, SERTA ALUNAN MUSIK MAKA PENDENGARAN MEREKA TERKETUK DAN HATI MEREKA TERGETAR DAN BERGONCANG.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Maka Subhanallah, Maha Suci Allah dari orang yang teRfitnah ini, yang telah menyia-nyiakan bagian kebeneran yang telah Allah SAW berikan., dan rela dengan bagian kesesatan syetan itu.  Marilah kita bersama-sama memperhatikan jalan hidayah dan petunjuk yang berada di dalam Al-Qur'an dan sunnah,karena SEBAIK-BAIK PERKATAAN ADALAH FIRMAN ALLAH SAW, DAN SEBAIK-BAIK PETUNJUK ADALAH PETUNJUK RASULULLAH SAW.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Musik adalah seruling-serulingnya syetan. Dalam shahih al-Bukhari bahwa Rasulullah bersabda ;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Benar-benar akan ada diantara umatku yang akan menghalalkan perzinahan, sutera(bagi laki-laki), khamar, dan alat-alat musik.”(HR. al-Bukhari)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hadist ini menjadi dalil yang jelas akan haramnya alat-alat musik ;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">1. maka hadist tersebut adalah jelas alat-alat musik diharamkan didalam syariat,kemudian dihalalkan oleh orang-orang yang tidak mengerti ilmu agama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">2. Beliau SAW menggandengkan penyebutan alat-alat- musik dengan perkara yang diharamkan secara pasti(qath'i), yaitu zina, dan khamar. Seandainya musik tersebut tidak diharamkan maka tidak akan digandengkan bersama keduanya. maka sungguh benar Rasulullah SAW terhadap apa yang beliau sabdakan.   Zaman ini telah berputar, yang munkar  menjadi ma’ruf, dan ma’ruf menjadi munkar. Manusia telah menganggap baik apa yang diharamkan oleh Alla SWT dan Rasul-Nya dan mereka mengingkari orang-orang yang mencatatnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Wallahu A’lam</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sepuluh Wasiat Untuk Istri Yang Mendambakan Keluarga Bahagia Tanpa Problema]]></title>
<link>http://ashthy.wordpress.com/?p=266</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 13:50:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahmad</dc:creator>
<guid>http://ashthy.wordpress.com/?p=266</guid>
<description><![CDATA[


Penulis: Mazin bin Abdul Karim Al Farih
Berikut ini sepuluh wasiat untuk wanita, untuk istri, unt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://img01.picoodle.com/img/img01/7/2/6/f_bismillah1m_acd44ec.jpg" alt="" /></p>
<p align="justify">
<p align="justify">
<p align="justify"><em>Penulis: Mazin bin Abdul Karim Al Farih</em></p>
<p align="justify">Berikut ini sepuluh wasiat untuk wanita, untuk istri, untuk ibu rumah tangga dan ibunya anak-anak yang ingin menjadikan rumahnya sebagai pondok yang tenang dan tempat nan aman yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, ketenangan dan kelembutan.</p>
<p align="justify">Wahai wanita mukminah!</p>
<p align="justify">Sepuluh wasiat ini aku persembahkan untukmu, yang dengannya engkau membuat ridla Tuhanmu, engau dapat membahagiakan suamimu dan engkau dapat menjaga tahtamu.<!--more--></p>
<p align="justify"><strong>Wasiat Pertama: Takwa kepada Allah dan menjauhi maksiat</strong></p>
<p align="justify">Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah!!</p>
<p align="justify">Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah dan jangan engkau seperti Fulanah yang telah bermaksiat kepada Allah… Maka ia berkata dengan menyesal penuh tangis setelah dicerai oleh sang suami: “Ketaatan menyatukan kami dan maksiat menceraikan kami…”</p>
<p align="justify">Wahai hamba Allah… Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu dan menjaga untukmu suamimu dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan mencerai-beraikan keutuhannya.</p>
<p align="justify">Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata “Aku mohon ampun kepada Allah… itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku)…”</p>
<p align="justify">Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:</p>
<p align="justify">- Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar. Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat riya’ dan sum’ah.</p>
<p align="justify">- Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah berfirman:</p>
<p align="justify"><em>“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan).”</em> (<strong>Al Hujuraat</strong>: 11)</p>
<p align="justify">- Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p align="right">أَحَبُّ الْبِلادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهُمْ وَأَبْغَضَ الْبِلادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهُمْ</p>
<p align="justify"><em>“Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.”1</em></p>
<p align="justify">- Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pembantu dan pendidik-pendidik yang kafir.</p>
<p align="justify">- Meniru wanita-wanita kafir. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p align="right">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</p>
<p align="justify"><em>“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.”2</em></p>
<p align="justify">- Menyaksikan film-film porno dan mendengarkan nyanyian.</p>
<p align="justify">- Membaca majalah-majalah lawakan/humor.</p>
<p align="justify">- Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan mendesak.</p>
<p align="justify">- Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.3</p>
<p align="justify">- Bersahabat dengan wanita-wantia fajir dan fasik. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p align="right">الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ</p>
<p align="justify"><em>“Seseorang itu menurut agama temannya.”4</em></p>
<p align="justify">- Tabarruj (pamer kecantikan) dan sufur (membuka wajah)</p>
<p align="justify"><strong>Wasiat kedua: Berupaya mengenal dan memahami suami</strong></p>
<p align="justify">Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala). Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.</p>
<p align="justify">Berkata sang suami kepada temannya: “Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”</p>
<p align="justify">Maka berkata temannya dengan heran: “Bagaimana hal itu bisa terjadi.”</p>
<p align="justify">Berkata sang suami: “Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’ Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah… Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perk